Peran Indonesia dalam Perdamaian Dunia

Negara-negara di dunia pastinya saling membutuhkan satu sama lain. Oleh karena itu, untuk menjaga agar terjadi hubungan yang baik serta kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat, maka dibutuhkan adanya perdamaian. Sebagai salah satu negara di dunia, Indonesia juga berperan dalam menjaga kedamaian dunia. Nah, jadi sudahkah kamu mendengar mengenai peran Indonesia dalam perdamaian dunia?

Untuk mendapatkan materi lebih lanjut, ikuti penjelasan berikut ini ya.

Makna Hubungan Internasional

Berlangsungnya Konferensi Asia Afrika
Sumber: kniu.kemdikbud.go.id/?p=4152

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai bagaimana dinamika peran indonesia dalam perdamaian dunia. Dasar dari tanggung jawab ini diawali dengan adanya jalinan hubungan antar negara, yang disebut dengan hubungan internasional. Hubungan internasional secara umum memiliki arti hubungan yang bersifat global dengan meliputi segala hubungan yang melampaui batas-batas kenegaraan.

Baca juga: Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Makna hubungan internasional ini juga banyak disamakan dengan konsep hubungan luar negeri, politik luar negeri, serta politik internasional. Ketiga konsep tersebut memiliki makna, diantaranya:

  1. Hubungan Luar Negeri, merupakan hubungan yang dijalankan antara negara dengan pihak-pihak yang tunduk pada kedaulatan negara tersebut.
  2. Politik Luar Negeri, merupakan kebijakan suatu negara dalam menjalin hubungan dengan negara lainnya untuk mencapai tujuan dan kepentingan nasionalnya.
  3. Politik Internasional, merupakan suatru politik yang dilakukan antarnegara terkait kepentingan serta tindakan baik antar beberapa negara atau semuanya, serta interaksi antar negara ataupun organisasi internasional.

Pada dinamika peran Indonesia dalam perdamaian dunia, hubungan internasional ini memiliki arti penting dalam menjalankan suatu negara, untuk menjaga kelangsungan serta kedaulatannya maka dibutuhkan pengakuan dan dukungan dari negara yang lainnya. Berdasarkan (kemdikbud, 2017:127), hubungan internasional Indonesia ini diarahkan pada beberapa hal, diantaranya ialah:

  1. Pembentukan Negara Republik Indonesia sebagai negara kesatuan serta demokratis.
  2. Masyarakat yang adil dan makmur secara materia ataupun spiritual.
  3. Menjalin hubungan baik dengan negar-negara lain, terutama negara Asia-Afrika untuk menghapuskan kolonialisme dan imperialisme.
  4. Mempertahankan kemerdekaan serta keselamatan rakyat.
  5. Mendapatkan kebutuhan barang-barang yang tidak dapat dihasilkan di Indonesia untuk kesejahteraan rakyat.
  6. Meningkatkan perdamaian dunia internasional, untuk dapat membangun serta memperoleh syarat yang perlu dalam meningkatkan kemakmuran rakyat.
  7. Meningkatkan persaudaraan antar bangsa seperti yang terdapat dalam cita-cita pancasila.

Berdasarkan poin-poin tersebut jelas diketahui bahwa dalam menjalin hubungan internasional, sudah menjadi suatu keharusan Indonesia untuk ikut berperan serta dalam kedamaian dunia.

Peran Indonesia dalam Perdamaian Dunia

Perdamaian dimaknai sebagai suatu kondisi tidak ada atau berkurangnya suatu tindak kekerasan. Namun kekerasan banyak diartikan hanya dalam fisik saja, akan tetapi seharusnya pengertian perdamaian juga mengarah pada keadilan serta kemajuan. Sehingga, perdamaian kemudian diartikan sebagai tidak adanya kekerasan, kesenjangan, dan konflik antar negara di dunia (Morgenthau, 2010).

Perdamaian pun menjadi hal penting yang perlu dicapai untuk keseimbangan hubungan antar negara. Semua negara memiliki peran dalam keikutsertaannya masing-masing dalam menjaga kedamaian dunia, termasuk Indonesia. Berikut dinamika peran indonesia dalam perdamaian dunia, diantaranya:

Keikutsertaan dalam Pasukan Perdamaian PBB

Indonesia resmi menjadi bagian dari Dewan PBB pada tanggal 28 September 1950. Sebagai anggota, Indonesia mengirimkan pasukan Garuda dalam misi perdamaian PBB di setiap negara. Misi awal kontingen garuda ini dimulai pada tahun 1957 ke Mesir, dengan tujuan menjaga perbatasan Israel dan Mesir. Pada tahun 1960-1961, pasukan ini dikirim ke Kongo yang sedang mengalami perang saudara.

Selain itu misi juga dilakukan ke wilayah Timur Tengah seperti Palestina, Irak, serta Lebanon. Selain itu juga ikut dalam misi di Asia Filipina, Vietnam, Kamboja serta juga negara Eropa Timur.

Konferensi Asia Afrika (KAA)

Berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945  tidak serta merta mengakhiri konflik di dunia internasional. Masalah kembali muncul saat adanya dua blok kekuatan besar yang terbentuk, yaitu Blok Barat yang diwakili oleh Amerika Serikat dan Blok Timur oleh Uni Soviet. Keduanya berusaha menarik pendukung dari wilayah Asia dan Afrika, sehingga terciptanya permusuhan terselubung atau disebut dengan Perang Dingin.

Disisi lain, bangsa yang baru merdeka juga masih mengalami sisa masa penjajahan dan konflik-konflik lainnya, dan Dewan PBB juga belum bisa menyelesaikan permasalahan tersebut. Oleh karena itu muncul gagasan untuk diadakan Konferensi Asia-Afrika (KAA). Sehingga pada tahun 1954, Perdana Menteri Srilangka yaitu Sri John Kotewala mengirimkan undangan pada empat perdana menteri lainnya seperti India diwakilkan Jawaharlal Nehru, Indonesia oleh Ali Sastroamidjojo, Birma U Nu, dan Pakistan oleh Mohammed Ali.

Pertemuan tersebut diadakan pada tanggal 28 April – 2 Mei 1954, yang kemudian dikenal dengan Konferensi Kolombo. Sebagai wakil negara Indonensia, Ali Sastroamidjojo mengusulkan untuk diadakan pertemuan lebih lanjut antar negara di wilayah Asia-Afrika. Usulan itu kemudian disetujui. Untuk itulah Indonesia mulai melakukan pendekatan pada 18 negara dan meminta persetujuan, dan mereka menyambut baik ide tersebut serta setuju Indonesia sebagai tuan rumahnya.

Untuk mempersiapkan KAA diadakan Konferensi Bogor, dengan anggota dari konferensi kolombo sebelumnya. Diadakan pada 22-29 desember 1954, pertemuan ini menghasilkan keputusan, diantaranya:

  1. KAA di Bandung diselenggarakan pada tanggal 18-24 April 1955.
  2. Menetapkan tujuan dan negara-negara yang akan diundang.
  3. Hal yang akan menjadi pembahasan dalam KAA.
  4. Dukungan untuk Indonesia atas Irian Barat.

Dasasila Bandung

Undangan kemudian dikirim pada 25 negara, dan hanya 1 yang menolak yaitu Federasi Afrika Tengah karena masih dikuasai bekas penjajahnya. KAA dilaksanakan pada 18 April 1954 berlokasi di gedung Merdeka Bandung dengan peserta 29 negara, termasuk negara pengundang. Hasil dari konferensi ini dikenal dengan Dasasila Bandung, yaitu:

  1. Menghormati hak dasar manusia serta tujuan yang ada dalam Paiagam PBB.
  2. Menghormati integritas teritorial serta kedaulatan antar bangsa.
  3. Mengakui persamaan antar suku serta bangsa besar atau kecil.
  4. Tidak ikut campur dalam soal-soal dalam negeri dari negara lainnya.
  5. Menghormati hak dari setiap bangsa untuk melindungi dirinya baik itu sendirian ataupun kolektif, sesuai dengan yang tertera dalam piagam PBB.
  6. Tidak melakukan ancaman ataupun agresi pada integritas negara lain.
  7. Tidak melakukan tekanan kepada negara lainnya.
  8. Memajukan kerjasama guna kepentingan bersama.
  9. Menghormati hukum serta kewajiban internasional.
  10. Menyelesaikan perselisihan dengan damai, sesuai dengan piagam PBB.

Gerakan Non-Blok (GNB)

Merupakan gagasan yang dipelopori oleh negara ketiga dengan anggota lebih dari 100 negara. Gerakan ini menjalankan kebijakan untuk tidak memihak pada dua kekuatan besar, yaitu Blok Barat dan Timur yang saat itu sedang dalam perang dingin. anggota dari GNB ini kebanyakan ialah negara-negara yang baru mendapatkan kemerdekaannya serta wilayahnya berada di sekitar Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Dalam GNB ini mencakup 55 persen penduduk dan 2/3 dari anggota PBB. Gerakan ini dilatar belakangi terjadinya perang dingin antara Blok Barat dan Timur. Negara-negara dunia ketiga yang mayoritas baru mereka, dilihat sebagai kesempatan untuk menyebarkan pengaruhnya. Akibatnya banyak terjadi kekacauan, seperti timbulnya perang Korea, Perang Vietnam.

Kata Non-Blok sendiri dicetuskan oleh Perdana Menteri India yaitu Nehru, pada saat konferensi Kolombo. Pada pidotanya ia mencetuskan lima pilar yang dijadikan sebagai pedoman pembentukan relasi Sino-India, yang kemudian dijadikan sebagai prinsip GNB, yaitu:

  1. Saling menghormati integritas serta teritorial serta kedaulatan dari negara satu dengan lainnya.
  2. Perjanjian untun non-agresi.
  3. Tidak ikut campur urusan dalam negeri satu dengan lainnya.
  4. Adanya kesetaraan serta keuntungan bersama.
  5. Menjaga perdamaian.

Gerakan ini dipelopori oleh lima tokoh dunia yaitu Ir. Soekarno (presiden Indonesia), Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir), Kwame Nkrumah (Ghana), Josep Broz Tito (Yugoslavia), serta Pandit Jawaharlal Nehru (PM India). pertemuan GNB ini biasanya dilakukan setiap tiga tahun sekali, dan Indonesia sebagai pelopor juga pernah menjadi tuan rumah dalam pertemuan ini.

Pada masa-masa berikutnya, ternyata beberapa negara mulai ikut bergabung dengan blok, sehingga GNB mulai terpecah. Pada 1979, akhirnya gerakan ini benar-benar terpecah yaitu pada saat Uni Soviet melakukan invansi pada Afghanistan di tahun 1979.

Pembentukan ASEAN

Penandatanganan Deklarasi Bangkok
Sumber: setnas-asean.id/tentang-asean

Dibentuk dari hasil pertemuan di Bangkok pada 5-8 Agustus 1967 yang dilakukan oleh 5 perwakilan  negara, yaitu Indonesia (Adam Malik), Singapura (S. Rajaratman), Malaysia (Tun Abdul Razak), Thailand (Thanat Koman), serta Filipnina (Narcisco Ramos). Hingga pada 8 Agustus 1967 ditandatangani hasil pertemuan yaitu Deklarasi Bangkok untuk membentu Association of South East Asian Nations (ASEAN).

Tujuan pembentukan ASEAN diantaranya ialah:

  1. Mempercepat pertumbuhan ekonomi, memajukan sosial dan budaya di Asia Tenggara.
  2. Meningkatkan stabilisasi dan perdamaian regional di wilayah Asia Tenggara.
  3. Memajukan kerjasama serta saling membantu antar negara di bidang ekonomi, teknik ilmu pengetahuan, sosial, budaya, serta administrasi.
  4. Saling membantu dalam penyediaan bantuan seperti fasilitas latihan dan penelitian
  5. Memajukan studi mengenai masalah-masalah di Asia Tenggara.
  6. Kerja sama dalam bidang pertanian, indutsri, pengangkutan, komunikasi, perdagangan serta usaha dalam meningkatkan standar hidup rakyatnya.
  7. Memelihara serta meningkatkan kerja sama antara negara dengan organisasi regional serta internasional.

Sehingga melalui ASEAN ini diharapkan dapat tercipta perekonomian yang stabil, kemajuan dalam sosial budaya, begitupula dengan stabilitas keamanannya bisa terjaga dengan baik.

Nah, itu tadi beberapa peran Indonesia dalam perdamaian dunia. Melalui keikutsertaan negara-negara dalam organisasi internasional, diharapkan akan meningkatkan perdamaian di dunia, termasuk juga Indonesia.

Baca juga: Anggota BPUPKI

Jadi, apakah kamu mulai memahami bagaimana dinamika peran indonesia dalam perdamaian dunia? Semoga melalui materi ini kamu bisa mendapatkan pengetahuan baru ya. Jangan lupa untuk terus belajar!


Sumber:

Kemdikbud. 2017. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas XI. Jakarta: Kemdikbud

Morgenthau, H. 2010. Politik Antarbangsa: Terjemahan Maimone. Jakarta: Pustaka Obor Indonesia

Artikel Terbaru

Leni

Leni

Nama saya Leni Sagita, lulusan S1 Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Saya tertarik menulis dalam bidang pendidikan, khusunya bidang Sejarah, untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Semoga artikel yang saya buat nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya adik-adik yang sedang menimba ilmu supaya lebih bersemangat dalam belajar.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *