11 Pakaian Adat Aceh Serta Penjelasannya

Aceh, salah satu provinsi yang terletak di ujung pulau Sumatra ini, cukup dikenal banyak orang dengan julukan kota Serambi Mekkah. Julukan tersebut tak lepas dari kebudayaan unik yang dimiliki oleh Aceh.

Kebudayaan tersebut banyak dipengaruhi oleh kebudayaan melayu dan pengaruh agama Islam. Sehingga, nuansa Islam memang begitu kental di daerah Aceh. Begitu juga dengan pakaian adat yang dimiliki juga tak jauh dari pengaruh budaya melayu beserta Islam.

Pakaian adat Aceh tersebut juga mempunyai julukan yaitu Baju Ulee Balang. Penggunaan Baju Ulee Balang ini kebanyakan dipakai saat acara pernikahan maupun acara adat tertentu. Untuk lebih mengenal apa saja pakaian adat Aceh, simak ulasannya berikut.

Pakaian Adat Aceh Pria

Pada dasarnya, pakaian adat Aceh terbagi menjadi dua yaitu pakaian untuk pria dan pakaian untuk wanita. Nah, nama pakaian adat Aceh untuk pria ini disebut sebagai linta baro. Kegunaan linta baro hampir sama dengan pakaian adat daerah lain yaitu dipakai ketika ada acara resmi pemerintahan atau acara pernikahan.

Konon, pada masa dulu, penggunaan Linta Baro dimulai pada masa kerajaan Samudra Pasai dan Kerajaan Perlak untuk upacara adat. Secara pemakaian, pakaian adat Aceh linta baro ini dibagi dalam beberapa bagian yang akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut.

Meukasah

Meukasah
Sumber: bridestory.com

Gambar pakaian adat Aceh tersebut merupakan sebuah ilustrasi yang menggambarkan pemakaian meukasah. Meukasah merupakan nama pakaian adat Aceh untuk laki-laki untuk bagian atasan dan masih jadi bagian dari linta baro.

Sekilas, meukasah memang nampak seperti beskap, salah satu pakaian adat Jawa Barat. Namun, dari segi bahan, meukasah terbilang lebih mewah dikarenakan dibuat dari kain sutera yang ditenun. Lalu, bagian kerah hingga dada, pakaian meukasah dipenuhi dengan hiasan sulaman warna emas. Sulaman tersebut semakin menegaskan kemewahan pakaian adat Aceh ini.

Warna dari meukasah sendiri lebih dominan warna hitam dan dipercaya oleh masyarakat Aceh sebagai simbol kebesaran. Kemudian, dari segi desain bajunya, meukasah tidak hanya mendapat sentuhan dari budaya melayu maupun Islam saja, bahkan terdapat pula sentuhan budaya Cina. Hal ini diduga karena pada masa dulu Cina sering melewati Aceh saat melakukan perjalanan perdagangan.

Baca juga: 12 Alat Musik Aceh

Sileuweu

Sileuweu
Sumber: kenalbudaya.blogspot.com

Jika meukasah tadi merupakan bagian atasan dari linta baro, sileuweu adalah nama pakaian adat Aceh laki-laki untuk bagian bawahannya. Ada pula yang menyebut jika sileuweu sebagai celana cekak musang laki-laki.

Bentuk dari celana sileuweu ini cukup melebar terutama di bagian bawahnya. Mengenai bahan pembuatnya, sileuweu dibuat dari kain katun dengan dilengkapi hiasan sulaman pada bagian bawahnya. Sulaman tersebut juga tak kalah mewah dengan meukasah, bahkan juga sama-sama disulam dengan benang emas. Di samping itu, warna dari sileuweu juga sama hitam dengan atasannya.

Ija Lamgugap

Ija Lamgugap
Sumber: kakamera.com

Bagian selanjutnya dari linta baro adalah sarung songket sutera. Sarung ini dinamakan sebagai ija lamgugap, namun ada juga masyarakat Aceh yang menyebutnya dengan sebutan lain seperti ija sangket dan ija krong.

Komponen pakaian adat Aceh satu ini juga menjadi bagian wajib untuk pelengkap sileuweu dan ditempatkan pada bagian pinggang si pemakai dengan batas panjang yang tak lebih dari 10 cm dari atas lutut. Meskipun hanya sebagai pelengkap, ija lamgugap juga bisa menambah kharisma dari para laki-laki Aceh yang mengenakannya.

Meukeutop

Meukeutop
Sumber: desasrimenanti.blogspot.com

Seperti yang terlihat dari gambar pakaian adat Aceh di atas, meukeutop adalah nama pakaian adat Aceh untuk bagian penutup kepala. Bagian ini sering disebut mahkota para pria Aceh. Bentuk dari meukeutop lonjong ke atas serta disertai dengan lilitan kain sutera berpola persegi delapan. Lilitan tersebut dinamai telungkok dan terbuat dari emas ataupun kuningan.

Meukeutop menggunakan lima warna dalam desainnya yang mana setiap warna menyimbolkan hal tertentu. Warna yang pertama adalah merah yang menyimbolkan kepahlawanan. Kemudian, warna hijau menyimbolkan agama Islam, warna hitam menyimbolkan ketegasan, warna kuning menyimbolkan kesultanan, dan warna putih yang menyimbolkan kesucian.

Rencong

Rencong
Sumber: id.pinterest.com

Setiap daerah yang mempunyai pakaian adat, pasti tak akan lepas dari aksesoris senjatanya. Provinsi Aceh juga mempunyai senjata rencong yang dikenakan untuk melengkapi pakaian adat linta baro. Dulunya, rencong merupakan senjata para sultan, sehingga desain kepala dari rencong pun dibuat dari perak hingga emas.

Sedangkan untuk bagian mata rencongnya terbuat dari kuningan ataupun besi putih. Meskipun secara umum dipakai oleh para sultan, tetapi rencong juga diperbolehkan untuk rakyat biasa. Hanya saja, desain dari kepala rencong untuk orang biasa dibuat dari tanduk hewan.

Baca juga: Mengenal Pakaian Adat Papua

Pakaian Adat Aceh Wanita

Setelah mengenal tentang pakaian adat pria linta baro, selanjutnya kamu juga perlu mengenal nama pakaian adat Aceh wanita yang disebut dengan dara baro. Pakaian ini juga tak kalah mewah dan bagusnya dari linta baro. Serta, masih sama-sama mendapat pengaruh dari budaya melayu serta Islam. Untuk penjelasan dan pembagian dara baro, simak ulasan lengkapnya sebagai berikut.

Baju Kurung

Baju Kurung
Sumber: taldebrooklyn.com

Nama pakaian adat aceh wanita yang menjadi komponen penting dalam dara baro adalah baju kurung. Sesuai namanya juga, bentuk baju kurung ini longgar dan tidak memperlihatkan bentuk tubuh wanita yang memakainya. Bentuk lengannya sendiri juga dibuat panjang, seperti pada gambar pakaian adat Aceh di atas.

Melihat dari desainnya, terbukti jika baju kurung ini mendapat pengaruh dari Islam. Selain itu, konon juga masih dipengaruhi oleh budaya melayu serta Cina. Baju kurung ini secara keseluruhan dibuat dari kain tenun sutera dar benang emas.

Kemudian, dilengkapi dengan kerah bermotifkan emas dan perhiasan bernama boh dokma, perhiasan khas Aceh. Tak heran jika motif dari baju kurung juga nampak begitu mewah. Tetapi, kesan mewah tersebut tak hanya sampai di situ.

Terdapat pula kain songket yang disebut dengan ija krong sungket yang akan dililitkan di bagian pinggang. Kemudian, ada juga tali pinggang yang dibuat mengikat bagian bawah yaitu taloe ki leng patah sikureueng yang diartikan sebagai tali pinggang patah sembilan yang dibuat dari emas atau perak.

Cekak Musang

Cekak Musang
Sumber: steemit.com

Cekak musang ini merupakan nama pakaian adat Aceh untuk bagian bawahan para wanita. Celana ini juga punya desain yang hampir sama dengan celana sileuweu milik para pria. Perbedaannya, celana cekak musang punya warna yang lebih cerah.

Namun, tetap senada dengan baju kurung yang dikenakan. Terdapat pula hiasan sulaman di bagian pergelangan kaki yang juga disulam dengan benang emas. Serta, ada lapisan sarung tenun dengan panjang sampai ke lutut.

Patam Dhoe

Patam Dhoe
Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Patam dhoe merupakan nama mahkota atau hiasan kepala yang dikenakan oleh para wanita Aceh. Hiasan kepala ini begitu megah dengan adanya ukiran motif daun sulur. Kemudian, terdapat pula motif yang disebut sebaga bungoh kalimah dikarenakan adanya lafaz Allah dan Muhammad. Bungoh kalimah tersebut juga dikelilingi oleh motif bunga dan bulatan yang semakin membuatnya terlihat indah.

Aksesoris Lainnya

Aksesoris Lainnya
Sumber: jakazulham from devianart.com

Selaian patam dhoe, para wanita Aceh juga mengenakan aksesoris lainnya di antaranya kalung emas yang mempunyai enam batu bentuk hati dan satu bentuk kepiting. Kalung tersebut sering dijuluki oleh orang Aceh sebagai taloe tokoe bieung meuih. Selain kalung tersebut, para wanita juga memakai kalung emas bermotif daun sirih dan kalung manik-manik motif bulat.

Tak hanya berupa kalung, aksesoris lainnya yang tak boleh ketinggalan adalah anting-anting emas yang dijuluki sebagai subang. Subang mempunyai motif bulat-bulat kecil yang disebut dengan boh eungkot. Ada juga subang dengan motif matahari yang dinamai subang bungong mata uroe.

Lalu, beberapa aksesoris yang sering dipakai untuk pelengkap daea baro yaitu ikay atau gelang tangan, gleuang goki atau gelang kaki, dan euncien pinto atau cincin khas Aceh.

Pakaian Adat Aceh Gayo

Pakaian Adat Aceh Gayo
Sumber: digtara.com

Di provinsi Aceh, terdapat satu suku yang masih tetap ada sampai sekarang. Suku tersebut merupakan suku Aceh Gayo yang saat ini mendiami Kabupaten Aceh Tengah. Terdapat dua macam pakaian adat Aceh Gayo yang dikenal oleh masyarakat sebagai Aman Mayok dan Ineun Mayok.

Aman Mayok

Aman mayok merupakan nama pakaian adat Aceh Gayo untuk para pengantin pria. Pakaian aman mayok terdiri dari baju putih, celana, kain sarung, dan beberapa aksesoris seperti keris, genit rante, tanggang, gelang, dan cincin.

Pakaian ini juga dilengkapi dengan sanggul sempol gampang serta sanggul sempol gampang bulet yang umumnya dipakai ketika prosesi akad nikah. Gambar pakaian adat Aceh Gayo di atas mewakili gambaran pemakaian aman mayok.

Ineun Mayok

Berikutnya, untuk pakaian pengantin wanita, suku Aceh Gayo mengenakan pakaian yang diberi nama ineun mayok. Pakaian ineun mayok lebih menonjolkan pada pemakaian perhiasan yang cukup beragam.

Pada bagian atas, pengantin wanita Aceh Gayo akan memakai mahkota sunting dan sanggul sempol gampang. Dilengkapi juga dengan perhiasan lain seperti anting-anting subang gener, ilung-ilung, lelayang, dan subang ilang.

Pada bagian pinggang, mereka tak hanya memakai ikat pinggang saja. Tetapi, juga memakai rantai genit rante. Lalu, di bagian lengannya, para wanita tersebut juga memakai berbagai macam gelang diantaranya gelang puntu, gelang puntu, gelang beramur, gelang giok, dan gelang bulet. Tak lupa di bagian leher, mereka juga mengenakan kalung.

Baca juga: 14 Pakaian Adat Sumatera Barat

Nah, itu tadi pakaian adat Aceh untuk para pria maupun wanita hingga pakaian adat Aceh Gayo. Meskipun pakaian-pakaian tersebut hanya dipakai untuk acara pernikahan, tetapi itulah salah satu jalan untuk melestarikan pakaian adat di masa modern ini.

Artikel Terbaru

Wasila

Wasila

Lulusan Sastra Inggris, UIN Sunan Ampel Surabaya yang saat ini berkecimpung di dunia penerjemahan. Disela-sela kesibukan menerjemah, juga menulis artikel dengan berbagai topik terutama berhubungan dengan kebudayaan.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *