El Nino La Nina, Kondisi Anomali Iklim di Ekuator Pasifik

Wilayah Indonesia mengalami hujan saat musim penghujan. Penentuan awal musim hujan dari tahun ke tahun tidaklah sama persis dengan tahun sebelumnya. Perubahan awal musim ini sering mengakibatkan aktivitas manusia terganggu. Perubahan awal musim ini disebut dengan anomali alam. El Nino dan La Nina contoh dari fenomena anomali alam.

El Nino dan La Nina sedikit banyak memberikan dampak bagi bidang pertanian, perikanan, dan perubahan iklim di suatu wilayah yang dilalui.

Bagaimana sebenarnya fenomena El Nino dan La Nina ini? Supaya lebih jelas, mari kita pelajari bersama-sama ya.

Pengertian ENSO, El Nino dan La Nina

enso
sumber: earth.rice.edu

ENSO (El Nino Southern Oscillation)

Kadang, iklim di bumi mengalami perubahan karena pengaruh pergerakan arus angin dan kondisi upwelling. Namun, ada saatnya kondisi iklim berbeda dengan aturan fase meteorologi. Kondisi ini disebut anomali alam. Salah satu kondisi anomali ini adalah ENSO (El Nino Southern Oscillation).

Fenomena ENSO diketahui sebagai pola iklim anomali yang melibatkan perubahan suhu di perairan dan atmosfer di daerah ekuator Pasifik. Perubahan ini menyebabkan suhu berbeda diatas 20C. ENSO sangat berpengaruh pada tekanan udara di Lautan Pasifik terutama di daerah Tahiti dan Darwin, Australia. Maka, terdapat metode untuk mengamati fenomena ENSO di daerah tersebut yang disebut dengan SOI.

SOI (Southern Oscillation Index) merupakan cara untuk memantau ENSO. Caranya, dengan melihat naik turunnya tekanan udara harian yang ada di antara Tahiti dan Darwin, Australia. Jika nilai fluktuasinya tinggi, kemungkinan akan ada fenomena ENSO. ENSO ini jika menyebar, akan mempengaruhi pola iklim dunia dalam beberapa saat.

Terdapat beberapa fase ENSO yang perlu kita ketahui. ENSO memiliki beberapa siklus dan ada yang patut diwaspadai. El Nino dan La Nina merupakan fase ekstrim dalam siklus ENSO ini. Ada juga Sirkulasi Walker yang akan dijelaskan lebih lanjut.

El Nino

el nino la nina
sumber: bom.gov.au

Dalam bahasa Spanyol, El Nino berarti anak laki-laki. El Nino adalah fase naiknya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur ekuator sehingga menyebabkan perubahan sirkulasi atmosfer daerah tropis.

Biasanya, El Nino terjadi setiap 2 sampai 7 tahun sekali pada bulan November-Januari. Lamanya bisa mencapai belasan bulan. Dampak dari El Nino beragam dan sangat luas. Misal, ketika El Nino terjadi, Indonesia, Filipina, dan Malaysia akan mengalami kekeringan dan kemarau panjang, serta curah hujan turun drastis. Berbeda dengan Indonesia, wilayah Amerika Tengah dan Selatan akan mengalami peningkatan curah hujan yang cukup tajam.

Fenomena El Nino pernah terjadi pada tahun 1997-1998. Yang menyebabkan kemarau panjang di Indonesia.

La Nina

la nina
sumber: bom.gov.au

La Nina adalah episode ENSO yang berlawanan dengan El Nino. Fenomena ini ditandai dengan turunnya suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur ekuator. Penurunan suhunya bisa lebih dari 20C.

Kondisi penurunan suhu di daerah Pasifik akan memberikan dampak perubahan sirkulasi atmosfer di kawasan tropis. Wilayah Indonesia, Malaysia, dan Filipina akan mengalami peningkatan intersitas curah hujan lebih tinggi dari tahun biasanya. Disertai dengan angin dan beberapa badai. Sedangkan wilayah Amerika Latin akan mengalami kemarau panjang dan kekeringan.

Biasanya, La Nina akan terjadi selama 1-3 tahun. Periode akan berulang setiap 3-7 tahun sekali.

Sirkulasi Walker

el nino la nina
sumber: bom.gov.au

Fase yang ketiga pada ENSO adalah fase netral. Periode netral lebih dikenal dengan sebutan Sirkulasi Walker (Walker Circulation). Sirkulasi Walker dimulai dengan suhu air laut yang rendah di daerah Ekuador kemudian bergerak vertikal di Perairan Peru dan menyebabkan fenomena upwelling. Suhu yang rendah akan memiliki tekanan yang tinggi.

Sementara itu, tekanan di wilayah Perairan Indonesia rendah sehingga menyebabkan angin pasat timur dari daerah Peru bergerak ke bagian barat ekuator Samudra Pasifik. Air Laut akan mengalami penguapan karena suhu di bagian barat tinggi. Maka, akan memunculkan titik awan dan hujan di wilayah Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Australia Utara.

Proses Terjadinya El Nino dan La Nina

Fenomena El Nino

Berikut ini akan dijelaskan tahap-tahap terjadinya fenomena El Nino:

  1. Peningkatan suhu permukaan perairan di atas 20C di wilayah tengah dan timur ekuator Samudra Pasifik adalah awal dari El Nino. Kenaikan suhu ini menyebabkan angin pasat yang biasanya bergerak dari timur ke barat melemah. Suhu meningkat menyebabkan penguapan di Samudra Pasifik pun meningkat.
  2. Penguapan yang terus-menerus di Perairan Pasifik akan memicu terbentuknya awan. Akumulasi awan yang banyak berpotensi tingginya curah hujan.
  3. Ketika awan-awan terbentuk di Samudra Pasifik, bagian barat Samudra Pasifik terjadi peningkatan tekanan karena suhu turun. Kondisi ini menghambat terbentuknya awan di bagian timur Indonesia. Sehingga hal ini menyebabkan curah hujan rendah dan terjadi kemarau lebih panjang. Sedangkan wilayah Amerika Latin mengalami curah hujan yang tinggi karena pembentukan awan tidak terhambat.

Fenomena La Nina

La Nina lebih sulit diprediksi daripada El Nino. Namun, beberapa referensi mencoba menjelaskan proses terjadinya La Nina. Berikut ini adalah tahapan fenomena La Nina:

  1. Peristiwa La Nina diawali dengan penurunan suhu di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur daerah ekuator. Pada saat yang bersamaan, terjadi hembusan angin pasat timur yang bergerak ke arah Samudra Pasifik bagian barat dan menyebabkan suhu menghangat.
  2. Adanya arus angin pasat timur yang kencang ke arah barat, menyebabkan perpindahan massa air hangat ke daerah barat. Sehingga akan terjadi penguapan yang meningkat dan terbentuk titik-titk awan. Kondisi ini menyebabkan wilayah Indonesia Bagian Timur dan Australia Utara terjadi peningkatan curah hujan.
  3. Gerakan massa air hangat ke barat dalam jumlah besar berakibat air dingin di Samudra Pasifik bagian timur bergerak ke atas. Peristiwa naiknya massa air dingin ke permukaan laut karena pergantian temperatur disebut upwelling.
  4. Kondisi ini menyebabkan terhambatnya pembentukan awan dan daerah sekitar upwelling yaitu Amerika Latin akan mengalami penurunan curah hujan. Jika kondisi ini berkepanjangan bisa menyebabkan kekeringan.

Dampak Peristiwa El Nino dan La Nina

Fenomena anomali El Nino dan La Nina berpengaruh terhadap dinamika atmosfer bumi dan iklim dunia. Pada tahun 1998 terjadi fenomena El Nino yang menyebabkan kerugian besar terutama negara di Asia Tenggara. El Nino menyebabkan kemarau berkepanjangan, bencana kebakaran hutan, kekeringan, dan kelaparan. Berikut penjelasan beberapa dampak dari El Nino dan La Nina.

Akibat La Nina

Berikut akibat yang ditimbulkan dari peristiwa La Nina:

  1. Menguatnya arus angin pasat timur.
  2. Angin moonsoon juga ikut menguat.
  3. Wilayah Samudra Pasifik bagian timur mengalami penurunan suhu sehingga curah hujan menurun drastis. Hal ini bisa menyebabkan kekeringan dengan cuaca yang dingin.
  4. Wilayah Samudra Pasifik bagian barat akan mengalami kenaikan suhu dan curah hujan tinggi.

Akibat El Nino

Berikut akibat yang ditimbulkan dari peristiwa El Nino:

  1. Melemahnya angin pasat timur karena meningkatnya suhu di Pasifik bagian timur.
  2. Sirkulasi angin Monsoon ikut melemah.
  3. Wilayah Pasifik bagian barat mengalami kekeringan karena curah hujan sedikit.
  4. Wilayah Amerika Latin mengalami peningkatan curah hujan.
  5. Proses kekeringan yang berkepanjangan di kawasan Indonesia bisa menyebabkan penurunan produktivitas pangan, kebakaran hutan, dan kekeringan.

Demikian penjelasan tentang fenomena El Nino dan La Nina yang terjadi di sekitar ekuator Samudra Pasifik. Sebuah pertanyaan, apakah pada bagian samudra lain di bumi ini mengalami fenomena anomali? Tentunya iya, karena di muka bumi ini dinamika atmosfer dan iklim selalu terjadi.

Baca juga: Materi Pola Aliran Sungai

Hal ini tidak lepas dari sirkulasi arus laut, perubahan suhu, perubahan tekanan, pengaruh sabuk Van Allen, dan aliran angin di dunia. Semoga penjelasan ini bisa bermanfaat untuk memahami materi El Nino dan La Nina. Terima kasih.


Sumber:

Bambang Irawan. (2006). Fenomena Anomali Iklim El Nino dan La Nina: Kecenderungan Jangka Panjang dan Pengaruhnya terhadap Produksi Pangan. Jurnal. Vol 24, No 1 hlm 28-45. Bogor: Forum Penelitian Agro Ekonomi

Artikel Terbaru

Avatar

Anava

Seseorang yang menyukai pengetahuan dengan moto hidup ingin bertumbuh bersama lingkungan sekitar. Dia sekarang seorang pendidik, pengajar, dan pembelajar yang sudah lebih dari 8 tahun di bidang pendidikan. Mata Pelajaran Geografi dan Biologi sedang selami saat ini.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *