15 Pakaian Adat Jawa Timur Serta Penjelasannya

Jawa Timur, salah satu dari 6 provinsi di Pulau Jawa yang memiliki wilayah terluas menyimpan kekhasan daerah yang unik dan menarik. Di provinsi yang berada di bagian timur Pulau Jawa ini, dihuni oleh masyarakat yang sangat plural.

Ada berbagai etnis yang tinggal di provinsi ini. Mulai Jawa yang merupakan penduduk mayoritas, Madura yang mendiami Pulau Madura, Tionghoa yang tersebar di seluruh daerah, Pandalungan di wilayah Tapal Kuda, Osing di Banyuwangi hingga Tengger di kaki Gunung Bromo.

Oleh karena keragaman penduduknya, masyarakat Jawa Timur cenderung lebih sering menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Indonesia hanya digunakan untuk kepentingan acara-acara resmi atau komunikasi lintas etnis. Uniknya, meskipun Bahasa Jawa adalah bahasa yang paling banyak digunakan, tetapi setiap daerah di Jawa Timur memiliki aksen atau logat Jawa yang berbeda-beda.

Misalnya, dua kawasan kebudayaan besar di Jawa Timur, yaitu tlatah Mataraman dan Arek. Meskipun keduanya menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari, tetapi logat Jawa yang digunakan berbeda.

Kawasan Mataraman yang meliputi daerah-daerah barat di Jawa Timur menggunakan Bahasa Jawa dengan logat yang halus sebagai bagian dari pengaruh Kerajaan Mataram. Sehingga, tipikal masyarakatnya cenderung lebih mirip masyarakat di Yogyakarta dan Surakarta. Termasuk penggunaan Bahasa Jawanya. Sedangkan Kawasan Arek yang terpusat di Surabaya dan Malang memiliki karakteristik bondo nekat, semangat juang tinggi, terbuka dan mudah beradaptasi. Penggunaan Bahasa Jawa di wilayah ini cenderung dianggap berlogat kasar.

Berdasarkan agama yang dianut pun, Jawa Timur meskipun mayoritas dihuni oleh masyarakat yang menganut agama Islam, namun tidak sedikit masyarakat yang menganut agama minoritas lain. Seperti, agama Kristen yang sebagian besar dianut oleh masyarakat Tionghoa-Indonesia dan agama Hindu yang dianut oleh Suku Tengger di Gunung Bromo dan masyarakat yang tinggal di daerah ujung timur yang berbatasan dengan Bali.

Fakta-fakta itu menunjukkan bahwa tak mengherankan jika Jawa Timur kaya akan keragaman budaya. Mulai bahasa, kesenian, upacara adat, nilai-nilai kearifan lokal hingga hal-hal yang sarat akan simbol dan nilai filosofis seperti pakaian adat.

Sudah penasaran apa saja ragam pakaian adat Jawa Timur? Mari kita ulas bersama-sama berikut dengan gambar pakaian adat Jawa Timur agar kamu punya gambaran jelas seperti apa rupa dan bentuknya.

Pakaian Adat Jawa Timur dari Tlatah Madura Pulau

Madura tidak hanya dikenal karena penduduknya yang suka merantau dan menjadi penjual sate Madura saja. Melainkan, Madura juga dikenal kaya akan budaya daerah. Salah satunya adalah pakaian adatnya. Penduduk Madura sangat menjaga dan melestarikan budaya lokalnya, sehingga masyarakatnya dikenal kental dengan kebudayaan lokal.

Mereka sering kali menghelat acara pagelaran budaya. Karapan Sapi misalnya, yang selalu digelar setiap tahunnya. Masyarakat Madura memiliki banyak momentum kedaerahan yang membuat mereka sering mengenakan pakaian adatnya. Apa sajakah pakaian adat dari Tlatah Madura? Berikut ulasannya.

Baca juga: 5 Rumah Adat Jawa Timur Serta Penjelasannya

Pesa’an Madura

Pakaian Adat Jawa Timur, Pesa'an Madura
Sumber: Instagram @ocaedi

Baju Pesaan yang berasal dari budaya Suku Madura ini dikenal sebagai ikon yang mewakili kebudayaan Jawa Timur di kancah Nasional. Sebab, pakaian adat ini sangat khas alias berbeda dengan pakaian adat dari provinsi lain serta modelnya mudah diingat.

Pada dasarnya, Pesa’an merupakan pakaian sehari-hari yang digunakan oleh laki-laki Suku Madura. Baju ini digunakan untuk berbagai keperluan seperti bertani, meladang, melaut, juga untuk upacara adat dan keagamaan.

Ciri khas Baju Pesa’an adalah model bajunya yang didesain serba longgar. Baju Pesaan terdiri atas 3 komponen. Komponen pertama adalah kaos bermotif belang berwarna merah dan putih yang disebut dengan Sakera sebagai baju lapisan dalam. Kemudian bawahannya berupa celana komprang berwarna hitam yang sering disebut dengan celana gomboran karena ukurannya yang besar dan longgar. Celana ini panjangnya hanya tiga perempat, di antara lutut hingga mata kaki.

Serta, sebagai lapisan luar atasannya ada baju berwarna hitam yang juga besar dan longgar untuk melapisi baju dalam. Dalam penggunaannya, baju luaran ini dibiarkan terbuka, tanpa kancing baju agar baju lapis dalamnya terlihat. Ada yang menyebutkan bahwa pakaian atasan berwarna hitam itulah yang disebut dengan pesa’an.

Meskipun disebutkan bahwa pakaian ini digunakan oleh masyarakat biasa untuk keperluan sehari-hari, tetapi ternyata Pesa’an juga digunakan oleh para bangsawan Suku Madura. Hanya saja, dalam penggunaannya terdapat beberapa tambahan komponen. Seperti jas tutup polos, kain panjang dan odheng khusus yang menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang.

Sebagai pelengkap, ada ikat atau penutup kepala yang disebut dengan odheng khas Madura. Juga, dengan lilitan sabuk katemang serta dengan membawa sarung bermotif kotak-kotak atau kain samper kembeng atau kain panjang, dan senjata tradisional khas Madura yaitu celurit.

Menurut catatan sejarah, sebenarnya baju Pesa’an tidak hanya berwarna hitam seperti yang kita kenal sekarang. Melainkan, ada yang berwarna putih. Tetapi, seiring berjalannya waktu, pesa’an berwarna putih cenderung dipakai oleh guru agama yang disebut dengan molang. Sehingga, yang cenderung dianggap khas baju Pesa’an adalah baju berwarna hitam yang lebih sering digunakan oleh masyarakat umum.

Kebaya Rancongan

Kebaya Rancongan Khas Madura
Sumber: Instagram @Iaznurmalita

Kebaya, sebagai pakaian adat tidak hanya dimiliki oleh Jawa Tengah, Jawa Barat dan Yogyakarta. Jawa Timur juga memiliki kebaya rancongan yang berasal dari Tlatah Madura Pulau. Jika Pesa’an adalah pakaian adat yang digunakan oleh laki-laki Suku Madura, maka kebaya Rancongan digunakan oleh para perempuannya.

Kebaya Rancongan disebut juga dengan Kebaya Marlena. Kebaya jenis ini tidak menggunakan kutu baru atau kain persegi yang menyatukan antara sisi kiri dan kanan kebaya pada umumnya. Kebaya Rancongan memiliki desain yang sederhana. Terbuat dari bahan kain tipis atau brokat menjadikannya sebagai pakaian yang dengan mudah mengikuti bentuk tubuh perempuan yang memakainya.

Ciri khas dari kebaya ini adalah perpaduan antara pakaian dalaman dengan kebaya luarannya menggunakan warna yang mencolok dan kontras. Misalnya, kebaya berwarna merah dipadukan dengan dalaman berwarna hijau. Meski terdengar aneh, tetapi perpaduan ini justru dianggap sebagai perpaduan yang berani dan unik.

Untuk bawahannya, biasanya Kebaya Rancongan akan dipadukan dengan sarung atau rok batik bermotif khas. Seperti, motif asem, storjan atau tabiruan. Selain itu, dalam pemakaiannya juga dikombinasikan dengan stagen Jawa atau disebut dengan odhet sepanjang 1,5 meter dan lebar 15 cm yang dililitkan di bagian pinggang. Biasanya, kebaya ini juga dipakai dengan aksesoris tambahan berupa sisir cucuk emas yang digunakan di gelungan rambut. Berikut rinciannya:

  1. Cucuk dinar dan cucuk sisir berupa hiasan rambut berbentuk seperti busur yang terbuat dari logam emas dan dihiasi rantaian untaian kepingan uang.
  2. Leng oleng yaitu penutup kepala yang terbuat dari kain tebal.
  3. Shentar Penthol atau anteng yaitu anting emas yang dikenakan di telinga.
  4. Kalung bondong, yaitu kalung emas dengan untaian berbentuk biji jagung dan liontin berbentuk bunga matahari dan uang logam.
  5. Cincin dan gelang emas bermotif tebu saeres atau keratan tebu.
  6. Penggel yang merupakan hiasan pada pergelangan kaki, dan terbuat dari perak atau emas.
  7. Selop tutup sebagai alas kaki.

Pakaian adat dari Madura ini mengandung nilai filosofis bahwa para perempuan di Suku Madura sangat menjunjung tinggi kecantikan dan keindahan estetika. Dengan ciri khas pakaian berwarna cerah seperti merah dan kuning, menyimbolkan bahwa perempuan Suku Madura berkarakter tegas, berterus terang, bersikap terbuka, dan berani dalam menyampaikan pendapatnya kepada orang lain.

Kebaya Rancongan sering kali digunakan oleh para perempuan di Madura untuk menghadiri acara-acara kedaerahan, peringatan hari-hari besar seperti kemerdekaan dan Hari Kartini, atau juga pada acara seremonial seperti wisuda dari sekolah.

Kebaya merupakan salah satu pakaian adat Jawa Timur modern yang berhasil dikreasikan secara kreatif oleh anak-anak muda. Sehingga, penggunaan kebaya tidak lagi bernuansa kuno dan ketinggalan jaman.

Sebaliknya, penggunaan kebaya dewasa ini telah berhasil menemukan kemasan yang kekinian. Tentu dengan tidak meninggalkan pakem atau ciri khusus yang tidak boleh diubah. Meskipun demikian, desain kebaya modern tidak membuat para perempuan yang menggunakannya menjadi kehilangan nuansa keanggunan khas budaya tradisionalnya.

Baju Sakera

Baju Sakera Pakaian Adat Madura
Sumber: Instagram @didi_achmadi

Baju Sakera merupakan pakaian sederhana berupa kaos berlengan pendek dengan motif belang berwarna putih dan merah. Baju ini digunakan sebagai pakaian yang berada pada lapisan dalam baju Pesa’an. Seperti halnya Pesa’an, Baju Sakera juga dipadukan dengan celana gomboran dan odheng khas Madura.

Meskipun desainnya sederhana, tetapi Baju Sakera memiliki nilai filosofis yang tinggi. Warna hitam dari celana gomboran mencitrakan kegagahan dan melambangkan sikap pantang menyerah yang merupakan karakteristik masyarakat Madura. Nah, untuk bajunya yang serba longgar ini melambangkan keterbukaan dan kebebasan orang Madura. Dan desainnya yang sederhana adalah lambang dari kesederhanaan dalam hidup. Serta, motif garis-garis berwarna merah dan putih mengandung makna bahwa orang Madura memiliki watak tegas dan semangat juang yang tinggi dalam menghadapi segala hal.

Dalam sebuah baju yang sederhana saja ternyata banyak kandungan nilai filosofis ya. Memang sekaya itu budaya di Nusantara, khususnya Jawa Timur dengan Suku Maduranya.

Odheng Santapan dan Odheng Tapoghan

Odheng Santapan dan Odheng Tapoghan
Sumber: cakraningratshipmodel.com

Odheng atau udeng dalam Bahasa Jawa merupakan ikat kepala yang sering kali digunakan bersama dengan pakaian adat tertentu. Dalam budaya orang Madura, berdasarkan bentuknya, dikenal dua jenis odheng yaitu odheng peredhan yang berukuran besar dan odheng tongkosan yang berukuran lebih kecil.

Terdapat kandungan filosofis pada dua bentuk odheng ini. Pada odheng peredhan, ujung simpul di bagian belakang berbentuk pilinan tegak lurus ke atas. Hal ini melambangkan huruf alif (huruf pertama dalam aksara Hijaiyah). Begitu pula pada odheng tongkosan, simpul di bagian belakangnya berbentuk menyerupai huruf lam alif. Kedua simbol itu menunjukkan bahwa masyarakat Madura merupakan penganut Islam yang taat.

Sedangkan menurut motifnya, odheng khas Madura juga memiliki motif tersendiri. Seperti, motif Jingga atau garik, modang, storjan, dul-cendul, dan toh biru atau bere’ songay.

Selain itu, masyarakat Madura juga mengenal dua jenis odheng secara umum, yaitu odheng santapan dan odheng tapoghan. Odheng santapan merupakan ikat kepala dengan bahan kain batik yang memiliki motif Telaga Biru, Bunga, atau Storjan Lidah Api. Adapun bentuknya, Odheng santapan ini berbentuk segitiga dengan warna dominan merah soga.

Sedangkan odheng tapoghan juga merupakan ikat kepala dari kain batik. Namun bedanya, odheng tapoghan terbuat dari kain batik biasa dengan motif lidah api atau bunga. Juga berbentuk segitiga dan berwarna dominan merah soga. Tetapi, bagian atas kepalanya terbuka. Tidak seperti odheng santapan yang bagian atas kepalanya tertutup.

Selain jenis dan karakteristiknya, ternyata penggunaan odheng pada orang tua dan anak muda berbeda lho. Penggunaan odheng pada orang tua, ujung kain odheng-nya biasanya dipilin. Sedangkan pada anak muda, ujung ikat kepalanya dibiarkan tetap terbuka.

Baca juga: 6 Senjata Tradisional Jawa Timur

Pakaian Adat Jawa Timur dari Tlatah Jawa Panoragan

Kabupaten Ponorogo merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang terkenal akan kesenian daerahnya. Salah satu yang paling dikenal dari Ponorogo tentu saja kesenian Reog Ponorogonya. Kalau kesenian daerahnya amat populer, bagaimana dengan pakaian adatnya? Mari kita ulas bersama.

Penadon Warok Ponorogo

Pakaian Adat Jawa Timur Penadon Warok Ponorogo
Sumber: Instagram @seni_tradisional

Dengan populernya kesenian Reog, tak heran jika pakaiannya pun menjadi populer juga. Dalam kesenian Reog, terdapat tokoh yang bernama Warok dan diperankan oleh laki-laki. Nah, penadon merupakan pakaian yang dipakai oleh tokoh ini.

Penadon kini telah menjadi pakaian tradisional Jawa Timur yang berasal dari Ponorogo. Adapun pakaiannya menyerupai baju pesa’an dari Madura. Sebab, dahulu berdasarkan sejarah disebutkan bahwa Arya Panoleh, penguasa Sumenep berkunjung ke Ponorogo untuk menemui kakaknya yang merupakan penguasa Ponorogo. Dalam kunjungan inilah terjadi pertukaran budaya, yaitu ketika rombongan Arya Panoleh disambut dengan persembahan reog yang dilakukan oleh orang-orang berpakaian hitam.

Lantas, apa perbedaan antara pesa’an di Madura dan penadon di Ponorogo?

  1. Ikat kepala pesa’an bernama odheng yang dibuat dengan kain batik berwarna merah khas Madura dan dalam penggunaannya, rambut masih terlihat. Sedangkan di Ponorogo, ikat kepala bernama udeng yang terbuat dari kain berwarna hitam dan bermotif melati gandheng.
  2. Baju atasan di Madura bernama pesa’an yang terbuat dari kain tipis, mirip pangsi Sunda dan Betawi. Sedangkan baju atasan khas Ponorogo bernama penadon yang terbuat dari kain tebal dan meskipun juga berwarna hitam, tetapi ada ciri khas berupa kain warna merah di bagian dalam baju. Tepatnya di balik sisi kancing baju, yang dapat terlihat dari luar karena dalam penggunaannya, penadon juga dibiarkan terbuka sehingga terlihat pakaian dalamnya. Selain itu, pada penadon, di bagian punggungnya terdapat lipatan kain (seperti halnya seragam bela diri). Juga, kain depan dan belakangnya tidak saling terhubung, tetapi terdapat kain tambahan yang akan membuat penggunanya terlihat lebih ramping jika dikancingkan.
  3. Pada pesa’an, kaos dalamannya disebut loreng dengan paduan warna hitam putih atau merah putih. Sedangkan di Ponorogo disebut lorek, dengan tiga macam paduan warna, yaitu hitam putih, merah putih, dan merah hitam. Serta, terdapat pula gambar kesenian reog di bagian dadanya.
  4. Sabuk sebagai ikat pinggang di Madura bernama sabuk haji dengan warna hijau dan terbuat dari kain. Sabuk ini juga dipakai oleh pendekar di Sunda dan Betawi. Sedangkan di Ponorogo, sabuk yang digunakan bernama sabuk othok. Sabuk ini terbuat dari kulit hewan dan berwarna hitam.
  5. Celana sebagai bawahan di Madura bernama komboran dengan panjang setidaknya sepertiga atau lebih panjang. Sedangkan di Ponorogo, celananya bernama kombor, dengan ciri cenderung lebih longgar, berwarna hitam dan di dalamnya terdapat garis berwarna merah. Garis tersebut akan terlihat jika celananya digulung.
  6. Penadon di Ponorogo masih menggunakan tali kolor besar dan berwarna putih yang tak lain adalah senjata andalan sang Warok. Penggunaannya disematkan di bagian ikat pinggang atau sabuknya. Sedangkan di Madura tidak menggunakan tali kolor ini. .
  7. Sebagai bonus, juga ada perbedaan antara batik di Madura dan Ponorogo. Batik Madura menggunakan motif jawa parang atau bunga yang berwarna merah. Sedangkan Batik Ponorogo cenderung lebih banyak menggunakan warna hitam. Oleh karenanya disebut batik

Celana Kombor

Celana Kombor Khas Ponorogo
Sumber: Instagram @lotusapparel

Seperti sedikit dijelaskan di atas, celana kombor merupakan setelan bawahan dari baju penadon warok. Celana ini dibuat longgar, lebih longgar daripada celana komboran dari Madura. Pada bagian pinggang, ujungnya menjuntai, juga terdapat kolor yang terbuat dari bahan lawe. Di bagian dalam kain juga terdapat garis berwarna merah yang menjadikannya khas Ponorogo dan membedakannya dari celana jenis serupa. Dan yang lebih menjadi ciri utama tentu saja penggunaan sabuk othok, sabuk yang terbuat dari kulit hewan, disertai dengan tali kolor besar berwarna putih yang dililitkan di sisi depan sabuknya.

Udeng Khas Ponorogo

Udeng Khas Ponorogo
Sumber: Instagram @panjimasagamp

Ikat kepala yang merupakan pelengkap pakaian adat di Ponorogo disebut udeng wulung atau udeng warok. Udeng ulung atau warok ini merupakan salah satu komponen wajib pakaian warok, tokoh dalam kesenian reog Ponorogo yang merupakan tokoh yang memiliki kesaktian kanuragan dan dihormati oleh masyarakat.

Udeng wulung atau warok berbeda dengan ikat kepala dari daerah lain. Ciri khasnya antara lain, udeng khas Ponorogo didominasi warna hitam (wulung) dengan hiasan batik warna putih di tepiannya. Menurut filosofis Jawa, warna hitam berartti keteguhan. Sedangkan warna putih pada motif batik bermakna kesucian budi pekerti dan ilmu.

Udeng berasal dari kata mudheng dalam Bahasa Jawa, yang berarti mengerti atau paham dengan jelas. Maksudnya, manusia memiliki pemikiran yang teguh dan mampu memahami tujuan hidup dan kehidupan atau, dalam Bahasa Jawa disebut dalam peribahasa sangka paraning dumadi.

Pakaian Adat Jawa Timur dari Tlatah Mataraman

Tlatah atau kawasan kebudayaan Mataraman di Jawa Timur yang dahulu mendapatkan pengaruh besar dari kebudayaan Kerajaan Mataram di Jawa Tengah terdiri atas 12 daerah. Meliputi Kabupaten Ngawi, Kabupaten Magetan, Kabupaten dan Kota Madiun, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten dan Kota Kediri, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten dan Kota Blitar, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro.

Seperti apa koleksi pakaian adat di kawasan kebudayaan Mataraman ini? Berikut ulasannya.

Baju Adat Khas Pacitan

Baju Lurik Khas Pacitan
Sumber: pacitanku.com

Sejak tahun 2015, pemerintah daerah meresmikan pakaian adat khas Pacitan yang terdiri atas pakaian harian dan resmi. Pakaian ini digunakan untuk berbagai acara kebudayaan di Pacitan.

Adapun model pakaiannya didesain untuk laki-laki dan perempuan. Untuk model busana resmi laki-laki terdiri atas blangkon kalijagan, bawahannya berupa jarik wiron sogan berwarna dasar krem dengan motif batik sidomukti. Baju atasannya berupa beskap wulung (berwarna hitam). Pakaian ini dilengkapi dengan cinde dengan warna dominan hitam, keris, epek timang, rantai liontin giling, bros gunung limo Pacitan, kancing batu jasper merah berjumlah lima kop, cincin akik dan sandal selop.

Sedangkan untuk busana resmi perempuannya terdiri atas sanggul atau kerudung, kebaya berwarna hitam (wulung), batik sogan berwarna dasar krem dan motif sidomukti. Juga dilengkapi dengan selendang bagi yang tidak menggunakan kerudung.

Selain pakaian daerah resmi, juga terdapat pakaian daerah harian. Untuk laki-laki terdiri atas atasan berupa baju lurik potong gulon dan kaos hitam polos sebagai dalaman baju. Sebagai bawahannya adalah celana kagok hitam dilengkapi dengan sabuk kulit. Serta, alas kaki menggunakan sandal samparan yang terbuat dari bahan kulit atau ban.

Sementara untuk busana harian perempuan terdiri atas kerudung atau sanggul biasa dengan atasan berupa kebaya lurik dan bawahan berupa jarik wulung serta beralaskan sandal srampat. Khusus untuk model pakaian harian perempuan, rambut bisa dikreasikan sedemikian rupa, tidak harus menggunakan sanggul.

Udeng Blarak Sempal Khas Tuban

Udeng Khas Tuban
Sumber: Instagram @cungnduk_tuban

Tuban juga memiliki ikat kepala yang khas, yaitu bernama Udeng Blarak Sempal. Penamaan tersebut memiliki arti, yaitu daun kelapa yang merunduk. Blarak Sempal pada dasarnya mengacu pada motif kain batik yang menjadi bahan dari ikat kepala ini. Ada beberapa model dari udeng blarak sempal ini, di antaranya ada yang warna dominannya krem – cokelat, dan ada pula yang dominan warna hitam – putih.

Adapun nilai filosofi ikat kepala ini terdapat di dua bagian. Yang pertama di bagian sempalan atau yang menghadap ke bawah. Bagian ini memiliki makna bahwa sebagai manusia harus senantiasa rendah hati dan menjauhi sifat-sifat sombong. Yang kedua di bagian atas yang terbuka, mengandung makna bahwa sebagai manusia kita juga harus banyak mendengar dan terbuka dengan berbagai pelajaran atau ilmu.

Selain udeng blarak sempal, Tuban juga memiliki beberapa ikat kepala khas lainnya. Di antaranya, udeng layaran, brongkos angon dan tutup masin. Tetapi, di antaranya keempat udeng khas Tuban tersebut, udeng blarak sempal adalah yang paling populer dan sering digunakan di kalangan masyarakat Tuban. Perbedaaan di antara ketiganya terletak pada motif pada kain batik yang digunakan.

Pakaian Adat Pakem Kange Yune Khas Bojonegoro

Baju Pakem Kange Yune Bojonegoro
Sumber: Instagram @alfirandadinda

Di Bojonegoro, terdapat pakaian adat yang disebut dengan Pakem Kange Yune. Pakem dalam Bahasa Jawa berarti ketetapan atau acuan. Sedangkan Kange merupakan istilah untuk menyebut laki-laki, dan Yune untuk perempuan.

Adapun busana Kange ditujukan untuk membuat kesan merbawani atau berwibawa bagi laki-laki yang mengenakannya. Busana Kange ini terdiri atas ikat kepala yang terbuat dari kain dengan warna dan motif senada dengan kain jarit yang digunakan sebagai bawahan. Kain jaritnya sendiri bermotif sekar jati dengan dasar berwarna putih.

Pada kain jarit ini terdapat lipatan kain atau wiron selebar tiga jari, berjumlah ganjil dan jatuh pada sebelah kanan. Dan alas berupa selop tutup hitam yang bermakna bahwa pemakainya harus selalu berhati-hati dalam mengambil tindakan.

Udeng yang dikenakan kange ini bertajuk pacul gowang. Maknanya, bahwa seorang kangen harus senantiasa memahami konsekuensi atas segala perilaku yang dilakukannya. Untuk pakaian atasan, Kange menggunakan baju model jas berkerah pendek, lengan panjang, dan berwarna hitam.

Baju ini disebut dengan baju taqwa yang memuat nilai religius bahwa pemakainya diharapkan memiliki kemantapan hati dalam melaksanakan ibadah lima waktu dan senantiasa berbakti kepada orang tua.

Sedangkan busana Yune terdiri atas empat bagian, di antaranya bagian kepala, baju atasan, bawahan, dan alas kaki. Di bagian kepala, para Yune biasanya menggunakan sanggul prau tumplek, yang terdiri atas gelung tekuk dengan tiga buah susuk bunga melati disisipkan di sela-selanya. Sanggul ini bermakna bahwa manusia berasal dari bawah (tanah), sehingga harus senantiasa memiliki pegangan ajaran agama dan tekad kuat untuk menjalankannya.

Kemudian untuk baju atasan berupa kebaya dari kain brokat berwarna hitam yang melambangkan keluwesan dan kemantapan. Pada bagian depan terdapat tiga buah atribut peniti renteng yang digabungkan dengan rantai sebagai simbol atas tiga masa yang dilewati manusia, yaitu kanak-kanak, dewasa dan tua. Selain itu, busana Yune juga dilengkapi dengan selendang batik selebar lima jari yang motif dan warnanya senada dengan kain jarit.

Sementara itu untuk bawahan, Yune mengenakan stagen berwarna hitam sebagai simbol penahan hawa nafsu. Seperti halnya Kange, Yune juga mengenakan kain jarit bermotif sekar jati dan berwarna dasar putih.

Seperti halnya bawahan yang dikenakan Kange, bawahan yang dikenakan Yune juga terdapat lipatan atau wiron. Lebarnya kurang lebih 1,5 hingga 2 jari dengan jumlah ganjil dan jatuh pada sisi kiri. Hal ini melambangkan bahwa perempuan harus teliti dan rajin dalam bertindak. Serta, dapat mendem jeruk mikul dhuwur nama keluarga. Sebagai alasnya, Yune juga mengenakan selop hitam.

Pakaian Adat Jawa Timur dari Tlatah Arek (Malang dan Suroboyoan)

Tak ketinggalan, tlatah Arek yang berpusat di Malang dan Surabaya juga memiliki pakaian adat yang unik dan menarik lho! Apa sajakah itu? Berikut ulasannya.

Baju Manten Malang Keprabon

Meski terletak dalam kawasan kebudayaan Arek, tetapi sebenarnya Malang memiliki kekhasannya sendiri, yaitu dengan sebutan Malangan. Selain memiliki kesenian daerah yang unik seperti Macapat Malangan dan Topeng Malang, kabupaten ini juga memiliki baju adat tradisionalnya sendiri yang turut melengkapi koleksi pakaian adat Jawa Timur. Tak lain bernama Baju Manten Malang Keprabon.

Seperti namanya, baju ini digunakan khusus untuk para pengantin yang hendak menyelenggarakan perkawinannya dengan adat Malang Keprabon. Dalam adat ini, pengantin perempuan menggunakan hiasan kepala bernama jamang dan sanggul bernama ukel keprabon.

Sedangkan untuk pakaiannya, baik mempelai perempuan maupun laki-laki menggunakan dodot taman sari dan kain nyamping tumpul malangan. Tetapi, penggunaan dodot ini berbeda. Pada laki-laki, dodot digunakan dari pinggang hingga kaki. Sedangkan pada perempuan digunakan dari bagian dada hingga bagian kaki.

Selain itu, ada beberapa komponen yang digunakan oleh kedua pengantin sebagai pelengkap Baju Manten Malang Keprabon ini, di antaranya:

  1. Hiasan kalung hara
  2. Klat bahu keyora atma
  3. Subang kundala di telinga
  4. Tiga buah gelang kono di pergelangan tangan
  5. Cincin di jari
  6. Binggel kono di pergelangan kaki
  7. Pending pitaloka di pinggang

Baju Cak dan Ning Suroboyoan

Cak dan Ning Surabaya
Sumber: Instagram @cakningsby

Pakaian adat satu ini bisa disebut sebagai pakaian adat Jawa Timur modern sebab penggunaannya bisa dikreasikan sedemikian rupa oleh Cak dan Ning, sebutan untuk pentas duta wisata Surabaya. Busana Cak dan Ning ini telah ditetapkan oleh pemerintah daerah sebagai pakaian daerah resmi untuk Duta Wisata Surabaya.

Busana untuk Cak atau laki-laki terdiri atas baju beskap berwarna putih gading dan dilengkapi dengan hiasan saputangan merah dan kuku macan. Adapun untuk bawahannya, menggunakan kain jarik bermotif parikesit, geringsing, atau rawan. Juga, dilengkapi dengan ikat kepala berupa udeng potehi ponco miring dan alas kaki berupa terompah.

Sedangkan busana untuk Ning atau perempuan terdiri atas kebaya yang ditaburi peniti renteng tebu sekeret serta bawahan berupa jarik dari Pekalongan dengan motif flora. Adapun aksesoris yang digunakan berupa tusuk konde emas yang disematkan di bagian sanggul sang Ning, yang juga dibaluti dengan kerudung berwarna senada dengan kebaya. Serta, anting panjang di telinga, gelang roncong emas yang jumlahnya ganjil di pergelangan tangan dan binggel emas di pergelangan kaki.

Pakaian Adat Jawa Timur dari Tlatah Osing

Di bagian ujung timur Jawa Timur, Suku Osing yang terletak di Kabupaten Banyuwangi juga memiliki pakaian adat daerah yang memperkaya pakaian adat Jawa Timur.

Baju Adat Osing

Baju Adat Osing Banyuwangi
Sumber: banyuwangibagus.com

Suku Osing yang sering kali disebut sebagai lare osing juga memiliki ragam budaya yang unik. Tak terkecuali pakaian adatnya. Secara umum, baju adat Suku Osing didominasi oleh warna hitam yang mewakili makna sederhana, langgeng atau bertahan lama dan ketahanan diri.

Adapun busana untuk laki-laki dilengkapi dengan ikat kepala atau disebut juga udeng khas Osing. Sedangkan untuk perempuan, pakaian yang digunakan berupa kebaya berwarna hitam dan pakaian bawahan berupa kain batik khas Banyuwangi.

Selain pakaian sehari-hari tersebut, Suku Osing juga memiliki baju khusus pengantin yang juga khas. Baju pengantin tersebut menggunakan motif batik Banyuwangi, di antaranya gajah uling, paras gempal, dan moto itik. Dilengkapi dengan aksesoris berupa bendel, rantai jam, dan sandal selop untuk laki-laki.

Sedangkan busana pengantin untuk perempuan menggunakan kebaya, anting-anting greol, selendang dan selop. Rambutnya disanggul dengan hiasan kembang goyang.

Pakaian Adat Jebeng Thulik Banyuwangi

Jebeng Thulik Banyuwangi
Sumber: Twitter @Event.Banyuwangi

Jebeng dan Thulik pada dasarnya merupakan kontes untuk menemukan duta wisata daerah di Banyuwangi. Seperti halnya Cak dan Ning di Surabaya, serta Kange dan Yune di Bojonegoro. Letak perbedaannya hanya di sebutan untuk laki-laki dan perempuannya. Di Banyuwangi, perempuan dalam bahasa daerahnya disebut dengan jebeng. Sedangkan perempuan disebut dengan thulik.

Baju Jebeng terdiri atas kebaya dan kain jarik (sewek) bermotif batik Banyuwangi. Jebeng biasanya juga menggunakan konde Banyuwangen (khas Banyuwangi). Sedangkan Thulik mengenakan baju berlengan panjang, udeng tongkosan, celana panjang polos dan kain panjang bermotif khas Banyuwangi serta selop kosek dari kulit hewan.

Batik Jawa Timuran

Batik Jawa Timuran
Sumber: infobatik.id

Selain pakaian adat yang berasal dari berbagai tlatah atau kawasan kebudayaan di Jawa Timur, juga ada pakaian khas yang hampir seluruh daerah di Indonesia memilikinya. Apa lagi kalau bukan batik. Batik adalah pakaian khas Indonesia yang setiap daerah memiliki kekhasan corak dan motifnya masing-masing. Tak terkecuali dengan Jawa Timur.

Batik, sebagai salah satu pakaian khas daerah, di Jawa Timur dapat dikatakan sebagai pakaian adat Jawa Timur modern. Sebab, batik yang berkembang di Jawa Timur cenderung menganut aliran yang bebas dan tidak memiliki pakem tertentu dalam pembuatan motif batiknya. Oleh karenanya, kreasi motif batik di wilayah Jawa Timur lebih bebas dan fleksibel. Sehingga, perkembangan motif batik di Jawa Timur terbilang pesat.

Adapun ragam batik di Jawa Timur antara lain batik dari kabupaten:

  1. Banyuwangi (Batik Gajah Oling, Sekar Jagad, Ukel, Kangkung Setingkes, Gringsing, Blarak Semplah, Moto Pitik, Alas Kobong, dsb)
  2. Bojonegoro (Batik Jonegoroan, Batik Jumput, Batik Pelem-Pelem Sumilar, Batik Selingkuh dsb)
  3. Bondowoso (Batik Ki Ronggo)
  4. Gresik (Batik Pamiluto Ceplokan, Batik Damar Kurung, Batik Ndulit Sisik Bandeng, dsb)
  5. Jombang (Batik Ijo dan Abang Khas Jombang)
  6. Kediri (Batik Gapura Tanjung Kodok)
  7. Lamongan (Batik Sendang Lamongan, Batik Singo Mengkok)
  8. Madiun (Batik Pecelan)
  9. Madura (Batik Gentongan)
  10. Magelang (Batik Tulis dan Batik Cap Khas Magelang)
  11. Magetan (Batik Sidomulyo, Semen Romodan Kembang-Kembang, dsb)
  12. Malang (Batik Mandara, Batik Sutera Andis, dsb)
  13. Mojokerto (Batik Jumput Surya Majapahit, Mrico Balong, Sisik Gringsing, dsb)
  14. Nganjuk (Batik Anjuk Ladang)
  15. Pacitan (Batik Pace Gong)
  16. Probolinggo (Batik Bayuangga)
  17. Sidoarjo (Batik Sawunggaling, Jetis)
  18. Situbondo (Batik Lente, Cotto’an, dan Kilen)
  19. Surabaya (Batik Semanggi, Batik Karah Surabaya, Batik Kota Surabaya dsb)
  20. Tuban (Batik Palangan)
  21. Tulungagung (Batik Majanan, Kalangbret, Baronggung, Gajah Mada, dsb)

***

Nah, sampai di sini dulu ya pembahasan kita tentang pakaian adat Jawa Timur. Kamu bisa membandingkan gambar pakaian adat Jawa Timur dengan pakaian adat daerah lain di Indonesia, Jawa khususnya agar kamu mengenali perbedaan khusus dari pakaian adat di Jawa Timur dan daerah lain Indonesia.

Baca juga: 18 Alat Musik Jawa Timur

Sebab kita tahu bahwa Indonesia kaya akan keragaman budaya, dan untuk melestarikannya tentu kita harus dapat mengenalinya terlebih dahulu. Salam budaya!

Artikel Terbaru

Tiars

Tiars

Seorang content writer yang suka menulis topik wisata, pendidikan dan kesetaraan sekaligus mahasiswi Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial di Universitas Jember. Jurusan Ilmu Kesos ini berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Ilmu Kesejahteraan Sosial merupakan ilmu terapan dimana mahasiswa akan belajar bagaimana meningkatkan keberfungsian sosial seseorang dan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *