Ragam Gejala Sosial dalam Masyarakat

Tahukah kamu, apa yang dimaksud gejala sosial? Gejala sosial adalah kejadian atau fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Adanya gejala sosial di masyarakat berawal dari adanya perubahan sosial di masyarakat. Untuk mengetahui apa saja contoh gejala sosial yang terjadi di masyarakat? Yuk simak pembahasan di bawah ini.

Perbedaan Sosial, Individu, dan Antarkelompok

gejala sosial
Gerd Altmann dari Pixabay

Perbedaan sosial seperti perbedaan status antar individu maupun kelompok, dimana di masyarakat terjadi perbedaan secara horizontal, yang biasanya disebut dengan diferensiasi sosial, sedangkan perbedaan status sosial secara vertikal disebut dengan istilah stratifikasi sosial.

Adanya perbedan sosial di kehidupan masyarakat terkait status dan peran sosialnya, maka munculnya gejala sosial yang terkait struktur sosial, diferensiasi sosial, dan stratifikasi sosial. Apa saja contoh dari startifikasi sosial dan diferensiasi sosial dan bagaimana penjelasan lebih lengkapnya?

Baca juga: Hubungan Sosial: Pengertian, Jenis, Syarat, Dampat Serta Contoh

Struktur Sosial

  1. Menurut George C. Homan, struktur sosial berhubungan dengan perilaku sosial di kehidupan masyarakat.
  2. Menurut Soerjono Soekanto, struktur sosial merupakan hubungan timbal balik antar individu maupun kelompok sosial terkait peran dan status sosial.

Maka dapat disimpulkan, struktur sosial adalah hubungan sosial antar individu maupun kelompok sosial terkait status dan peran sosialnya masing-masing, serta terdapat nilai dan norma sosial yang mengatur di dalam kehidupan masyarakat.

Adapun 3 unsur penting dalam struktur sosial yaitu adanya kelompok sosial, sistem sosial dan berlangsungnya proses sosial meliputi dinamika sosial dan mobilitas sosial.

Diferensiasi Sosial

Diferensiasi sosial merupakan pengelompokan masyarakat atas dasar ciri-ciri tertentu secara horizontal, seperti diferensiasi terhadap ras, agama, suku bangsa, profesi, dan ciri fisik manusia dan klan (keturunan, kepercayaan, dan adat). Contoh diferensiasi sosial adalah perbedaan agama dalam masyarakat, terdapat enam agama yaitu agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial merupakan pengelompokan masyarakat secara vertikal sehingga memunculkan adanya kelas sosial di masyarakat. Adapun dasar atau acuan yang digunakan dalam pengelompokkan masyarakat yaitu kekuasaan, kekayaan, pendidikan, dan keturunan.

Secara spesifik, wujud stratifikasi sosial dapat dibedakan menjadi 3 kelompok pembeda, yaitu dalam segi sosial, segi ekonomi, dan segi politik.

1. Segi ekonomi, pengelompokkan kelas sosial berdasarkan kepemilikan ekonomi, seperti tingkat kekayaan.

2. Segi politik, pengelompokkan kelas sosial berdasarkan kekuasaan yang dimiliki.

3. Segi sosial, pengelompokkan kelas sosial berdasarkan status sosial. Seperti pembagian kasta pada masyarakat Bali, diantaranya Brahmana, Satria, Waisya, dan Sudra.

Multidimensi Identitas dalam Diri Subjek Individual atau Kelompok

Identitas seseorang dalam masyarakat dilihat dari berbagai sudut pandang. Identitas seseorang merupakan sifat atau ciri khusus yang dimiliki seseorang yang dapat mendukung eksistensi keberadaan seseorang dalam masyarakat. Multidimensi identitas adalah munculnya pandangan yang beragam terhadap seseorang tertentu terkait identitasnya dari masyarakat di sekitarnya.

Contoh dari multidimensi identitas adalah seorang tentara yang gagah bertugas menjaga kesatuan NKRI dan seringkali berperang di medan pertempuran, maka tentara ini dapat dianggap sebagai tokoh masyarakat di tempat tinggalnya, karena secara tidak langsung identitas dan perannya sebagai tentara dapat mengayomi dan memberi teladan bagi masyarakat setempat.

Adapun beberapa faktor yang menyebabkan munculnya multidimensi identitas, sebagai berikut.

1. Adanya perbedaan cara pandang terhadap status dan peranan individu di masyarakat.

2. Adanya ukuran atau standart yang berubah dan tidak sebanding dengan penyandang identitas tersebut.

3. Budaya masyarakat yang semakin beragam dalam memandang identitas individu.

Heterogenitas dalam Kehidupan Masyarakat

Heterogenitas adalah bentuk keanekaragaman yang muncul di masyarakat akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Misalnya heterogenitas dalam pekerjaan, dimana semakin beragamnya pekerjaan dalam masyarakat seiring kemajuan zaman. Heterogenitas dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok, sebagai berikut.

Heterogenitas berdasarkan pekerjaan

Perkembangan masyarakat yang semakin modern, berdampak pada munculnya berbagai macam pekerjaan, seperti pedagang, guru, petani, buruh, marketing, PNS, pegawai swasta, arsitek, dan lainnya. Hal ini menandakan bahwa seiring perkembangan zaman, jenis pekerjaan semakin kompleks di kehidupan masyarakat.

Heterogenitas berdasarkan jenis kelamin

Hal ini terkait pada semakin luasnya fungsi dan peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Hal ini ditunjukkan pada zaman modern seperti sekarang, banyak pekerjaan laki-laki yang dikerjakan oleh perempuan begitupun sebaliknya, banyak pekerjaan perempuan yang dilakukan oleh laki-laki.

Misalnya, munculnya laki-laki yang bekerja sebagai designer, koki, dan perempuan bekerja sebagai sopir truk, pilot, kepala ekskutif, legislatif, dan yudikatif.

Baca juga: Fungsi Sosiologi: Pengertian, Objek Kajian dan Sejarah

Nilai dan Norma sosial

Nilai sosial merupakan gambaran sesuatu yang dianggap baik dan buruk oleh masyarakat. Sedangkan norma sosial merupakan bentuk konkret dari nilai-nilai sosial yang ada. Contoh dari nilai sosial yaitu gotong royong di kehidupan masyarakat. Kemudian contoh dari norma sosial adalah aturan mengenai larangan menyontek di sekolah.

Kembali ke pembahasan nilai sosial, kira-kira apa saja yang menjadi ciri-ciri nilai sosial di masyarakat? Simak pembahasan berikut ini.

1. Adanya konstruksi masyarakat atas hasil interaksi sosial antar anggota masyarakat.

2. Disebarkan melalui antar masyarakat.

3. Nilai sosial terbentuk dari proses sosialisasi.

4. Sebagai usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.

5. Nilai sosial dapat mempengaruhi perkembangan diri seseorang.

Lalu apa fungsi dari adanya nilai sosial? Nilai sosial memiliki 5 fungsi diantaranya sebagai berikut:

1. Sebagai sumbangan seperangkat alat guna menetapkan “harga” sosial dari suatu kelompok.

2. Sebagai bentuk arahan kepada masyarakat dalam bertindak dan berperilaku di kehidupan sehari-harinya.

3. Sebagai penentu terakhir manusia dalam menjalankan peranan sosial.

4. Sebagai alat pembentuk solidaritas di masyarakat.

5. Sebagai pengawas atau mengontrol perilaku manusia agar berperilaku sesuai nilai dan norma yang berlaku di masyarakat setempat.

Norma merupakan seperangkat aturan dan ketentuan yang mengatur tingkah laku masyarakat serta adanya sanksi yang ditetapkan guna mengontrol perilaku masyarakat. Adapun 3 unsur pokok dalam norma sosial yaitu sebagai pedoman tingkah laku masyarakat, sebagai pencegah terjadinya konflik, dan sebagai pedoman untuk pengendalian sosial, melalui sanksi dan larangan.

Norma sosial di masyarakat dapat dikelompokkan menjadi 2 klasifikasi, yaitu berdasarkan daya pengikatnya dan berdasarkan aspek/bidang di kehidupan sosial masyarakat. Mau tahu lebih lanjut? Mari kita simak tabel di bawah ini.

Klasifikasi Norma Sosial

Pengertian

Contoh

Berdasarkan tingkatan/daya pengikat

Tata cara (usage)Perbuatan tertentu yang dilakukan individu dalam masyarakat, apabila ada yang melanggar, sanksi bersifat ringan.Contoh: aturan memegang sendok dengan tangan kanan.
Kebiasaan (folkways)Perbuatan secara sadar yang dilakukan berulang-ulang oleh masyarakat. Folkways/ kebiasaan mempunyai daya pengikat yang lebih besar ketimbang usage serta sanksi yang digunakan berupa teguran, sindiran, dan digunjing.Contoh: menghormati orang yang lebih tua, tidak bersuara saat sedang makan, dan mengucapkan salam ketika bertemu.
Tata kelakuan (mores)Perbuatan atau perilaku di masyarakat berdasarkan aturan tertentu seperti aturan agama.Contoh: larangan berzina, berjudi, mengkonsumsi narkoba.
Adat istiadat (custom)Norma tidak tertulis yang mengatur perilaku masyarakat daerah tertentu dan memilki daya pengikat sangat kuat terhadap masyarakatnya. Biasanya aturan adat istiadat ini diberlakukan oleh masyarakat adat.Contoh: misalnya di suatu dearah, perceraian sangat dilarang, kemudian ada melanggar, maka pelanggar aturan tersebut bisa saja dikeluarkan dari kelompok masyarakat tersebut, karena dianggap tidak memegang teguh adat istiadat yang ada.
Berdasarkan aspek/bidang kehidupan sosialNorma agamaPetunjuk atau pedoman hidup manusia dalam berperilaku berupa perintah, ajaran, larangan yang berasal dari Tuhan.Contoh: Larangan memakan makanan haram seperti babi.
Norma kesusilaan

 

Peraturan yang bersumber dari hati nurani manusia dan diakui oleh anggota masyarakat.Contoh: Menghormati orang yang lebih tua, selalu bersikap jujur.
Norma kesopananPeraturan yang bersumber dari pergaulan masyarakat, dimana mengatur masyarakat dalam bertingkah laku di kehidupan sehari-hari.Contoh: Tidak meludah sembarangan, berbicara sopan kepada orang yang lebih tua, dan tidak mengeluarkan suara saat makan.
Norma hukumPeraturan yang bersumber dari aturan hukum yang dibuat oleh pemerintah setempat. agar tercipta ketertiban dan keteraturan sosial. Sanksi yang diberlakukan dalam norma hukum bersifat mengikat, tegas, dan memaksa. Bentuk dari saknsi norma hukum adalah hukuman mati, hukuman penjara seumur hidup, dan hukuman penjara dalam kurun waktu tertentu.Contoh: Pengendara kendaraan bermotor wajib mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan pengendara mobil wajib menggunakan sabuk pengaman saat berkendara,

 

Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian

Sosialisasi adalah proses pembelajaran individu terkait nilai dan norma yang ada di kehidupan masyarakat, sehingga individu dapat berperilaku sesuai nilai dan norma yang berlaku serta dapat diterima di masyarakat.

Pengertian sosialisasi Menurut Para Ahli

Soerjono Soekanto

Sosialisasi merupakan proses belajar individu dalam membentuk sikapnya untuk berperilaku sesuai nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Paul B. Horton

Sosialisasi adalah proses penghayatan nilai dan norma oleh individu yang berpengaruh untuk membentuk kepribadiannya.

Koentjaraningrat

Proses dimana individu berkembang, mengenal, dan beradaptasi dengan individu lain terkait pola perilaku yang ada di masyarakat.

Proses sosialisasi bertujuan untuk membentuk kepribadian individu dalam berinteraksi dengan masyarakat. Nah, tentunya kepribadian individu pasti berbeda dengan individu lainnya. Mengapa? Karena proses sosialisasi yang berlangsung dipengaruhi oleh faktor lingkungan, budaya dan aspek lainnya. Maka, untuk mengetahui lebih jelas, berikut faktor–faktor pembentukan kepribadian.

Faktor Pembentukan Kepribadian

Warisan biologis

Faktor kepribadian dipengaruhi oleh sifat bawaan dari keluarga, sehingga pengaruh tampak pada kecerdasan dan kematangan fisik individu.

Lingkungan alam

Faktor kepribadian dipengaruhi oleh lingkungan alam terkait perbedaan iklim antar wilayah, topografi, sumber daya alam, sehingga menyebabkan manusia beradaptasi dengan alam.

Lingkungan sosial

Faktor kepribadian dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, seperti lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lainnya. Hal ini dikarenakan setiap lingkungan memiliki nilai dan norma berbeda.

Lingkungan budaya

Adanya perbedaan kebudayaan dalam setiap wilayah masyarakat dapat mempengaruhi kepribadian individu.

Agen Sosialisasi

Agen sosialisasi merupakan tempat proses sosialisasi itu terjadi, dimana terdapat pihak yang mensosialisasikan nilai dan norma kepada individu sehingga perilakunya sesuai dengan aturan di masyarakat. Berikut ada 4 macam agen sosialisasi.

Keluarga

Keluarga merupakan unit kelompok sosial terkecil di masyarakat yang berpengaruh pada sosialisasi serta pembentukan kepribadian individu. Proses sosialisasi yang terjadi di keluarga dapat ditunjukkan pada orang tua yang menasehati anaknya tentang cara berperilaku yang baik.

Pentingnya sosialisasi dalam keluarga, agar nantinya anak di masyarakat umum dapat beradaptasi dengan kondisi masyarakat dan menerapkan nilai dan norma yang berlaku.

Sosialisasi yang dilakukan dapat berupa nasihat, perintah, larangan, dan teguran. Ketika anak melanggar nilai dan norma, maka orang tua berperan untuk memberikan teguran atau hukuman, agar anak paham bahwa tindakannya tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku.

Teman sebaya /peer group

Teman sebaya atau teman pergaulan dapat berperan dalam proses sosialisasi dan membentuk kepribadian individu.

Berbeda dengan proses sosialisasi di lingkungan keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat dari segi usia, peran, dan pengalaman, justru sosialisasi dalam lingkungan teman sebaya, mereka mempelajari pola interaksi dengan orang yang sejajar dengan dirinya baik dari segi umur atau peran.

Sekolah

Sekolah sebagai agen sosialisasi, dimana guru mengajarkan nilai dan norma sosial serta perilaku yang baik di masyarakat, sehingga ketika siswa lulus dari sekolah dan berinteraksi sosial dengan masyarakat lain, diharapkan menjadi pribadi yang baik serta berperilaku sopan.

Guru biasanya juga menerapkan hukuman dan sanksi kepada siswanya yang melanggar aturan di sekolah demi mencapai keberhasilan proses sosialisasi.

Media massa

Media massa seperti televisi, koran, film, majalah dan lainnya juga menjadi sarana sosialisasi individu. Individu secara tidak langsung akan menyerap dan mengadopsi nilai yang disampaikan dalam media massa tersebut. Misalnya, anak berkelahi dengan temannya, karena ia sering melihat film berbau kekerasan di televisi maupun di Youtube.

Penyimpangan Sosial

Penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dimana tindakan tersebut dianggap negatif dan mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat (Narwoko dan Bagong Suyanto, 2014). Adapun beberapa definisi perilaku menyimpang menurut para ahli sebagai berikut.

Paul. B. Horton, perilaku menyimpang adalah perilaku atas pelanggaran terhadap nilai dan norma di masyarakat.

Robert M.Z Lawang, perilaku menyimpang adalah ketidaksesuaian perilaku seseorang terhadap nilai dan norma yang berlaku dalam sistem sosial sehingga memunculkan usaha untuk memperbaiki perilaku menyimpang tersebut oleh pihak berwenang.

Bruce J. Cohen, perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak berhasil untuk menyesuaikan diri dengan nilai dan norma serta kehendak masyarakat.

Sifat Perilaku Menyimpang

Pada dasarnya perilaku menyimpang dapat bersifat positif dan negatif. Penyimpangan sosial dikatakan positif jika penyimpangan berdampak positif terhadap masyarakat dan cenderung diterima di masyarakat. Misalnya, seorang perempuan yang bekerja sebagai sopir truk.

Sedangkan penyimpangan negatif adalah penyimpangan yang tidak sesuai nilai dan norma serta berdampak buruk bahkan menganggu sistem sosial kehidupan masyarakat. Misalnya, mengkonsumsi narkoba, mabuk, pencurian, dan sebagainya.

Contoh perilaku menyimpang tindakan korupsi, tawuran, kenakalan remaja, narkoba, tindakan kriminalitas, pemerkosaan, pelecehan seksual dan lain sebagainya.

Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial merupakan pengawasan dari masyarakat terhadap perilaku seseorang guna menghindari terjadinya pelanggaran aturan dan kekacauan dalam masyarakat. Individu dalam berperilaku dikontrol oleh masyarakat, agar tercipta ketertiban sosial dalam kehidupan masyarakat.

Ciri-ciri dari pengendalian sosial adalah:

1.  Suatu cara atau metode tertentu dalam mengatur masyarakat.

2. Bertujuan untuk mencapai keselarasan dan satbilitas sosial di masyarakat

3. Pengendalian sosial dapat dilakukan oleh kelompok maupun individu.

Bentuk dari pengendalian sosial dapat berupa sanksi, hukuman, gossip, cemoohan, memberikan teguran, memberikan nasihat dan pengarahan dan lain sebagainya.

Jenis Pengendalian Sosial

Tahukah kamu ada berapa jenis pengendalian sosial di masyarakat? Pengendalian sosial dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, diantaranya sebagai berikut.

1. Pengendalian sosial berdasarkan sifatnya. Berdasarkan sifatnya, pengendalian sosial dapat dibagi menjadi 3, yaitu preventif, represif, dan kuratif.

a. Preventif merupakan usaha pengendalian sosial yang dilakukan sebelum adanya pelanggaran atau bertujuan untuk mencegah terjadinya pelanggaran. Bentuk dari pengendalian sosial preventif dapat berupa nasihat, larangan, dan perintah.

b. Represif merupakan usaha pengendalian sosial yang dilakukan saat pelanggaran terjadi atau bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti semula, yaitu sebelum terjadinya pelanggaran nilai dan norma sosial. Pengendalian sosial ini berupa sanksi dan hukuman.

c. Kuratif merupakan usaha pengendalian sosial yang dilakukan setelah terjadinya pelanggaran dan bertujuan untuk memberikan kesadaran para pelaku penyimpangan agar perbuatannya tidak terulang lagi.

2. Pengendalian sosial berdasarkan caranya. Berdasarkan caranya, pengendalian sosial dapat dibagi menjadi 2, yaitu persuasif dan koersif.

a. Pengendalian sosial persuasif menekankan pada usaha untuk mengajak dan membimbing individu setelah terjadinya penyimpangan sosial. Contohnya, seorang guru menasehati muridnya yang ketahuan mencuri uang temannya. Guru berusaha untuk menyadarkan muridnya bahwa mencuri merupakan perbuatan tercela, berdosa, dan berdampak negatif.

b. Pengendalian sosial koersif dilakukan dengan cara memaksa dan kekerasan pada pelaku penyimpangan untuk menimbulkan efek jera pada pelaku pelanggaran. Contohnya penertiban pedagang kaki lima (PKL) oleh satpol PP, dimana penertibannya dilakukan secara paksa dan tak jarang munculnya kekerasan fisik pada pedagang kaki lima.

penertiban PKL
Sumber : tirto,id

Tujuan Pengendalian Sosial

Berdasarkan pembahasan pengendalian sosial diatas, apakah kamu sudah mengetahui tujuan dari pengendalian sosial di kehidupan masyarakat atas adanya perilaku menyimpang? Nah, yuk simak pembahasan di bawah ini terkiat tujuan pengendalian sosial.

1. Mengurangi dan mencegah tindakan penyimpangan sosial.

2. Mewujudkan ketentraman dan keserasian sosial dalam masyarakat.

3. Menyadarkan pelaku terkait perilaku menyimpangnya untuk memperbaiki tingkah lakunya.

4. Membuat pelaku penyimpangan untuk mematuhi kembali nilai dan norma sosial yang berlaku.

5. Mengarahkan masyarakat untuk dapat mematuhi nilai dan norma sosial, baik atas kesadarannya sendiri maupun paksaan dari lembaga pengendalian sosial.

Lembaga Pengendalian Sosial

Lembaga pengendalian sosial bertugas untuk menciptakan ketertiban masyarakat serta menindak perilaku penyimpangan yang ada dengan memberi hukuman atau nasihat.

1. Kepolisian sebagai penegak hukum yang bertugas untuk memelihara ketertiban dan keamanan masyarakat serta menindak perilaku penyimpangan yang menganggu kehidupan masyarakat.

2. Pengadilan sebagai lembaga resmi yang dibentuk pemerintah untuk menegakkan keadilan serta memproses peradilan terhadpa orang yang melanggar aturan atau hukum yang berlaku di masyarakat.

3. Tokoh masyarakat sebagai lembaga pengendalian sosial karena merupakan orang yang berwibawa dan berpengaruh di masyarakat, sehingga dianggap mampu untuk melakukan pengendalian sosial atas adanya penyimpangan sosial di kehidupan masyarakat.

4. Media massa sebagai alat pengendalian sosial dan kontrol sosial dalam perilaku masyarakat. Hal ini dikarenakan, pengendalian sosial dapat memberikan informasi kepada masyarakat luas, dapat memberikan pendidikan masyarakat, sebagai pengawas dan kontrol sosial terhadap pemerintah dan perilaku masyarakat, serta dapat membentuk opini publik terkait isu atau masalah tertentu.

Contoh Gejala Sosial

Gejala sosial adalah kejadian atau fenomena sosial yang terjadi di kehidupan masyarakat, ditandai dengan adanya permasalahan sosial serta disebabkan oleh faktor struktural maupun kultural di masyarakat. Adapun contoh gejala sosial di masyarakat adalah kemiskinan, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pengangguran, penyalahgunaan narkoba, tindakan kriminalitas dan masih banyak lagi.

Baca juga: Konsep Dasar Sosiologi

Nah, dari pembahasan di atas kira-kira kamu udah paham kan apa saja gejala sosial yang terjadi di masyarakat, seperti penyimpangan sosial, stratifikasi sosial, diferensiasi sosial, dan pengendalian sosial. Supaya kamu lebih paham lagi, kamu bisa membaca artikel atau berita yang berkaitan dengan gejala sosial.
Terimakasih sudah berkunjung ke artikel ini. Have a nice day.


Daftar Pustaka

Soekanto, Soerjono dan Budi Sulistyowati. (2014). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajagrafindo Persada

Tim Penyusun Ilmu Sosial. Sosiologi SMA/MA Kelas X Semester 1. Klaten : Viva Pakarindo

Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. (2004). Sosiologi Teks Pengantar danTerapan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group

Artikel Terbaru

Nadhifa

Nadhifa

Mahasiswa Sosiologi Universitas Airlangga 2017.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *