Pendudukan Jepang di Indonesia

Kita mengetahui ya bahwa Indonesia merupakan negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Oleh karena itu, banyak negara yang ingin menguasainya, termasuk yang berasal dari Asia. Salah satu negara di Asia yang berambisi untuk mengusai Indonesia adalah Jepang. Nah, untuk mengetahui mengenai Pendudukan Jepang di Indonesia, yuk simak materi berikut ini.

Latar Belakang Pendudukan Jepang di Indonesia

Kedatangan Tentara Jepang
Sumber: Buku Sejarah Indonesia Kelas XI

Jepang merupakan salah satu negara di Asia yang pernah menduduki Indonesia. Masa pendudukan Jepang di Indonesia ini terbilang singkat jika dibandingkan dengan negara Belanda, yaitu dari tahun 1942-1945. Masuknya Jepang ke Indonesia tidak terlepas dari perang yang dilakukan Jepang dengan negara barat yaitu Amerika Serikat. Sebagai negara timur, Jepang ingin membuktikan bahwa mereka bisa sejajar dengan negara barat. Dengan kerja keras dan strategi yang kuat, angkatan perang Jepang bisa mengebom pangkalan militer Amerika Serikat Pearl Harbour di Hawai. Serangan tersebut menjadi awal dari Perang Asia Pasifik.

Untuk mencukupi kebutuhan perang, maka Jepang membutuhkan sumber daya yang besar seperti minyak bumi, alumunium, timah, dan bahan mentah lainnya. Hingga akhirnya mereka memutuskan bahwa negara yang memiliki sumber daya tersebut adalah Hindia Belanda atau Indonesia. Pada waktu itu, Hindia Belanda masih dikuasai oleh Belanda, salah satu rekan Amerika Serikat. Sehingga secara tidak langsung Jepang juga ingin mengalahkan rekan dari Amerika. Dengan membebaskan negara di wilayah Asia dari kekuasaan bangsa barat, Jepang ingin membangun sebuah imperium. Ambisi itu dikenal dengan nama Hakko Ichi-u.

Baca juga: Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

Sehingga jika disimpulkan, beberapa alasan Jepang ingin menguasai Indonesia adalah:

  1. Untuk menunjang kebutuhan Perang Asia Pasifik
  2. Adanya bahan mentah yang berguna bagi pengembangan indsutri di Jepang
  3. Kebutuhan akan SDM dalam menunjang perang Asia Pasifik

Awal Kedatangan Jepang ke Indonesia

Pada 11 Januari 1942, tentara Jepang menyerbu Indonesia dengan mendarat dan menguasai Tarakan di Kalimantan Timur yang merupakan daerah pertambangan minyak. Menyusul wilayah yang ditaklukan Jepang selanjutnya yaitu Balikpapan (wilayah pertambangan minyak kedua), Pontianak, Samarinda, hingga akhirnya Palembang juga berhasil ditaklukan. Dengan didudukinya Palembang, maka wilayah Jawapun terbuka.

Untuk menguasai Asia Timur Raya, Jepang menggunakan strategi perang kilat. Pada Februari 1942 dibawah pimpinan Takahashi, Jepang menyerang ke pusat pemerintahan Belanda yaitu Jawa. Pendaratan Jepang di Jawa dilakukan di tiga tempat, yaitu di Teluk Banten, Pantai Eretan Wetan, dan Sragen Jawa Tengah. Pemilihan ketiga tempat tersebut dikarenakan perkiraan akan lemahnya penjagaan di wilayah tersebut dan benar akhirnya dengan mudah wilayah itu di kuasai Jepang.

Jepang dengan cepat menguasai wilayah Jawa. Pada 5 Maret 1942, Batavia berhasil jatuh ke tangan Jepang, dan nama kota tersebut diganti menjadi Jakarta (Kosoh, dkk, 1994:204). Selanjutnya Bogor juga berhasil dikuasai begitupula kota-kota Jawa lainnya. Hingga pada 8 Maret 1942 di Kalijati (Subang), akhirnya Jenderal Ter Poorten menandatangai persetujuan penyerahan Hindia Belanda pada Jepang tanpa syarat. Hal tersebut juga tidak terlepas dari kacaunya pemerintahan di Belanda yang berhasil dikalahkan oleh Jerman. Sehingga semua tentara yang ada di Hindia Belanda ditarik kembali ke Belanda.

Propaganda Jepang di Indonesia

Kedatangan jepang rupanya mendapat sambutan yang cukup hangat dari Bangsa Indonesia. hal itu dikarenakan mereka mengaku sebagai saudara Tua dari Indonesia. Rakyat menganggap datangnya Jepang sebagai pembebas dari penjajahan Bangsa Barat. Namun, pada tahun 1943 Jepang mulai terdesak oleh Amerika Serikat dengan seringnya serangan armada laut Jepang berhasil dipatahkan oleh Amerika (Engelen, dkk, 1997:34).

Sehingga, maka mereka membutuhkan dukungan dari rakyat Indonesia. Untuk itu Jepang melakukan berbagai propaganda untuk mendapatkan simpati dari rakyat. Dimulai dari diperbolehkannya pengibaran bendera merah putih, yang pada masa Belanda tidak diperbolehkan. Selain itu, lagu Indonesia raya juga mulai diputar di radio-radio, padahal pada masa Belanda lagu ini dilarang untuk diperdengarkan secara publik. Penggunaan Bahasa Indonesia juga mulai diberlakukan, dan bahasa Belanda dilarang untuk digunakan. Sehingga rakyat semakin percaya pada Jepang.

Untuk membantu sumber daya manusia dalam perang, Jepang mulai menarik para pemuda melalui pembentukan organisasi-organisasi di Indonesia, yaitu:

Gerakan Tiga A

Merupakan sebuah perkumpulan yang sengaja dibentuk Jepang dengan tiga semboyannya yaitu Jepang Pemimpin Asia, Jepang Cahaya Asia, dan Jepang Pelindung Asia. Didirikan pada 29 Maret 1942. Sebagai pemimpin Gerakan Tiga A, ditunjuk Mr. Syamsudin dibantu tokoh lainya. Namun, gerakan ini hanya bertahan beberapa bulan saja karena dinilai belum efektif dalam menggalang simpati rakyat.

PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat)

Merupakan organisasi yang didirikan pada 9 Maret 1943. Organisasi ini sengaja dibuat untuk menarik para kaum terpelajar yang telah berpengalaman dalam bidang pergerakan. Para tokoh tersebut ditunjuk menjadi pemimpin PUTERA, yang dikenal dengan sebutan Empat Serangkai (Ir. Soekarno, Moh. Hatta, K.H Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara).

Empat Serangkai
Sumber: Buku Sejarah Indonesia Kelas XI

Pembentukan PUTERA ini sebenarnya dimaksudkan untuk menarik para kaum terpelajar untuk mengabdi pada kepentingan militer Jepang serta memobilisasi rakyat melalui tokoh nasional. Sedangkan dari sisi kaum terpelajar, organisasi ini dimanfaatkan untuk menanamkan nasionalisme. Sehingga Jepang menyimpulkan bahwa PUTERA ini tidak memberikan keuntungan untuk mereka, dan justru lebih menguntungkan Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, PUTERA kemudian dibubarkan.

Seinandan

Merupakan organisasi semi-militer yang didirikan pada 2 Mei 1943. Tujuan didirikannya seinendan ini adalah untuk menghimpun para pemuda yang usianya 14-22 tahun untuk masuk ke dunia militer. Untuk menarik minat para pemuda, dikatakan bahwa gerakan ini adalah untuk menjaga dan mempertahankan tanah air. Namun untuk Jepang sendiri, gerakan ini sebenarnya disiapkan sebagai pasukan cadangan dalam perang Asia Pasifik untuk mengamankan garis belakang.

PETA (Pembela Tanah Air)

Para Tentara PETA
Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/muspres/indonesia-dalam-pendudukan-jepang-1942-1945/

Untuk mempertahankan Indonesia dari serangan sekutu, Jepang memutuskan untuk membentuk suatu pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Para anggota PETA ini dilatih secara militer dengan sistem yang terorganisir. Pembentukan PETA ini ternyata mendapat sambutan hangat dari para pemuda. Banyak mantan anggota dari Seinendan yang bergabung ke dalam PETA.

Berdasarkan (Kemdikbud, 2017:36), dalam PETA ini telah ada sistem kepangkatan sepertit Daidanco (Komandan Batalion), Cudanco (Komandan kompi), Budanco (Komandan regu), dan giyuhei (prajurit sukarela). Untuk mencapai tingkat perwira, maka harus melalui pendidikan khusus dan setelah pelatihan mereka akan ditempatkan di berbagai batalion.

Pasukan PETA ini sendiri sebenarnya dimaksudkan untuk dijadikan pasukan Gerilya jika sewaktu-waktu terjadi serangan. Tokoh-tokoh yang terkenal dalam PETA seperti Supriyadi dan Sudirman.

MIAI dan Masyumi

Selain menggalang simpati rakyat melalui organisasi kemiliteran, Jepang juga menggalang kekuatan dengan mendekati para ulama. Hal tersebut karena sebagian besar rakyat menganut agama islam. Sehingga dengan mendekati para ulama, Jepang berharap bisa menggalang kekuatan dari rakyat. Para ulama dan kyai yang memiliki pengaruh luas dalam masyarakat diberi pelatihan mengenai urusan kenegaraan. Setelah pelatihannya selesai, mereka akan ditempatkan di Shumumbu atau Departemen Agama, dan Shumuka atau kantor departemen agama di tingkat karesidenan.

Jepang juga memperbolehkan adanya organisasi keagamaan supaya lebih mudah untuk mengawasi jika mereka melakukan propaganda. Organisasi yang dizinkan yaitu MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang anti barat dan bisa diajak bekerja sama. Namun pada perkembanganya Jepang mulai tidak tertarik dengan MIAI karena dua organisasi kegamaan besar lainnya (Muhammadiyah dan NU) tidak ikut bergabung didalamnya. Sehingga pada 24 Oktober 1943, MIAI dibubarkan.

Sebagai pengganti MIAI dibentuk Masyumi yaitu Majelis Syuro Muslimin Indonesia pada 22 November 1943. Tujuan dari pendirian organisasi ini sama seperti MIAI yaitu untuk memobilisasi massa besar-besaran. Berbeda dengan MIAI, dalam organisasi Masyumi ini NU dan Muhammadiyah ikut bergabung. Sebagai ketua ditunjuk KH. Hasyim Asy’ari dari NU. Dengan berhasilnya Maysumi dalam memobilisasi rakyat, maka organisasi ini mendapat kepercayaan Jepang. Dengan kepercayaan itu, dimanfaatkan kaum nasionalis untuk mempersiapkan kekuatan yang nantinya digunakan untuk melawan Jepang.

Kebijakan Jepang di Indonesia

Pembentukan Pemerintahan Militer

Sejak dibebaskannya Indonesia dari Belanda, maka tugas utama Jepang ialah menghentikan revolusi masyarakat yang bisa mengancam penakluka mereka di Indonesia. Untuk itu jepang membentuk pemerintahan militer, diantaranya yaitu:

  1. Pemerintahan Militer Angakatan Darat sebagai Tentara keduapuluh-lima, meliputi wilayah Sumatera.
  2. Pemerintahan Militer Angkatan Darat sebagai Tentara keenambelas, meliputi wilayah Jawa-Madura.
  3. Tentara Militer Angakatan Laut Armada Selatan Kedua, meliputi wilayah Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku.

Susunan pemerintahan militer Jepang ini terdiri dari Ghunsireikan (Panglima Tentara) yang kemudian disebut Saiko Shikikan (Panglima Tertinggi), dan Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer).

Pembukaan Kembali Sekolah-Sekolah

Pada tanggal 29 Maret 1942, Jepang juga mulai membuka kembali sekolah-sekolah dengan bahasa melayu dan daerah sebagai bahasa pengantar serta beberapa perubahan lainnya.

  1. Jenjang Sekolah Dasar atau Sekolah Rakyat disebut dengan Kokumin Gakko. Dibuka untuk seluruh kalangan masyarakat dengan lama waktu pendidikan selama 6 tahun, yang dalam masa kini disebut dengan Sekolah Dasar (SD).
  2. Sekolah Lanjutan Pertama atau Shoto Chu Gakko yang dalam masa kini disebut dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP), dibuka untuk semua kalangan. Syarat untuk masuk sekolah ini adalah memiliki ijazah Sekolah Rakyat. Lama pendidikan sekolah dalah 3 tahun.
  3. Melanjutkan Shoto Chu Gakko, ialah Sekolah Menengah Tinggi atau Koto Chu Gakko. Selain itu bisa juga melanjutkan ke Sekolah Teknik atau Kagyo Semmon Gakko dan Sekolah Pelayaran Tinggi.
  4. Jika melanjutkan ke Perguruan Tinggi ada Sekolah Tinggi Kedokteran atau Ika Dai Gakko, Sekolah Teknik Tinggi (Kagyo Dai Gakko), Sekolah Tinggi Pangreh Raja, dan Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan.

Kebijakan Ekonomi Perang

Selama masa penjajahan Jepang, dalam bidang ekonomi mereka membuat suatu kebijakan yang disebut dengan Self help, dimana hasil ekonomi Indonesia ini akan dibuat untuk mencukupi kebutuhan Jepang. Pada awal pendudukannya perekonomian Indonesia mengalami kesulitan. Hal tersebut dikarenakan objek-objek vital perekonomian telah dihancurkan oleh Belanda. sehingga diadakan perbaikan dan pengawasan Ekonomi oleh Jepang.

Tanah-tanah perkebunan oleh Jepang juga diubah menjadi tanah pertanian sesuai dengan kebutuhan mereka, seperti padi, jarak, dan kina. Tanaman jarak dibutuhkan sebagai pelumas mesin, sedangkan kina untuk obat malaria. Penanaman tebu mulai dikurangi, bahkan banyak pabrik gula yang ditutup. Tanaman seperti tembakau, teh, dan kopi juga mulai dikurangi. Sehingga pada masa ini hasil perkebunan banyak berkurang.

Para petani diharuskan melaksanakan kebijakan “Wajib Serah Padi” yang memuat mengenai beberapa hal, yaitu:

  1. Tanaman padi berada langsung dibawah pengawasan pemerintahan. Produksi, penyaluran, pungutan, dan harga padi semua ditentukan oleh pemerintah Jepang. Untuk itu Jepang membentuk badan yang disebut Shokuryo Konri Zimusyo atau Kantor Pengelolaan Pangan.
  2. Penggilingan padi harus melalui Kantor Pengelolaan Pangan.
  3. Petani harus menjual padi sesuai dengan kuota dan harga yang telah diatur pemerintahan. Pembagiannya yaitu 40% untuk petani, 30% disetor ke pemerintah, dan sisanya dibawa ke lumbung desa untuk persiapan pembibitan.

Romusha

Tenaga Kerja Romusha
Sumber: http://idsejarah.net/2017/01/romusha-pada-masa-penjajahan-jepang.html

Untuk menopang Perang Asia Pasifik, Jepang mengerahkan tenaga kerja dari Indonesia yang dikenal dengan Romusha. Mereka dipekerjakan untuk membangun kubu pertahanan, jalan raya, lapangan udara, dan tempat terbuka lainnya. Romusha ini awalnya dilakukan secara sukarela tanpa gaji oleh masyarakat karena propaganda dari Jepang. Namun, karena desakan perang akhirnya Romusha ini diubah menjadi sebuah keharusan.

Tenaga kerja ini dipaksa bekerja dari pagi hingga petang tanpa makan. Oleh karena itu banyak tenaga kerja yang kemudian sakit dan mati karena kurangnya pelayanan kesehatan. Selain itu mereka juga mengalami kelelahan karena hanya bisa beristirahat malam hari saja. tenaga romusha ini tidak hanya dipekerjakan di Indonesia saja, dengan propaganda “Pejuang Ekonomi” atau “Pahlawan Pekerja” mereka dibawa hingga keluar negeri seperti Muangthai, Vietnam, Bhirma, dan lainnya.

Dampak Pendudukan Jepang di Indonesia

Bidang Politik

Dalam bidang politik ini Jepang telah melakukan banyak perubahan di Indonesia. Bahasa Belanda dilarang untuk digunakan dan diganti dengan bahasa Jepang. Mereka juga membentuk pemerintahan militer serta organisasi-organisasi yang tujuan utamanya adalah untuk dapat melakukan propaganda di Indonesia.

Jepang juga membuat struktur pemerintahan baru misalnya pembagian wilayah menjadi Desa (Ku), Kecamatan (Ko), Kawedanan (Gun), Kotapraja (Syi), Kabupaten (Ken), serta Karesidenan (Syu). Dampak dari kebijakan politik yang diambil Jepang ini tentunya juga memberi keuntungan bagi masyarakat. Nasionalisme semakin berkembang dengan munculnya organisasi-organisasi yang juga melakukan propaganda mengenai nasionalisme.

Bidang Sosial-Budaya

Untuk menyokong Perang Asia Pasifik, Jepang membutuhan tenaga kerja rakyat yang disebut dengan Romusha. Dalam propagandanya, para pekerja Romusha ini digambarkan sebagai pahlawan. Dengan banyaknya petani yang menjadi Tenaga kerja Romusha, maka bahan makanan mulai sulit didapatkan. Muncul pasar-pasar gelap, serta semakin banyaknya gelandangan di kota-kota.

Masyarakat diwajibkan melakukan pekerjaan yang berguna seperti membangun jalan raya, saluran air, dan lainnya. Untuk memobilisi massa agar efektif, maka dibentuklah Rukun Tetangga. Jepang juga sering bertindak sewenang-wenang, seperti menipu para gadis untuk disekolahkan namun justru dibawa untuk disekap di kamp mereka.

Bidang Ekonomi

Kebijakan Jepang untuk mengubah perkebunan menjadi pertanian, menjadikan rakyat mengalami kerugian. Padi yang menjadi komoditas utama juga diawasi dengan ketat. Penanaman tebu mulai dikurangi, sehingga banyak pabrik gula yang tutup. Hasil bumi yang dijual ke Jepang harganya juga sudah ditentukan, sehingga kehidupan rakyat semakin sengsara.

Bidang Pendidikan

Setelah dikuasai Jepang, sekolah-sekolah mulai dibuka kembali. Sistem sekolahnya hampir sama seperti yang ada saat ini yaitu dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, serta Perguruan Tinggi. Bedanya dengan Belanda, pada masa Jepang sekolah dibuka untuk semua kalangan. Hal ini juga merupakan bagian dari propaganda Jepang untuk menarik simpati rakyat.

Para pelajar diwajibkan untuk belajar bahasa, adat istiadat, dan lagu kebangsaan Jepang. Bahasa yang digunakan dalam pendidikannya sendiri menggunakan Bahasa Indonesia. para pelajar juga diajar mengenai latihan kemiliteran, dimana nantinya akan berguna dalam perjuangan kemerdekaan.

Segi Positif Pada Masa Pendudukan Jepang di Bidang Militer

Perkembangan militer di Indonesia mulai berkembang pada masa penjajahan Jepang. Pelatihan militer tersebut ditujukan untuk menyokong pasukan selama perang Asia Pasifik. Beberapa organisasi militer pada zaman pendudukan jepang diantaranya yaitu:

Heiho

Merupakan pasukan pembantu yang sengaja dibentuk untuk ditempatkan dalam seluruh unit baik angkatan darat maupun angkatan laut. Pemuda yang dimasukan dalam pasukan ini harus berumur 18-25 tahun. Tugas pasukan ini adalah untuk ikut menjaga kamp, membangun pertahanan, dan ikut dalam perang.

Pasukan Heiho dilatih untuk terampil dalam bidang militer, karena ikut langsung dalam perang. Walaupun tujuanya adalah untuk membantu perang Jepang, namun pembentukan pasukan Heiho ini sangat bermanfaat dalam perkembangan militer rakyat Indonesia. Melalui organisasi ini, rakyat dilatih untuk terampil dalam kemiliteran.

PETA atau Pasukan Pembela Tanah Air

Merupakan pasukan yang dibuat untuk mempertahankan Indonesia dari serangan sekutu. Walau telah memiliki Heiho, namun pasukan yang benar-benar menjaga dalam wilayah Indonesia belum ada. Sehingga dibuat organisasi PETA. Para pemuda yang masuk dalam organisasi ini dilatih ketrampilan militer.

Dalam organisasi ini telah dikenal sistem pangkat, mulai dari prajurit sukarela hingga komandan batalion. Dengan pembentukan PETA ini, Jepang telah memperkenalkan sistem pangkat dalam organisasi militer. Melalui organisasi ini nanti juga akan membantu dalam perlawanan terhadap Jepang dalam merebut kemerdekaan.

Seleksi Penerimaan Tentara PETA
Sumber: Buku Sejarah Indonesia Kelas XI

Jika disimpulkan, maka pembentukan organisasi militer oleh Jepang tidak hanya merugikan Indonesia. Namun juga memberi manfaat dalam ilmu kemiliteran.

Organisasi Masa Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang, banyak organisasi yang telah diciptakan. Alasan pembentukan itu sendiri adalah untuk melakukan propaganda pada rakyat Indonesia. Berikut beberapa organisasi pada zaman pendudukan Jepang.

Gerakan Tiga A

Didirikan pada 29 Maret 1942, dengan semboyannya yaitu Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia. Tujuan pembentukan gerakan ini adalah untuk memobilisasi massa supaya mau membantu Jepang dalam Perang Asia Pasifik. Namun, gerakan ini dianggap gagal, karena tidak mampu mendapatkan simpati rakyat. Sehingga gerakan ini dibubarkan.

Pusat Tenaga Rakyat / PUTERA

Organisasi ini didirikan dengan anggotanya ialah para tokoh-tokoh nasionalis. Hal itu dimaksudkan untuk dapat menarik simpati rakyat melalui tokoh nasional seperti Soekarno, M. hatta, dan lainnya. Dengan banyaknya tokoh nasional serta bergabungnya organisasi lainnya, maka PUTERA berkembang dengan pesat. Hal tersebut menumbuhkan rasa khawatir dipihak Jepang. Sehingga organisasi ini dibubarkan.

MIAI / Majelis Islam A’la Indonesia & Masyumi

Organisasi ini dibentuk Jepang untuk memobilisasi massa melalui para ulama dan kyai. Hal itu dikarenakan mayoritas rakyat Indonesia beragama islam. Namun, dalam perkembanganya masih belum memuaskan Jepang karena dua organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah belum masuk didalamnya. Sehingga organisasi ini dibubarkan, dan dibentuk organisasi baru yang dinamai Masyumi.

Organisasi Masyumi atau Majelis Syura Muslimin Indonesia ini berhasil memasukan organisasi islam lainnya. Sehingga bisa memobilisasi massa lebih besar dari sebelumnya.

Jawa Hokokai

Merupakan organisasi resmi pemerintah. Program dari organisasi Jawa Hokokai atau Himpunan Kebaktian Jawa adalah untuk melaksanakan tindakan untuk pemerintah Jepang, memimpin rakyat untuk mengembangkan tenaganya, dan memperkokoh bela tanah air. Namun, organisasi ini tidak berkembang di luar Jawa sehingga tidak begitu memuaskan Jepang.

Keibodan

Merupakan organisasi semi-militer dengan anggotanya adalah para pemuda yang usianya antara 25-35 tahun. Tujuan pembentukan keibodan adalah untuk membantu tugas polisi dalam mengamanakan desa. Untuk menjadi anggotanya, maka harus mengikuti pelatihan kepolisian selama kurang lebih satu bulan.

Barisan Pelopor

Dibentuk pada 1 November 1944 dengan tujuan menyadarkan rakyat untuk berkembang. Para pemuda yang ikut Barisan Pelopor diajarkan untuk berlatih militer walau dengan peralatan yang sederhana seperti senapan kayu dan bambu runcing. Organisasi ini berada dibawah naungan Jawa Hokokai dan anggotanya terdiri dari berbagai kalangan.

Bentuk Perlawanan Pada Jepang

Pada awal pendudukan Jepang di Indonesia, mereka disambut oleh rakyat sebagai saudara tuanya karena telah membebaskan dari jajahan Belanda. Namun, sikap Jepang mulai berubah kepada rakyat. Mereka mulai bersikap sewenang-wenang. Sehingga rakyat mulai memberontak.

Perlawanan di Aceh

Dipicu oleh kebijakan Romusha Jepang, rakyat Aceh mulai memberontak. Perlawanan ini dipimpin oleh Abdul Jalil yang merupakan ulama muda dan guru mengaji di wilayah Cot Plieng. Beliau berhasil menggerakan rakyat dan para santri untuk melawan Jepang. Sehingga ia diajak untuk berdamai dengen pemerintahan, namun ditolak. Oleh karena itu Jepang melakukan serangan di Cot Plieng. Dalam serangan tersebut Abdul Jalil berhasil dibunuh.

Perlawanan dilanjutkan oleh Abdul Hamid. Namun, serangannya terpaksa dihentikan karena Jepang menyandera seluruh keluarganya. Sehingga perlawanan di Aceh ini masih belum menghasilkan kemenangan.

Perlawanan di Singaparna

Penyebab perlawanan ini adalah Romusha serta sikap rakyat Singaparna yang anti dominasi asing. Perang ini terjadi pada Februari 1944 dibawah pimpinan Kiai Zainal Mustafa. Namun karena persenjataan dan pasukan yang lebih besar, maka perang berhasil dimenangkan oleh pihak Jepang. Hingga Kiai Zainal Mustafa ditangkap dan dihukum mati.

Perlawanan di Kalimantan

Penyebab dari perlawanan ini tidak jauh berbeda dengan perlawanan di daerah lainya, yaitu penindasan oleh Jepang. Perlawanan ini dipimpin oleh kepala suku Dayak yaitu Pang Suma. Dengan pasukan yang tidak begitu besar, Pang Suma menggunakan taktik perang Gerilya. Namun usahanya ini digagalkan, karena adanya mata-mata yang menyusup dikalangan rakyat.

Perlawanan di Indramayu

Kebijakan Ekonomi perang Jepang, dimana rakyat harus menyerahkan sebagian besar hasil panennya membuat rakyat menderita. Ditambah dengan kerja romusha, semakin membuat rakyat sengsara. Sehingga rakyat memberontak, bahkan muncul semboyan “lebih baik mati karena melawan Jepang, daripada mati kelaparan”.

Perlawanan ini terjadi pada tahun 1944 di beberapa desa. Namun lagi-lagi, karena persenjataan dan pasukan yang lebih besar Jepang kembali menggagalkan perlawanan tersebut.

Baca juga: Organisasi Pergerakan Nasional

Perlawanan PETA di Blitar

Seperti daerah lainnya yang melakukan perlawanan sebagai dampak pendudukan jepang di indonesia, Blitar juga melakukan perlawanan atas dasar yang sama yaitu penindasan. Perlawanan ini dilakukan oleh tentara PETA, yang merupakan salah satu organisasi pada zaman pendudukan Jepang. Pada tanggal 29 Februari 1945, dibawah pimpinan Supriyadi para tentara PETA ini berperang dengan Jepang. Namun karena persenjataan dan pasukan yang kurang, tentara PETA akhirnya terdesak. Beberapa pasukan PETA berhasil dibujuk untuk kembali ke induk pasukannya, namun mereka justru ditangkap dan diadili. Sedangkan sisanya tetap ikut berperang dengan membuat pertahanan di lereng Gunung Kawi.

Karena kegigihan pasukan Supriyadi, akhirnya Jepang membuat siasat dengan berpura-pura menyerah. Hingga para pasukan tersebut mau melakukan persetujuan dengan Jepang. Namun, mereka justru ditangkap dan diadili. Sehingga perlawanan tersebut akhirnya juga mengalami kegagalan.

Jika disimpulkan, pendudukan Jepang di Indonesia ini ternyata tidak hanya berdampak negatif saja, namun juga ada dampak positifnya. Penindasan yang dilakukan Jepang membuat rasa nasionalisme rakyat semakin menguat, serta adanya kesempatan untuk mengambil ilmu juga dimanfaatkan dengan baik oleh para tokoh nasionalis. Sehingga membawa rakyat semakin dekat dengan cita-cita kemerdekaannya.

Jadi bagaimana materi artikel kali ini? Apakah sudah cukup membantumu dalam mengetahui mengenai pendudukan Jepang di Indonesia?

Baca juga: Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Semoga artikel ini bermanfaat ya, jangan lupa untuk terus membaca dan selamat belajar!


Daftar Rujukan

Kosoh, S., Suwarno, & Syafei. 1994. Sejarah Daerah Jawa Barat. Jakarta: Depdikbud

O., E. Engelen, Loebis, A., B., Pattiasina, F., Ciptoprawiro, A., Joedodibroto, S., Oetarjo, & Siregar, I. 1997. Lahirnya Satu Bangsa dan Negara. Jakarta: UI-Press

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi). 2017. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Artikel Terbaru

Leni

Leni

Nama saya Leni Sagita, lulusan S1 Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Saya tertarik menulis dalam bidang pendidikan, khusunya bidang Sejarah, untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Semoga artikel yang saya buat nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya adik-adik yang sedang menimba ilmu supaya lebih bersemangat dalam belajar.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *