Pakaian Adat Sulawesi Tenggara Serta Penjelasannya

Berbicara masalah pakaian adat yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara, tentu tak bisa dipisahkan dari suku-suku yang tinggal di wilayah ini. Terdapat setidaknya 5 suku yang diketahui ada di Provinsi ini diantaranya adalah suku Tolaki, suku Buton, suku Muna, suku Moroneen, dan suku Wawonii. Namun, dari kelima suku tersebut, hanya tiga yang paling mendominasi yaitu suku Tolaki, Buton, dan Muna.

Nah, sebagai bentuk pengenalan terhadap pakaian adat Sulawesi Tenggara, akan ada ulasan mengenai pakaian adat dari 3 suku yang ada di Sulawesi Tenggara tersebut. Simak selengkapnya berikut ini.

Pakaian Adat Suku Tolaki

Di Sulawesi Tenggara, suku Tolaki terkenal sebagai suku atau etnis terbesar yang mendiami wilayah tersebut. Masyarakat suku Tolaki dikenal sebagai penduduk asli Kota Kendari dan Kabupaten Kolaka. Lalu, saat ini diketahui mendiami 7 kota atau kabupaten di Sulawesi Tenggara diantaranya Kota Kendari, Kabupaten Kolaka, Kolaka Timur, Kolaka Utara, Kabupaten Konawe, Konawe Utara, dan Konawe Selatan.

Sebagai suku yang terbesar, ternyata suku Tolaki pun bisa dibilang masuk jajaran suku tertua di Sulawesi Tenggara, bahkan diperkirakan peradaban suku ini sudah ada sejak 5000 tahun lalu. Dengan peradaban yang sudah cukup tua tersebut, tidak heran kalau kebudayaan yang ada di suku Tolaki pun mempunyai usia yang tidak muda.

Seperti halnya pakaian adat Sulawesi Tenggara dari suku Tolaki ini yang sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Dulunya, pakaian adat ini dipakai oleh kalangan bangsawan atau kalangan orang yang punya pengaruh. Namun, dengan berkembangnya zaman, penggunaan pakaian adat ini pun dapat dikenakan oleh masyarakat kalangan biasa. Bahkan, saat ini sudah bisa dipakai seperti dalam acara pernikahan.

Baca juga: 9 Alat Musik Sulawesi Tenggara

Nah, nama pakaian adat Sulawesi Tenggara dari suku Tolaki ada dua macam yaitu babu nggawi dan babu nggawi langgai. Kedua pakaian tersebut telah dijadikan sebagai ikon pakaian adat daerah Sulawesi Tenggara oleh pemerintah setempat. Potret kedua pakaian adat ini bisa kamu lihat lewat gambar pakaian adat Sulawesi Tenggara berikut.

Pakaian Adat Suku Tolaki
Sumber: celebes.co

Babu nggawi disebut sebagai nama pakaian adat Sulawesi Tenggara yang diperuntukkan bagi wanita. Pakaian ini terdiri dari dua komponen utama diantaranya lipa hinoru sebagai atasan dan roo mendaa sebagai bawahan. Lipa hinoru berupa blus, sedangkan roo mendaa berupa rok panjang yang punya warna senada dengan atasannya.

Panjang rok tersebut mencapai mata kaki dan dilengkapi dengan hiasan manik-manik emas di bagian depan. Pakaian ini dilengkapi dengan aksesoris berupa sulepe (ikat pinggang), andi andi (anting-anting), eno-eno (kalung), bolosu (gelang), solop (alas kaki/selop), tusuk konde, dan sanggul dengan hiasan bunga-bunga.

Sementara itu, babu nggawi langgai menjadi nama pakaian adat Sulawesi Tenggara dari suku Tolaki yang diperuntukkan bagi pria. Pakaian ini terdiri dari beberapa komponen yaitu babu ngginasamani (baju atasan yang diberi hiasan), saluaro mendoa (celana), sulepe (ikat pinggang dari logam), dan pabele (destar).

Pakaian Adat Suku Buton

Suku lainnya yang punya jumlah cukup banyak di Sulawesi Tenggara adalah suku Buton. Setidaknya 26% dari masyarakat Sulawesi Tenggara merupakan masyarakat asli suku Buton. Di Sulawesi Tenggara, masyarakat suku Buton bisa ditemukan di wilayah Kepulauan Buton. Selain di Sulawesi Tenggara, suku ini ternyata bisa kamu temukan di wilayah lain yaitu Kalimantan Timur, Maluku Utara, Maluku, hingga Papua.

Pakaian adat yang dimiliki oleh suku Buton sendiri ternyata bukan hanya satu jenis, melainkan ada 7 macam pakaian adat dari suku Buton dan akan dijelaskan di bawah ini.

Baju Kambowa

Pakaian Adat Suku Buton Baju Kambowa
Sumber: budaya-indonesia.org

Baju kambowa merupakan nama pakaian adat Sulawesi Tenggara dari suku Buton yang dipakai untuk wanita. Pakaian ini punya bentuk ponco tanpa kerah. Pada masa dulu, baju kambowa dikenakan baik untuk kegiatan sehari-hari atau untuk upacara adat.

Jika kaum bangsawan yang menggunakan baju kambowa ini, maka mereka akan memadukannya dengan sarung tiga lapis seperti pada gambar yang tertera diatas. Sedangkan, bagi kalangan biasa, sarung yang dipakai hanya terdiri dari satu lapis saja.

Baju Kombo

Baju kombo juga menjadi pakaian adat suku Buton yang diperuntukkan bagi wanita. Pakaian ini termasuk pakaian kebesaran wanita Buton berbahan satin dengan hiasan manik-manik emas, perak, ataupun kuningan. Warna putih pada baju kombo melambangkan kesucian wanita Buton. Lalu, untuk bawahannya berupa sarung besar yang dinamai bia ogena.

Baju Kaboroko

Baju satu ini juga masih diperuntukkan untuk wanita yang mana berupa pakaian berkerah dengan 4 buah kancing logam di leher, serta 7 kancing di bagian lengan baju. Baju kabaroko dipadukan dengan bawahan bia-bia itanu atau sarung 2 lapis dengan lapisan dalam berwarna putih dan lapisan luar berwarna hitam.

Pakeana Syara

Nama pakaian adat Sulawesi Tenggara satu ini merujuk pada pakaian perangkat adat agama Masjid Agung Keraton Buton. Bentuk dari pakeana syara adalah jubah panjang yang diberi motif tenun tradisional khas Buton. Motif tersebut biasanya berupa garis-garis yang menyimbolkan kepatuhan akan hukum adat yang berlaku.

Pakaian Ajo Tandaki

Untuk pakaian ajo tandaki ini, lebih dikhususkan bagi anak laki-laki yang akan sunat atau pria yang akan menikah. Komponennya terdiri dari bia ibeloki atau kain besar warna hitam yang dililitkan dengan di seluruh badan. Untuk aksesorisnya dikenakan tandoki atau mahkota, ikat pinggang yang diukir dengan kalimat tauhid, dan keris.

Pakaian Ajo Bantea

Pakaian berikutnya dari suku Buton ini diperuntukkan bagi anak laki-laki bangsawan yang belum mempunyai jabatan khusus di pemerintahan Kesultanan Buton. Komponen utama dari pakaian ajo bantea hanya terdiri dari sala arabu atau celana panjang. Sebagai pelengkap, dikenakanlah kampurui bewe patawala/kampurui tumpa/kampurui palangi dan dikenakan bersamaan dengan lepi-lepi, keris, dan sarung bia ogena/samasili kumbaea/bia ibeloki.

Pakaian Balahadada

Pakaian balahadada adalah pakaian adat kebesaran Buton bagi kaum pria baik itu kalangan bangsawan maupun bukan. Warna dasar dari pakaian ini merupakan warna hitam. Pemilihan warna tersebut mempunyai lambang akan keterbukaan para pejabat dengan segala urusan yang berkenaan dengan rakyatnya. Pakaian balahadada punya beberapa komponen yang berupa baju, celana, sarung, bio ogena, ikat pinggang, keris, dan destar.

Pakaian Adat Suku Muna

Pakaian Adat Suku Muna
Sumber: ayokemuna.wordpress.com

Setelah mengenal macam-macam pakaian adat Sulawesi Tenggara dari suku Tolaki dan suku Buton, berikutnya ada suku Muna yang termasuk salah satu suku yang mendominasi Sulawesi Tenggara. Terdapat sekitar 19% masyarakat Sulawesi Tenggara yang berasal dari suku Muna. Persis dengan nama suku ini, wilayah yang mereka tinggali merupakan Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Mengenai pakaian adatnya, seperti halnya suku-suku lain, pakaian adat suku Muna juga dibagi menjadi dua yaitu untuk pria dan wanita. Para pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari bhadu atau baju lengan pendek dengan warna putih, sala atau celana, bheta atau sarung, kampurui atau ikat kepala, dan songko atau kopiah. Semua komponen tersebut bisa dilihat dari gambar pakaian adat Sulawesi Tenggara di atas.

Lalu, untuk pakaian wanita juga baju berwarna merah dengan lengan panjang ataupun lengan pendek. Baju lengan pendek yang dipakai wanita tersebut dijuluki dengan kuta kutango yang diberi hiasan kuning berwarna emas. Sebagai bawahannya, wanita suku Muna memakai sarung yang berwarna gelap seperti coklat atau hitam dengan corak garis-garis.

Sebenarnya, bagian bawahan dari pakaian adat suku Muna untuk wanita terdiri dari 3 lapis. Lapisan pertama yaitu rok atau sarung warna putih. Lapisan kedua berupa sarung lagi, namun dipakai untuk membalut baju atasan. Kemudian, lapisan ketiga berupa sarung yang dilitkan di bagian dada dan diapit oleh ketiak.

Baca juga: 13 Suku di Pulau Sulawesi Serta Penjelasannya

Jadi, itu tadi pakaian adat Sulawesi Tenggara dari suku Tolaki hingga suku Muna. Pakaian tersebut begitu khas dan mencirikan Sulawesi Tenggara. Dengan terus memakai pakaian adat tersebut dalam acara adat ataupun acara pernikahan, akan menjadikan pakaian tersebut tidak punah ditelan oleh zaman yang semakin berkembang.

Artikel Terbaru

Wasila

Wasila

Lulusan Sastra Inggris, UIN Sunan Ampel Surabaya yang saat ini berkecimpung di dunia penerjemahan. Disela-sela kesibukan menerjemah, juga menulis artikel dengan berbagai topik terutama berhubungan dengan kebudayaan.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *