Komunikasi Bisnis: Fungsi, Proses, Hambatan dan Teori

Apakah kamu sadar, bahwa dalam hidup kita tidak pernah berhenti berkomunikasi? Bahkan ketika kita diam, kita juga dapat berkomunikasi. Begitu juga saat melakukan kegiatan yang berkaitan dengan bisnis. Kita tidak terlepas dari berkomunikasi.

Dalam kajian ilmu komunikasi, terdapat suatu konsep yang dikenal dengan komunikasi bisnis. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut tentang komunikasi bisnis. Baiklah, kita akan mulai dengan membahas pengertian komunikasi bisnis.

Pengertian Komunikasi Bisnis Menurut Para Ahli

komunikasi-bisnis
Sumber : oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Menurut The Management Study Guide (dalam Haase, 2013), komunikasi bisnis lebih mengacu dan berorientasi pada tujuan atau hasil. Regulasi dan kebijakan perusahaan memang harus dikomunikasikan kepada orang-orang yang ada di dalam dan di luar organisasi. Maka dari itu, komunikasi bisnis memiliki peranan yang penting di sini. 

Baca juga: Contoh Segmentasi Pasar

Komunikasi bisnis diatur oleh aturan dan norma tertentu. Pada awalnya, komunikasi bisnis diartikan secara sempit. Mereka mengartikan komunikasi bisnis sebagai pekerjaan yang berkaitan dengan menulis atau menerima panggilan telepon saja. Namun saat ini, komunikasi bsinis memiliki pengertian yang lebih luas dari pada itu. Mendiskusikan suatu permasalahan perusahaan dengan rekan kerja, sudah termasuk dalam komunikasi bisnis. Komunikasi bisnis yang efektif dapat membantu terbangunnya goodwill perusahaan. 

Menurut Elisabetta Ghisini dan Angelika Blendstrup, komunikasi bisnis adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan hasil. Terdapat suatu kutipan yang dirasa benar dan berkaitan dengan komunikasi bisnis, yakni “Bagaimana caranya kita tau bahwa presentasi kita berhasil jika bukan karena tujuan kita tercapai?”

Tujuan dari komunikasi bisnis ini sangat beragam. Bisa jadi tujuan komunikasi bisnismu hanya untuk memberikan informasi kepada audiens atau bisa jadi komunikasi yang kamu lakukan untuk mempengaruhi audiens melakukan sesuatu atau memikirkan sesuatu. Apapun tujuanmu, ia akan mempengaruhi bagaimana caramu berkomunikasi dan apa saja pesan yang akan kamu sampaikan. Tentunya, hal-hal yang akan kamu sampaikan lebih mengarah untuk mencapai tujuan yang kamu miliki. 

Masih senada dengan pengertian komunikasi bisnis yang disampaikan di atas, Djoko Purwanto mengatakan bahwa komunikasi bisnis dapat diartikan secara sederhana. Menurutnya, komunikasi bisnis adalah komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis yang mencakup berbagai macam bentuk komunikasi, baik komunikasi verbal maupun nonverbal untuk mencapai tujuan tertentu. 

Sedikit berbeda dengan dua pengertian komunikasi bisnis sebelumnya, Katz mengartikan komunikasi bisnis sebagai adanya pertukaran ide, pesan, dan konsep yang berkaitan dengan serangkaian pencapaian tujuan komersial. Meski berbeda dengan kedua pengertian di atas, pengertian dari Katz ini juga mampu mencakup penjelasan dari sisi lain komunikasi bisnis.

Pengertian komunikasi bisnis lainnya datang dari pemikiran Rosenbaltt. Menurutnya, komunikasi bisnis adalah pertukaran ide-ide, opini, informasi, instruksi, dan sejenisnya yang disampaikan secara personal maupun non personal melalui simbol atau tanda untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan. Rosenbaltt secara jelas menyebutkan bahwa komunikasi merupakan komunikasi yang terjadi di perusahaan. 

Komunikasi bisnis juga dapat diartikan sebagai kegiatan berbagi informasi yang terjadi diantara orang-orang dalam suatu perusahaan yang dilakukan untuk kepentingan komersial organisasi. Selain itu, komunikasi bisnis juga dapat mengacu pada bagaimana suatu perusahaan membagikan informasi untuk mempromosikan produk atau jasanya kepada calon pembeli (Haase, 2013).

Pada intinya komunikasi bisnis adalah pertukaran ide, informasi, opini, dan sejenisnya yang berkaitan dengan segala urusan bisnis. Biasanya terjadi di dalam suatu organisasi atau perusahaan. Komunikasi dalam suatu bisnis dapat menjadi kunci keberhasilan. Maka dari itu, komunikasi disebut sebagai elemen yang vital dalam dunia bisnis.

Unsur-Unsur Komunikasi Bisnis

unsur-unsur komunikasi bisnis
Sumber : oleh Free-Photos dari Pixabay

Menurut Radna Andi Wibowo ada 6 unsur-unsur komunikasi, diantaranya:

1. Adanya Tujuan

Kita memang tidak akan bisa hidup tanpa berkomunikasi. Apapun yang kita lakukan pasti mengandung pesan, dan hal ini bisa disebut sebagai komunikasi. Bahkan tanpa kita sadari, kita bisa saja sedang berkomunikasi dengan banyak orang.

Hal tersebut berlawanan dengan komunikasi bisnis. Komunikasi bisnis dilakukan karena adanya tujuan. Bisa saja itu tujuan untuk kepentingan diri sendiri maupun untuk kepentingan perusahaan.

2. Ada Pertukaran

Komunikasi bisnis melibatkan setidaknya dua orang, yakni komunikator dan komunikan. Tidak menutup kemungkinan komunikasi dilakukan oleh lebih dari dua orang. Misalnya saja saat kita melakukan pidato di hadapan para pemilik saham dari perusahaan kita. Meski tema pidato yang kita bawakan bukanlah persoalan bisnis, namun penampilan kita saat berpidato juga mempengaruhi bisnis yang terjalin.

3. Berisi Informasi, Gagasan, Opini dan Instruksi

Pesan yang ada dalam komunikasi bisnis bisa jadi berupa informasi, gagasan, opini dan instruksi.

4. Memanfaatkan Saluran Personal atau Impersonal

Maksudnya adalah komunikasi dapat dilakukan dengan bertatap muka atau menggunakan media perantara yang dapat menghubungkan kedua pihak atau lebih. Bisa juga menggunakan saluran yang bersifat personal atau yang dapat menjangkau banyak orang.

5. Memakai Simbol atau Sinyal

Maksudnya adalah menggunakan metode berkomunikasi yang dapat dimengerti dan disepakati oleh kedua pihak.

6. Pencapaian Target atau Tujuan Organisasi

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa komunikasi bisnis sudah pasti memiliki tujuan. Komunikasi bisnis lebih sering untuk dipersiapkan terlebih dahulu. Mengapa? Karena dari komunikasi tersebut kita berharap bahwa tujuan yang kita inginkan maupun tujuan yang diinginkan oleh organisasi dapat tercapai. 

Fungsi Komunikasi Bisnis

fungsi komunikasi bisnis
Sumber : oleh bertholdbrodersen dari Pixabay

Komunikasi memiliki peran yang vital dalam dunia bisnis. Bahkan bisa juga dikatakan bahwa komunikasi merupakan kunci keberhasilan dari bisnis. Bagi kamu yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik, kamu patut bersyukur karena kamu mempunyai satu poin plus. Karyawan yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik berdampak pada performa kerjanya yang menjadi baik, pada akhirnya hal ini mempengaruhi keberhasilan organisasi.

Keterampilan komunikasi yang diperlukan dunia bisnis ini meliputi banyak hal, misalnya menulis, membaca, mendengar, berkomunikasi secara nonverbal, maupun keterampilan dalam berbicara. Selain itu, keterampilan berkomunikasi lain yang menunjang dalam dunia bisnis adalah keterampilan dalam berkomunikasi dengan rekan kerja, manajer, klien, pelanggan-pelanggan yang beragam sikap dan sifatnya, yang berbeda etnis, gender, maupun usia.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam dunia bisnis kita akan berkomunikasi karena berbagai tujuan atau alasan dan metode yang kita gunakan akan bergantung pada alasan, kondisi, dan orang yang berkomunikasi dengan kita. Berikut ini adalah beberapa tujuan mengapa komunikasi merupakan hal yang penting dalam lingkungan bisnis menurut Michael Bennie:

  1. Untuk memberikan informasi
  2. Untuk mempengaruhi orang-orang untuk membeli atau menggunakan produk atau jasa
  3. Untuk mendiskusikan suatu isu
  4. Untuk merekomendasikan suatu tindakan
  5. Untuk menjawab suatu permintaan
  6. Untuk menjawab suatu komplain
  7. Untuk mencatat suatu hak yang sudah terjadi atau telah disepakati
  8. Untuk menjelaskan atau mengklarifikasi suatu kondisi
  9. Untuk memberikan instruksi

Untuk berbagai alasan tersebut, komunikasi menjadi hal yang penting di sini. Metode dan gaya komunikasi yang digunakan akan berbeda, tergantung dari tujuan yang kita miliki. Tentunya, nada dan gaya bahasa yang kita gunakan akan berbeda saat kita sedang ingin melakukan komplain dengan saat ingin mempengaruhi orang untuk membeli barang kita.

Selain itu, dalam dunia bisnis kita akan menemukan berbagai perjanjian dan kesepakatan, terlebih lagi saat kita melakukan kerjasama. Perjanjian atau kesepakatan ini perlu dicatat, sehingga kita harus mampu merubah kata-kata perjanjian atau kesepakatan menjadi sebuah tulisan. Nantinya, tulisan inilah yang akan menjadi pegangan masing-masing pihak dalam melakukan kerjasama.

Baca juga: Contoh Riset Pemasaran 

Proses Komunikasi Bisnis

proses komunikasi bisnis
Sumber : oleh Tumisu dari Pixabay

Proses komunikasi bisnis memiliki 6 tahapan menurut Bovee dan Thill yakni :

1. Pengirim Mempunyai Suatu Ide atau Gagasan

Tahapan ini merupakan awal dari komunikasi bisnis yang akan terjadi. Ide ini masih berupa data mentah yang masih belum diproses menjadi pesan. Sehingga masih belum dapat disampaikan kepada komunikan. Dengan kata lain, pada tahapan ini merupakan penemuan ide mentah. 

2. Pengirim Mengubah Ide Menjadi Pesan

Kita pasti sering merasakan bahwa kita mempunyai ide besar dan cemerlang yang menurut kita wajib didengar oleh orang lain. Namun, kita bingung untuk mengatakannya. Pada tahap ini, bisa dikatakan tahapan dimana kita sedang merasakan bingung dan berpikir bagaimana cara yang efektif untuk menyampaikan ide. Utamanya, kita akan berpikir bagaimana calon komunikan kita mengerti apa yang kita maksud dan kata-kata apa saja yang tepat untuk mewakili gagasan yang ada di dalam kepala kita.

3. Pengirim Menyampaikan Pesan

Ketika ide sudah berubah menjadi pesan, maka kita akan menyampaikannya kepada penerima atau komunikan. Sebelum sampai pada tahapan ini, kita juga sekaligus berpikir media apa yang dapat digunakan untuk melancarkan pengiriman gagasan. Terkadang ketika kita ingin menyampaikan sebuah ide besar, kita ingin bertemu langsung dengan penerima pesan. Hal ini karena kita percaya bahwa cara paling efektif dalam menyampaikan gagasan adalah dengan bertemu langsung.

4. Penerima Menerima Mesan

Pada tahap inilah sebuah komunikasi yang menjalinkan antara komunikan (penerima) dengan komunikator (pengirim). Di tahap ini penerima hanya sampai pada menerima pesan, baik dengan mendengar, membaca, melihat atau merasakannya.

5. Penerima Menafsirkan Pesan

Pada tahap ini penerima mulai memproses pesan yang diterimanya. Kita sendiri pun juga menyadari bahwa, kita tidak selalu cepat dalam memahami maksud dari pengirim pesan. Terkadang kita butuh waktu untuk berpikir dan menafsirkan pesan. Terlebih lagi jika kita terlalu cepat memproses pesan, kita bisa saja salah dalam menafsirkannya. Sehingga jika ragu, kamu bisa mengkonfirmasi pemahamanmu kepada si pengirim secara langsung.

6. Penerima Memberikan Tanggapan atau Feedback

Setelah penerima berhasil menafsirkan pesan yang ia terima, selanjutnya ia memberikan respon terhadap pesan yang disampaikan. Penafsiran penerima terhadap pesan dapat dipengaruhi oleh banyak hal, utamanya adalah pengaruh dari wawasan dan keyakinan yang dimiliki oleh penerima.

Dari feedback yang disampaikan inilah kita dapat mengetahui apakah terjadi hambatan saat proses komunikasi, atau komunikasi bisnis berjalan lancar dan kedua pihak memiliki makna yang sama saat menafsirkan pesan yang dikirimkan. Jika tidak memiliki kesamaan makna antara pengirim dan penerima, maka komunikasi bisnis yang dilakukan dinyatakan kurang efektif. Itu berarti bahwa, dalam komunikasi tersebut terdapat hambatan. 

Hambatan dan Penyelesaian dalam Komunikasi Bisnis

hambatan komunikasi bisnis
Sumber : oleh Free-Photos dari Pixabay

Inti dari komunikasi adalah komunikator mengirimkan pesan kepada komunikan untuk mencapai kesamaan makna. Ketika komunikan sudah menerima pesan namun tidak memiliki kesamaan makna dengan komunikator, maka komunikasi tersebut dikatakan tidak efektif. 

Begitu juga dengan komunikasi bisnis. Ketika kedua pihak tidak memiliki kesamaan makna saat pesan sudah diterima, maka komunikasi bisnis tersebut tidak efektif. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini karena adanya hambatan dalam komunikasi. Berikut beberapa hambatan yang biasanya terjadi dalam komunikasi bisnis menurut (Purwanto, 2006):

1. Masalah dalam Mengembangkan Pesan

Permasalahan ini biasanya muncul ketika pengirim ragu-ragu untuk menyampaikan isi pesannya kepada penerima atau komunikan. Selain itu, bisa jadi karena si pengirim atau komunikator tidak terbiasa dengan kondisi yang ada.

Hambatan lain yang dapat mempengaruhi komunikator susah mengembangkan pesan adalah adanya rasa asing terhadap audiens, atau kesulitan saat mengekspresikan gagasannya. Terkadang kita merasa bingung, kata-kata apa, dan bagaimana caranya mengungkapkan apa yang ada dipikiran kita. Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan tidak dapat terbentuk secara sempurna untuk mewakili gagasan. Jika sudah begitu, maka dikhawatirkan akan terjadi kesalahpahaman. 

Solusi dari permasalahan ini, kamu perlu banyak membaca atau mendengar pesan orang lain. Mendengar merupakan keahlian dalam berkomunikasi. Tidak banyak orang yang sadar bahwa kemampuan mendengar merupakan kemampuan yang banyak dibutuhkan. Beberapa permasalahan komunikasi terjadi karena tidak banyak orang yang mampu mendengar dengan baik. Biasanya orang mendengar hanya untuk membalas obrolan saja, tidak untuk benar-benar memahami atau mengerti dengan pesan yang disampaikan.

2. Masalah dalam Menyampaikan Pesan

Seorang komunikator bisa saja sudah menyiapkan pesannya sesempurna mungkin. Ia sudah memikirkan apa saja yang akan disampaikan dan melalui media apa ia menyampaikannya. Namun, hal ini tidak menjadi jaminan bahwa komunikasi akan berjalan lancar. 

Seseorang bisa saja gagal dalam menyampaikan pesan. Hal ini bisa saja karena permasalahan teknis, misalnya saja ketika kita sedang menelepon klien, jaringan telepon yang kamu kurang baik. Akhirnya, suara menjadi terputus-putus dan pesan yang kamu sampaikan menjadi susah untuk dimengerti.

Contoh lain dari permasalahan ini, misalnya saja kita hendak melakukan presentasi rencana kerja sama di hadapan klien. Namun saat menyampaikannya kita merasa gugup. Akhirnya, penyampaian pesan menjadi tidak maksimal dan berdampak pada kesalahpahaman.

Solusi dari permasalahan ini, kamu bisa menyiapkan performa kamu sebelum akhirnya menyampaikan kepada si penerima atau komunikan. Coba untuk lebih banyak membaca tulisan orang lain atau melihat orang lain dalam menyampaikan pesan. Dari situ, kamu bisa berlatih untuk menyampaikan pesan dengan baik. 

Jika memutuskan menyampaikan pesan menggunakan media, pastikan bahwa media yang kamu gunakan tepat untuk menyampaikan pesan dan dapat digunakan juga oleh calon penerima pesanmu. Pastikan bahwa perangkat yang kamu dan penerima gunakan memadai untuk melakukan komunikasi. 

3. Masalah dalam Menerima Pesan

Permasalahan pada komunikasi juga bisa jadi berasal dari si penerima pesan. Penerima pesan bisa saja gagal dalam menerima pesan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bisa saja karena perangkat yang digunakan kurang memadai untuk menerima pesan ataupun bisa saja permasalahan terletak pada diri si penerima. 

Misalnya, saat kita berbicara dengan seseorang, tiba-tiba muncul suara yang sangat gaduh dari beberapa kendaraan yang lewat. Suara gaduh ini membuat kemampuan mendengar si penerima menjadi semakin lemah. Pada akhirnya, ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan.

Penting untuk mengenali siapa yang akan menerima pesanmu. Buat apa sih harus kenal sama audiensnya? Mengenal audiens ini bukan serta merta mengajaknya kenalan ya. Mengenal audiens yang dimaksud di sini adalah mengetahui berapa umur audiensmu, apa profesinya, dan lain-lain. Dengan begitu, maka kamu akan bisa menentukan sikap dalam penyampaian. Sekaligus, kamu juga dapat memperkirakan media apa yang tepat untuk menyampaikannya. 

4. Masalah dalam Memaknai Pesan

Ketika pesan berhasil dikembangkan, penyampaian pesan sangat sempurna, dan penerima tidak mengalami hambatan apapun dalam menerima pesan, tidak menjamin komunikasi dapat dikatakan berhasil. Bisa jadi, ketika penerima sudah menerima pesan, ia mengalami hambatan dalam memaknai pesan. 

Kesalahan dalam memaknai pesan ini bisa terjadi karena beberapa hal. Diantaranya adalah adanya perbedaan latar belakang antara penerima dan pengirim, perbedaan penafsiran kata dan perbedaan reaksi emosional. 

Kesalahan dalam memaknai pesan oleh audiens atau penerima ini sebenarnya sudah ada di luar kontrol kita. Namun, kita masih dapat mengantisipasinya dengan memastikan ketiga poin sebelumnya berjalan dengan baik. Selain itu kamu juga bisa mengkonfirmasi kepada audiens, apakah mereka memiliki makna yang sama dengan apa yang kamu sampaikan. Karena hal ini sangat penting dalam komunikasi bisnis. Jika kedua belah pihak salah paham, maka akan berdampak pada bisnis kita. 

Baca juga: Mengenal Kualitas Pelayanan

Teori-Teori dalam Kajian Komunikasi Bisnis

teori komunikasi bisnis
Sumber : oleh aymane jdidi dari Pixabay

Teori dalam komunikasi bisnis berkaitan dengan konsep etika komunikasi bisnis. Dalam komunikasi bisnis, juga mengenal istilah etika komunikasi bisnis. Etika sendiri dapat didefinisikan sebagai adat-kebiasaan atau pola pikir yang dianut oleh suatu kelompok orang atau masyarakat. Selain itu etika juga berarti pola tindakan yang dijunjung tinggi dan dipertahankan oleh masyarakat. 

Menurut Coutland L. Bovee dan John V. Thil etika dalam komunikasi bisnis berlandaskan tiga prinsip yaitu rasa hormat, sopan santun, dan akal sehat. Ketiga prinsip tersebut dapat digunakan dalam menghadapi beragam situasi yang berbeda bahkan kompleks dalam komunikasi bisnis. 

Terdapat lima teori etika komunikasi bisnis yang dapat menjadi peganganmu saat melakukan komunikasi bisnis. Berikut ini lima teori etika bisnis komunikasi:

1. Teori Kewajiban atau Deontologisme

Teori ini disampaikan oleh seorang filsuf yang bernama Immanuel Kant. Maksud dari teori ini adalah seseorang akan mengerjakan suatu pekerjaan dengan baik apabila pekerjaan tersebut merupakan kewajiban baginya. Jadi, jika itu bukan pekerjaan wajibnya, belum tentu ia melakukan yang terbaik. 

Misalnya, seorang customer service selalu bersikap ramah meskipun ia menerima banyak komplain dari pelanggan. Bahkan, meskipun kendala yang dialami pelanggan berasal dari kesalahan pelanggan sendiri, ia dengan sabar melayani pelanggan. Mengapa demikian? Apakah seorang customer service tidak memiliki emosi?

Tentu saja punya. Namun, customer service memiliki kewajiban untuk melayani pelanggan dengan ramah. Sehingga, ia akan tetap ramah ketika melayani pelanggan. Karena hal ini akan mempengaruhi kualitas pekerjaannya.

2. Teori Manfaat atau Utilitarianisme

Menurut teori ini tindakan dapat dikatakan baik apabila tindakan itu memiliki manfaat bagi orang banyak. Sehingga, sebisa mungkin tindakan yang ditimbulkan memberikan dampak kebahagiaan oleh sebagian besar orang. 

Penyampaian komunikasi bisnis yang transparan, dapat dipercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan merupakan komunikasi bisnis yang dinilai baik dan dapat memuaskan bagi para pelaku bisnis. Misalnya saja ketika pada suatu perusahaan terjadi keterlambatan pengiriman gaji karyawan. Kendala tersebut akan memicu kerusuhan jika komunikasi bisnis yang dilakukan tidak dilakukan dengan benar. Karyawan sebenarnya hanya ingin mengetahui apa yang terjadi sehingga gaji telat dibayarkan. Ketika para karyawan sudah menerima kejelasan mengenai gaji, setidaknya mereka akan merasa lebih puas dan memahami dengan kendala yang terjadi.

Kalau kita pikirkan kembali mengenai penjelasan teori ini, kita akan menyadari bahwa tidak selamanya kebahagiaan berdampingan dengan kebaikan. Hal inilah yang menjadi celah pada teori ini untuk didiskusikan bersama. 

Misalnya saja, seorang sales officer mampu meyakinkan calon pembeli dengan produk yang ia tawarkan. Ia menjelaskan mengenai produknya yang sangat tepat untuk memenuhi kebutuhan calon pembeli. Calon pembeli merasa sangat puas dan senang dengan penjelasannya. Di sisi lain, ada efek-efek samping lain yang tidak terlalu jelas disampaikan kepada calon pembeli.

3. Teori Nikmat/Kegembiraan atau Hedonisme

Kata-kata hedonisme sudah sering kita dengar ya setiap harinya. Ketika kita melihat teman kita sedang membeli barang-barang mewah maka dengan mudahnya kita menyebutnya dengan hedon. Tetapi, apakah benar hedon yang kita maksud sudah sesuai dengan teori hedonisme yang akan dibahas pada artikel ini? Mari kita lanjut menyimak.

Umumnya, hedonisme berarti pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Maka dari itu, orang-orang yang menganut prinsip hidup hedonisme selalu berusaha mencari kebahagiaan dan menghindari rasa sakit. 

Dalam dunia bisnis, hal ini bisa dimanfaatkan untuk memberikan insentif, tunjangan, bonus, atau fasilitas kerja yang memadai kepada karyawan. Ketika karyawan merasa nyaman dan bahagia, maka diharapkan ia akan lebih loyal atau bekerja lebih keras untuk perusahaan.

Jadi, hedonisme tidak melulu soal membeli barang mewah ya. Selama seseorang selalu mengejar kebahagiaan dan kenikmatan, serta menghindari rasa sakit bahkan sudah menjadi prinsip hidupnya, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai hedonisme.

4. Teori Keutamaan atau Virtue Ethic

Dalam dunia bisnis juga memerlukan watak dan kehendak yang baik dari para pelaku bisnis. Maka dari itu, keutamaan moral menjadi hal yang penting dalam komunikasi bisnis. Sebagian para pelaku bisnis memiliki prinsip seperti ini, yang mengutamakan bertindak sesuai apa yang ia yakini baik dan benar. 

Watak dan prinsip para pelaku bisnis akan mempengaruhi bagaimana ia bersikap. Seperti halnya ketika ia selalu melakukan komunikasi yang bersifat satu arah saja, dan tidak mengharapkan timbal balik dari pihak lain. Maka hal tersebut tidak dapat dibenarkan, karena tidak sesuai dengan komunikasi bisnis yang etis.

Menurut Ngorang Philipus (2018) keutamaan moral dalam komunikasi bisnis hanya mungkin muncul dari keberanian pemilik kapital untuk keluar dari lingkaran kepentingan egoistik dan membuka secara transparan dan akuntabel komunikasi yang dialogis dengan seluruh pemangku kepentingan. Jadi, ia tidak hanya mementingkan yang menurutnya benar saja dan tidak mendengarkan pihak yang lain. 

Poin penting dalam teori ini adalah pentingnya membuka komunikasi bisnis yang dialogis dengan para pelaku bisnis lainnya yang memiliki kepentingan. Selain itu, kejujuran, transparansi, tanggung jawab, keberanian moral, rendah hati, dan dapat dipercaya merupakan sifat-sifat yang penting untuk dimiliki dalam watak pelaku bisnis.

5. Teori Hak

Teori ini menjelaskan bahwa sebagai pelaku bisnis, kita juga harus memikirkan hak-hak pelaku bisnis lainnya. Misalnya, konsumen berhak mengetahui bahan apa saja yang dipakai pada produk kita. Selain itu, konsumen berhak menerima informasi yang tepat dan akurat.

Contoh lainnya adalah karyawan berhak tahu apa saja yang sedang terjadi dengan perusahaannya. Ketika hak-hak karyawan terpenuhi, maka karyawan akan merasa lebih diperhatikan oleh perusahaan. Selanjutnya dari pemenuhan hak tersebut, diharapkan terjalin komunikasi bisnis yang harmonis.

Baca juga: Cara Mengenali Perilaku Konsumen

Sekian pembahasan soal komunikasi bisnis pada artikel ini. Cukup panjang ya? Kalau kamu masih membutuhkan informasi lebih lanjut tentang komunikasi bisnis, kamu bisa kepoin lebih lanjut referensi di bawah ini ya. Tetap semangat belajar ya biar tambah pinter!


Referensi :

Bennie, M. 2009. A Guide to Good Business Communication : How to Write and Speak English Well in Every Business Situation 5th Edition. Oxford : How To Content.

Christy, N. 2019. Komunikasi Bisnis. Radna Andi Wibowo.

Ghisini, E. & Blendstrup, A. 2008. Communicationg the American Way : A Guide to U.S Business Communications. California : Happy About.

Haase, F. 2013. Business Communication and Globalized English : Recent Definitions and Applications of A Concept Across the Corporate World. Fonseca, Journal of Communication. 53-85.

Philipus, N. 2018. Komunikasi Bisnis yang Etis : Sebuah Tinjauan Kritis. Jurnal Komunikasi dan Bisnis. 45-58.

Purwanto, D. 2006. Komunikasi Bisnis Edisi Ketiga. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Artikel Terbaru

Mayang Lestari

Mayang Lestari

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya. Memilih peminatan Manajemen Komunikasi namun sering tertarik dengan kajian media massa.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *