Metode Wawancara Serta Tahapannya

Metode wawancara, sebuah hal yang sangat umum dibicarakan pada berbagai riset khususnya ranah ilmu sosial. Bastian, Winardi, & Fatmawati (2018) menyebutkan jika wawancara mengasumsikan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk berpendapat. Tidak hanya sekedar tanya jawab, namun ada berbagai fungsi, strategi, dan taktik yang terus berkembang di dalamnya.

Selain berfungsi untuk riset, wawancara juga umum digunakan untuk berbagai kepentingan lainnya. Contoh sederhananya adalah ketika melamar posisi di sebuah organisasi atau perusahaan, pasti kita akan melalui tahap wawancara. Saat meliput berita di lapangan maupun studio, wawancara juga digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan sejumlah informasi. Menarik bukan?

Peran dan Fungsi Wawancara

Kapan Metode Wawancara DigunakanTampak sederhana, namun sebenarnya proses wawancara begitu rumit (Bastian, Winardi, & Fatmawati, 2018). Seiring berjalannya waktu, wawancara berkembang menjadi lebih kompleks dan perannya semakin bervariasi. Dari sekadar bentuk komunikasi sederhana, hingga menjadi sarana untuk mengkonstruksi pengetahuan antara pewawancara dengan responden.

Pada konteks sederhana, wawancara berfungsi untuk menggali informasi dari sebuah kejadian atau peristiwa. Contoh umumnya adalah seorang reporter yang melakukan wawancara langsung pada beberapa orang saksi di sebuah peristiwa. Nah, pada konteks yang lebih kompleks, wawancara digunakan untuk memperoleh data penelitian yang bersifat kualitatif. Dalam kasus ini, proses wawancara tentu akan lebih rumit karena persiapan dan pelaksanaannya dikaitkan dengan teori.

Wawancara sendiri terdiri dari beberapa jenis jika dilihat dari karakteristik dan tujuan yang ingin dicapai. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai definisi, pengertian dan jenis-jenis metode wawancara, yuk simak uraian dan penjelasannya di bawah ini.

Baca juga: Contoh Kuesioner Penelitian dan Cara Membuatnya

Pengertian Metode Wawancara

Di dalam kehidupan sehari-hari, wawancara dapat diartikan sebagai percakapan langsung secara tatap muka. Sementara itu, wawancara dalam ilmu ilmiah dapat diartikan dengan lebih spesifik lagi. Cohen & Swerdlik (2018) mengatakan bahwa wawancara tidak hanya sekedar percakapan di antara dua orang saja. Namun melibatkan proses mencatat perilaku verbal dan nonverbal dari orang yang diwawancara.

Metode wawancara adalah sebuah metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi melalui komunikasi secara langsung serta melibatkan interaksi resiprokal. Pewawancara dapat memperhatikan dan mencatat perilaku verbal dan nonverbal dari orang yang diwawancara. Misalnya bahasa tubuh, pergerakan tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, dan reaksi-reaksi umum lainnya.

Di sisi lain, wawancara juga dapat mengungkap sikap, persepsi, penilaian mengenai lingkungan, dan penilaian mengenai dirinya sendiri. Perlu diingat bahwa wawancara tidak lepas dari kemampuan observasi, komunikasi, dan empati dari pewawancara. Oleh karena itu, pewawancara diharapkan memiliki skill atau keterampilan khusus dalam melakukan wawancara.

Tahap Wawancara

Tahap Wawancara
Sumber: StockSnap dari Pixabay

Groth-Marnat & Wright (2016) menyebutkan bahwa terdapat beberapa tahap dan taktik dalam melakukan wawancara. Di antaranya adalah kemampuan pewawancara untuk menyampaikan kalimat klarifikasi, kesimpulan, refleksi, dan umpan balik saat melakukan wawancara. Mendengarkan secara aktif, melakukan kontak mata, hingga random probing juga termasuk dalam keterampilan yang penting untuk dimiliki pewawancara. Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

  1. Mengorganisasi setting atau tempat berlangsungnya wawancara. Tata ruangan agar menjadi rapi namun tetap nyaman dan tidak kaku. Pencahayaan ruangan dan tata letak tempat duduk juga perlu diperhatikan. Jarak tempat duduk antara pewawancara dan responden tidak terlalu dekat namun juga tidak terlalu jauh.
  2. Pewawancara memperkenalkan diri, identitas (nama) beserta pekerjaannya (misalnya reporter, dokter atau psikolog). Di sisi lain, responden juga memperkenalkan dirinya dan saling bertukar kata sapaan yang diinginkan oleh kedua belah pihak.
  3. Sampaikan tujuan wawancara tersebut. Pastikan responden memahami prosesnya. Jelaskan pada responden bagaimana informasi yang diperoleh dari proses wawancara tersebut akan digunakan untuk apa dan oleh siapa.
  4. Perlu disampaikan pada responden mengenai berapa lama wawancara tersebut akan berlangsung (berapa menit atau berapa jam). Dibutuhkan adanya consent atau persetujuan dari diri sendiri maupun keluarga bahwa responden bersedia dimintai datanya untuk kepentingan tertentu. Dengan kata lain, wawancara dilakukan dengan tidak ada paksaan dari pihak tertentu.
  5. Setelah tahap-tahap di atas selesai dilakukan, wawancara dapat dimulai.

Baca juga: Contoh Makalah Serta Cara Membuatnya

Wawancara Terstruktur dan Tidak Terstruktur

Secara umum, berdasarkan fungsi dan tujuannya, wawancara dibagi menjadi dua jenis yaitu terstruktur dan tidak terstruktur. Tiap-tiap jenis memiliki karakteristik beserta kelebihan dan kekurangannya, sehingga perlu disesuaikan dengan tujuan awal melakukan wawancara. Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai jenis-jenis wawancara:

Terstruktur

Wawancara terstruktur adalah wawancara yang daftar pertanyaan serta kategori jawabannya telah disiapkan sebelumnya. Oleh karena itu, tidak ada fleksibilitas baik dalam mengajukan pertanyaan maupun dalam menyampaikan jawaban. Karena terstruktur, maka kecepatan waktu wawancara dapat terkendali. Meski menunjukkan minat, pewawancara tetap menjaga jarak.

Jenis wawancara terstruktur sering digunakan pada konteks ilmiah seperti riset dan penelitian. Pelaksanaan wawancara pada jenis ini dibuat terjadwal, mulai dari waktu hingga tempat pelaksanaannya. Dengan demikian, proses pengumpulan data menjadi lebih tenang dan kondusif.

Kekuatan dari wawancara terstruktur adalah masing-masing responden akan mendapatkan pertanyaan yang sama. Jadi, variasi jawaban dapat terhindarkan atau sederhananya jawaban dari beberapa responden akan cenderung sama. Kesalahan akibat adanya masalah teknis juga dapat dihindari jika menggunakan wawancara terstruktur.

Tidak Terstruktur

Yes, wawancara tidak terstruktur adalah wawancara dengan daftar pertanyaan yang terbuka, sehingga jawaban responden menjadi lebih luas dan bervariasi. Berkebalikan dengan terstruktur, wawancara jenis ini memiliki fleksibilitas dalam mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan jawaban. Lalu, pewawancara juga tidak menjaga jarak dengan respondennya.

Jenis wawancara tidak terstruktur biasa digunakan pada konteks non-ilmiah, seperti wawancara kerja maupun wawancara untuk meliput berita. Karena tidak terstruktur, jawaban responden dapat bervariasi. Pewawancara juga dapat melakukan probing pada pertanyaan lanjutan untuk menambah dan memperkaya informasi.

Hal yang menjadi kekuatan dari wawancara tidak terstruktur adalah mudahnya melakukan penyesuaian (fleksibel) pada kasus-kasus yang bersifat individual. Hasil jawaban juga dapat lebih mendalam dan menyeluruh. Keterbatasannya adalah waktu pelaksanaan yang tidak dapat diprediksi.

Kapan Metode Wawancara Digunakan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, wawancara adalah salah satu metode ilmiah dan non-ilmiah untuk menggali informasi. Nah, pertanyaannya, kapan waktu yang tepat untuk menggunakan metode wawancara? Kondisi dan situasi yang seperti apa sehingga wawancara perlu dilakukan saat proses pengambilan data dan informasi?

  1. Umumnya, wawancara digunakan pada riset dan penelitian yang bersifat kualitatif. Yaitu ketika peneliti ingin mendalami dan memperoleh informasi secara mendetail dari pernyataan responden.
  2. Kondisi khusus saat responden buta huruf atau tidak bisa membaca dan menulis. Juga ketika responden terlalu sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk mengisi skala atau kuesioner.
  3. Pewawancara ingin mendalami dan mengetahui makna subjektif dari topik yang sedang diukur. Dengan menggunakan wawancara, diharapkan dapat mendapatkan jawaban yang panjang. Selain itu, jawaban atau pernyataan responden dapat dikontrol dan diarahkan sesuai yang pewawancara harapkan.
  4. Ketika responden masih terlalu muda (contohnya usia balita atau anak-anak) yang umumnya belum bisa membaca dan menulis.
  5. Pewawancara ingin mengecek kesesuaian antara jawaban dan pernyataan responden.
  6. Topik atau hal yang sedang diukur bersifat privasi, pribadi dan rahasia.
  7. Saat meliput berita berupa kejadian dan peristiwa penting di lapangan.
  8. Sebagai salah satu cara untuk menyeleksi calon pegawai di perusahaan.

Langkah-langkah Melakukan Wawancara

Dalam pelaksanaannya, proses wawancara tidak dapat dilakukan secara sembarangan tanpa ada persiapan sebelumnya. Untuk wawancara mendesak seperti peliputan berita langsung ke lapangan pun tetap membutuhkan langkah-langkah dan persiapan sebelumnya. Dengan tujuan agar proses wawancara dapat berjalan dengan terstruktur dan sistematis.

Untuk memperoleh data hasil wawancara yang lengkap dan komprehensif, diperlukan langkah-langkah khusus dalam melaksanakannya. Baik langkah-langkah sebelum maupun sesudah wawancara berlangsung. Secara umum, langkah-langkah melakukan metode wawancara adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan objek dan subjek wawancara. Objek yang dimaksud adalah tema atau topik yang akan dibahas saat wawancara. Subjek yang dimaksud adalah satu orang atau lebih (kelompok) yang akan menjadi responden dalam pengumpulan data wawancara.
  2. Mempersiapkan dan mempelajari tema atau topik yang akan diangkat saat wawancara. Dengan memahami tema atau topik tersebut, maka kita dapat menyusun garis besar dan rincian pertanyaan yang akan diajukan ke responden. Hal-hal dasar yang wajib ditanyakan harus mencakup 5W+1H (What, Who, Where, When, Why, dan How).
  3. Menghubungi dan menyusun jadwal dengan responden terkait kapan dan di mana proses wawancara akan dilangsungkan. Disarankan untuk memilih latar dan tempat yang sunyi dan tenang, agar dalam proses pelaksanaannya tidak banyak gangguan dari luar. Waktu pelaksanaan juga perlu disusun sedemikian rupa agar tidak tergesa-gesa/terburu-buru dalam melakukan wawancara.
  4. Mempersiapkan berbagai macam alat bantu dalam wawancara. Jika diperlukan, isiapkan alat perekam (Atau bisa menggunakan handphone) untuk merekam pembicaraan. Termasuk alat tulis (Notes atau buku dan bolpoin) untuk mencatat hal-hal penting terkait hasil wawancara. Jangan lupa untuk meminta izin terlebih dahulu pada responden jika ingin merekam atau mendokumentasi proses wawancara.
  5. Setelah wawancara selesai, simpan hasil wawancara (Baik dalam bentuk catatan, rekaman, dan lain sebagainya) dengan baik. Nantinya, dokumen dan hasil wawancara tersebut akan digunakan sebagai sumber utama untuk menyusun laporan hasil wawancara. Jenis dan format laporan dapat berbeda-beda, tergantung tujuan awal dari wawancara itu sendiri. Apakah untuk tugas kuliah, penelitian, asesmen, rekrutmen/seleksi, dan lain-lain.
  6. Pada umumnya, langkah utama dalam mengolah hasil rekaman wawancara adalah dengan melakukan verbatim dan koding. Verbatim adalah proses menuliskan kata-kata dan kalimat yang diucapkan secara verbal oleh pewawancara dan responden wawancara. Sementara itu, koding adalah proses mengkategorisasikan poin-poin tertentu yang dinilai penting dari hasil verbatim wawancara.

Baca juga: Contoh Laporan Penelitian

Kelebihan Wawancara

Kelebihan Wawancara
Sumber: Adabara Ibrahim dari Pixabay

Dalam praktiknya, tentu wawancara memiliki kelebihan dan keunggulan dari metode pengumpulan data lainnya. Pertama, wawancara adalah metode yang dinilai paling baik untuk menilai keadaan dan kondisi seseorang. Di sisi lain, proses wawancara tidak dibatasi oleh umur dan latar belakang pendidikan responden. Artinya, hampir semua responden dapat diases menggunakan metode wawancara.

Selanjutnya, hasil data yang diperoleh dari proses wawancara dapat digunakan untuk kriterium data. Maknanya adalah, hasil wawancara dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. Hal penting lainnya adalah wawancara dapat dilakukan bersamaan dengan metode observasi, sehingga dapat memperoleh data yang komprehensif dan menyeluruh.

Kekurangan Wawancara

Kekurangan utama dari wawancara adalah kurang efisien dari segi waktu, biaya, dan tenaga yang dikeluarkan. Wawancara membutuhkan proses dan waktu yang panjang, dengan demikian tenaga dan biaya yang diperlukan juga relatif tinggi. Pada kasus-kasus tertentu, pewawancara juga perlu menguasai bahasa yang sama dengan responden. Biasanya menjadi tantangan ketika responden adalah lansia (lanjut usia) yang hanya dapat berkomunikasi menggunakan bahasa daerah.

Proses berlangsungnya wawancara pun rentan dan mudah sekali terganggu. Mulai dari suara-suara bising di sekitar lokasi wawancara, hingga hadirnya orang lain di dekat responden saat proses wawancara berlangsung. Oleh karena itu, informasi yang diperoleh saat wawancara sangat tergantung dari kesediaan dan kondisi responden pada saat itu.

Baca juga: Contoh Hipotesis Penelitian

Yup, itulah artikel penjelasan lengkap mengenai pengertian, tahapan, jenis, waktu penggunaan, hingga kelebihan dan kekurangan metode wawancara. Terlepas dari kelebihan yang ditawarkan, ternyata wawancara juga memiliki kekurangan dalam prosesnya. Sehingga, perlu melakukan antisipasi khusus untuk meminimalisir kekurangan tersebut. Terima kasih telah membaca artikel ini sampai selesai, semoga bermanfaat ya.


Sumber

Bastian, I., Winardi, R. D., & Fatmawati, D. (2018). Metoda Wawancara. Dilansir dari: researchgate.net

Cohen, J. R. & Swerdlik, M. E. (2018). Psychological Testing and Assessment: An Introduction to Tests and Measurement 9th Edition. New York: McGraw-Hill Education.

Groth-Marnat, G. & Wright, A. J. (2016). Handbook of Psychological Assessment 6th Edition. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

Artikel Terbaru

Salma

Salma

Lulusan Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada.Mengerjakan skripsi dengan metode kuantitatif.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *