Jenis Observasi: Pengertian dan Pelaksanaan

Seiring berjalannya waktu, observasi menjadi sebuah hal yang perlu dilakukan demi berkembangnya ilmu pengetahuan. Dalam menangkap gejala-gejala yang divisualisasikan oleh realitas, manusia memerlukan observasi untuk melakukan pengkajian yang sistematis (Hasanah, 2016). Sebenarnya, setiap orang dibekali kemampuan alami untuk melakukan observasi. Namun, apakah setiap orang mampu melakukan observasi?

Meski awalnya observasi tidak dianggap ilmiah, saat ini observasi menjadi salah satu jenis metode utama dalam pengumpulan data. Sebenarnya, apa itu observasi? Dalam kondisi seperti apa metode pengumpulan data jenis observasi dapat dilakukan? Yuk, simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai jenis observasi secara umum.

Pengertian Observasi

Pengertian Observasi
Sumber: Dariusz Sankowski dari Pixabay

Hasanah (2016) mendefinisikan observasi sebagai aktivitas mencatat berbagai gejala dengan bantuan instrumen-instrumen dan merekamnya dengan tujuan ilmiah atau tujuan lainnya. Makna dan kata lainnya, observasi adalah kumpulan kesan terhadap gejala/peristiwa dunia luar berdasarkan kemampuan manusia dalam menggunakan panca indera. Melibatkan mulai dari indera penglihatan, pendengaran, perabaan, hingga penciuman.

Secara umum, observasi adalah proses mengumpulkan data dengan cara sengaja dan sistematis. Pelaksanaannya dengan mengamati dan mencatat gejala-gejala pada objek/subjek yang sedang diteliti. Dalam arti sempit, observasi adalah mengamati langsung dalam situasi alamiah maupun situasi buatan. Secara luas, observasi memang melingkupi pengamatan secara tidak langsung. Observasi yang dilakukan menggunakan alat bantu yang telah disiapkan sebelumnya.

Dalam implementasinya, observasi tidak selalu digunakan secara mendasar dan independen. Terkadang, observasi dilakukan bersamaan dengan rancangan penelitian eksperimental hingga wawancara. Jenis observasi yang digunakan pun bervariasi, tergantung tujuan dan maksud observasi dilakukan. Tergantung pula pada setting (latar), kebutuhan, dan maksud dari sebuah penelitian.

Baca juga: Contoh Makalah

Pelaksanaan Observasi

Sebetulnya, observasi adalah metode paling tua dan paling mendasar dalam pengumpulan data. Dengan demikian, observasi hampir selalu dilakukan pada setiap bentuk penelitian dan pemeriksaan psikologi. Sejumlah ahli berpendapat bahwa observasi dapat dilakukan dalam bentuk sederhana maupun kompleks, oleh karena itu semua orang dapat melakukan observasi. Bertentangan dengan hal tersebut, Cohen & Swerdlik (2018) menyebutkan bahwa observasi harus dilakukan oleh seorang profesional karena tidak semua orang bisa melakukan observasi.

Semakin berkembangnya teknologi, proses observasi pun semakin berkembang pula. Pada kenyataannya, proses observasi dapat dilakukan dengan bantuan peralatan elektronik (kamera untuk mengambil gambar atau video) untuk merekam perilaku. Karena kemudahan teknologi ini, observasi dapat dilakukan secara tidak langsung. Hasil pengamatan observasi pun dapat berbentuk kuantitatif maupun kualitatif. Berikut adalah langkah-langkah melakukan observasi:

  1. Menentukan fungsi, maksud, dan tujuan utama observasi dilakukan.
  2. Menetapkan subjek atau objek yang akan dijadikan bahan observasi.
  3. Merancang latar tempat dan latar waktu proses observasi akan dilakukan.
  4. Membuat list hal-hal atau aspek-aspek apa saja yang akan diamati dalam observasi.
  5. Mempersiapkan rancangan, pedoman, dan tata cara pelaksanaan observasi.
  6. Saat observasi dilakukan, jangan lupa untuk melakukan pencatatan atau perekaman menggunakan kamera/video perekam dalam rangka mengumpulkan data selengkap-lengkapnya.

Jenis Observasi Berdasarkan Struktur

Jenis Observasi Berdasarkan Struktur
Sumber: Pexels dari Pixabay

Terstruktur

Menurut Hasanah (2016), observasi terstruktur ialah observasi yang memuat kerangka, faktor dan ciri khusus dalam setiap gejala yang diamati. Karakteristik utamanya adalah lebih menekankan pada segi waktu atau interval khusus, misalnya pengamatan gejala setiap 10 sampai 15 menit. Hal yang perlu diingat, isi dan luas observasi lebih terbatas karena sesuai dengan rumusan dan rancangan yang telah disiapkan.

Tujuan dan rancangan observasi biasanya sudah dirumuskan dari awal sebelum observasi dilakukan. Dengan demikian, kelebihannya adalah respon dan peristiwa dapat dicatat secara lebih teliti dan dapat dikuantifikasikan. Oleh karena itu, data dan hal-hal penting yang ingin diamati dalam proses observasi dapat terkumpul dengan lengkap dan komprehensif.

Tidak Terstruktur

Berbeda dengan jenis terstruktur, observasi tidak terstruktur dilakukan tanpa adanya persiapan dan perencanaan yang sistematis sebelumnya. Yang dilakukan adalah mencatat data atau gejala di lapangan yang relevan dengan tema, meskipun tidak tertulis di dalam rancangan observasi. Mengapa demikian? Karena, dalam jenis ini, peneliti tidak tahu secara pasti apa poin-poin penting apa yang ingin diamati.

Hasil akhir observasi tidak terstruktur biasanya berwujud catatan lapangan dengan bentuk anecdotal record. Anecdotal record adalah proses pencatatan observasi yang berisi gambaran secara naratif atas sebuah kejadian atau peristiwa yang cenderung spontan. Sebenarnya, observer tetap membuat rancangan observasi, namun tidak digunakan secara baku seperti observasi terstruktur. Oleh karena itu, observer dapat bekerja secara fleksibel saat terjadi perubahan situasi di lapangan.

Baca juga: Metode Wawancara

Jenis Observasi Berdasarkan Keterlibatan Observer

Partisipatif

Pada observasi partisipatif, observer menjadi pihak yang integral dan terlibat langsung dengan situasi yang sedang diteliti (Mania, 2008). Di jenis ini, observer lebih dapat menghayati proses observasi, karena observer ikut mengalami sendiri apa yang dilalui/dilakukan oleh objeknya. Namun, kelemahannya adalah, hasil pengamatan cenderung subjektif. Karena situasi tertentu, observer bisa jadi kurang konsentrasi sehingga hasil pengamatan akan terpengaruh dengan pendapat dirinya sendiri.

Jenis observasi partisipatif yang mana observer terlibat dalam kehidupan seseorang yang diobservasi, umum dilakukan pada penelitian yang bersifat eksploratif. Yaitu penelitian dengan tujuan menggali dan mengkaji sesuatu atau peristiwa yang baru. Fenomena yang belum banyak diketahui oleh orang banyak, sehingga ingin diteliti lebih mendalam lagi.

Dalam pelaksanaannya, untuk mencegah kecurigaan observer yang ikut terjun langsung ke situasi yang sedang diamati, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Utamanya adalah observer diharapkan untuk melakukan pendekatan dengan subjek secara alamiah, oleh karena itu semuanya akan terlihat wajar. Lalu, apakah observer akan terlibat secara penuh atau hanya sebagai pengamat saja, dapat disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tujuan observasi.

Non-Partisipatif

Berkebalikan dengan observasi partisipatif, observasi non-partisipatif menempatkan observer di luar garis dan batasan kegiatan observasi (Mania, 2008). Model non-observatif digunakan ketika situasi dan kondisi mengisyaratkan bahwa observasi partisipatif sulit untuk dilakukan. Kekurangan dari jenis ini adalah, subjek/partisipan akan merasa bahwa ada yang memperhatikan perilaku dan gerak-gerik mereka. Sehingga, observer perlu menyesuaikan diri agar terlihat alami dan tidak begitu menonjol.

Jenis Observasi Berdasarkan Desain Penelitian

Natural

Observasi natural adalah jenis observasi yang dilaksanakan dengan latar atau setting yang alamiah dan natural (Hasanah, 2016). Maksudnya, tanpa ada upaya dari observer untuk mengontrol atau memanipulasi perilaku objek yang diamati. Menggunakan jenis ini, observer akan mendapatkan data yang representatif secara alamiah, oleh karena itu validitas eksternalnya cenderung baik. Nilai positifnya ialah, perilaku objek akan terlihat natural (tidak terlihat dibuat-buat atau direkayasa).

Eksperimental atau Laboratorium

Observasi eksperimental atau bisa juga disebut sebagai observasi laboratorium, berkebalikan dengan jenis yang natural. Umumnya, dilakukan dalam setting atau penelitian dengan tujuan untuk eksperimen. Observer memiliki suatu upaya untuk mengendalikan unsur-unsur penting ke dalam situasi, sehingga menjadikan situasi dan kondisi dapat diatur sesuai tujuan penelitian. Di satu sisi, dapat mengurangi atau mencegah timbulnya faktor-faktor dari luar yang dapat mempengaruhi proses observasi.

Hasanah (2016) mengatakan bahwa observasi eksperimental bertujuan untuk mengetahui apakah perilaku yang muncul, benar-benar disebabkan oleh faktor yang dikendalikan sebelumnya. Ciri-ciri utama dari jenis ini adalah, subjek/objek (observe) dihadapkan pada sebuah situasi sekaligus diberi rangsangan atau stimulus yang berbeda. Tujuan akhirnya, akan memunculkan berbagai variasi perilaku, bisa jadi sama (seragam) bisa jadi berbeda.

Namun, perlu diingat, situasi harus diciptakan sedemikian rupa agar observe (subjek/objek) tidak mengetahui maksud dan tujuan utama dari observasi tersebut.

Jenis Observasi Berdasarkan Keamanan Subjek

Obtrusive

Apabila dilihat dari sisi keamanan subjek (observee), observasi bisa dibagi menjadi dua, yaitu obtrusive dan non-obtrusive. Obtrusive adalah metode observasi yang terlibat langsung dengan subjek. Biasanya menggunakan bantuan kegiatan asesmen. Seperti wawancara, pengisian kuesioner, pelaksanaan tes, hingga eksperimen yang bersifat manipulatif. Sementara itu, observasi unobtrusive adalah kebalikannya, tidak terlibat sama sekali dengan lingkungan sosial.

Unobtrusive

Unobtrusive ialah metode observasi yang tidak mengganggu lingkungan sosial serta tidak terlibat langsung dengan penduduk. Tidak berinteraksi dengan subjek melalui berbagai macam asesmen (tes, wawancara, atau perlakuan lainnya). Mengutip pernyataan Hasanah (2016), observasi unobtrusive merupakan observasi yang tidak merubah perilaku alami subjek.

Dapat dilakukan dengan memanfaatkan bantuan alat, atau observer berusaha untuk menyembunyikan identitasnya (agar tidak dikenal oleh subjek/observee). Implementasi jenis observasi obtrusive dapat ditemui pada naskah, tulisan, draft, teks, hingga rekaman audio visual. Termasuk jejak perilaku, pakaian, benda-benda di museum, arsip pekerjaan, data demografi, rekaman, dan lain sebagainya. Di sisi lain, metode observasi obtrusive menggunakan metode wawancara, kuesioner, tes, eksperimen manipulatif.

Pada konteks observasi, dikenal istilah contrived observation. Yaitu digunakannya perangkat keras seperti kamera, handycam, alat rekam suara, hingga one way mirrors saat proses observasi berlangsung. Tentunya, disesuaikan dengan tujuan observasi dengan tetap memperhatikan etika dan informed consent dari subjek yang terlibat.

Baca juga: Contoh Laporan Penelitian

Menjadi Observer

Bagaimana cara menjadi observer? Apakah semua orang bisa menjadi observer? Jawabannya, ada standar keahlian khusus yang diperlukan untuk menjalaninya. Observer harus terlatih dalam melakukan observasi. Memahami materi dan rancangan observasi, serta cermat dan teliti dalam melihat detail. Selain mampu menjaga kerahasiaan data yang telah diperoleh, observer juga harus menjaga dan mematuhi etika observasi.

Untuk keperluan dan tujuan yang bersifat ilmiah seperti penelitian, observer harus memenuhi kualifikasi tersebut. Demi mendapatkan hasi observasi yang objektif, lengkap, menyeluruh, dan dapat dipertanggungjawabkan. Semakin sering melakukan observasi (baik latihan maupun praktik yang sesungguhnya), maka semakin terasah kemampuan dalam mengobservasi.

Kelebihan dan Kekurangan Observasi

Dalam pelaksanaannya, observasi memiliki beberapa kelebihan dan keunggulan dibandingkan dengan metode pengumpulan data lainnya. Kelebihan utamanya adalah mampu menjadi sarana pengumpulan data yang tidak dapat diungkap jika menggunakan alat ukur lainnya. Seperti tes, pengisian skala/kuesioner, wawancara, dan lain sebagiannya.

Selanjutnya, observasi bersifat tidak mengancam atau mengintimidasi sehingga responden merasa lebih rileks dan dapat berperilaku seperti apa adanya. Direncanakan secara sistematis dan dilakukan oleh orang yang sudah ahli, profesional, serta terlatih, observasi dinilai lebih objektif. Oleh karena itu, hasil observasi dapat dipertanggungjawabkan (valid, objektif, reliabel) dan dapat dihubungkan dengan data-data lainnya.

Di sisi lain, observasi juga memiliki kekurangan dan keterbatasan dalam pelaksanaannya. Pertama, proses mental seseorang tidaklah mudah untuk diobservasi. Dengan kata lain, hanya perilaku dan hal-hal fisik (dapat dilihat dengan mata) yang dapat diobservasi. Sedangkan pola pikir, kondisi mental, dan hal-hal tak kasat mata lainnya, tidak bisa dideteksi jika hanya menggunakan observasi.

Baca juga: Contoh Hipotesis Penelitian

Yup, itulah artikel penjelasan lengkap mengenai pengertian, pelaksanaan, jenis, hingga kelebihan dan kekurangan metode wawancara observasi. Meski terdapat banyak kelebihan yang ditawarkan, ternyata dalam pelaksanaannya observasi juga memiliki beberapa keterbatasan. Oleh karena itu, perlu melakukan antisipasi khusus untuk meminimalisir hambatan tersebut. Terima kasih sudah membaca artikel ini sampai selesai, semoga bermanfaat ya!


Sumber:

Cohen, J. R. & Swerdlik, M. E. (2018). Psychological Testing and Assessment: An Introduction to Tests and Measurement 9th Edition. New York: McGraw-Hill Education.

Hasanah, H. (2016). Teknik-teknik Observasi: Sebuah Alternatif Metode Pengumpulan Data Kualitatif Ilmu-ilmu Sosial). Jurnal at-Taqaddum, 8(1), 21 – 46.

Mania, S. (2008). Observasi Sebagai Alat Evaluasi dalam Dunia Pendidikan dan Pengajaran. Lentera Pendidikan, 11(2), 220 – 233.

Artikel Terbaru

Salma

Salma

Lulusan Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada.Mengerjakan skripsi dengan metode kuantitatif.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *