Cerita Pendek Inspiratif Tentang Bekerja

Dunia kerja menjadi salah satu sumber cerita yang menarik. Bagaimana tidak, kita seringkali mendapatkan pengalaman, pelajaran, dan hikmah ketika bekerja.

Berikut ini adalah kumpulan cerita pendek inspiratif tentang bekerja yang bisa menginspirasi kamu. Baca sampai habis ya!

Bus Kota

Bus kota
Sumber foto: Pexels dari Pixabay

Pulang kerja menjadi momen yang ditunggu, begitu pun dengan Angga. Pemuda 26 tahun itu, sudah menjadi pegawai kantoran sejak 4 tahun lalu. Setelah lulus kuliah, ia langsung diterima kerja di sebuah perusahaan swasta di kota. Menjadi bagian di perusahaan telekomunikasi, membuat ia bangga, kecuali akhir-akhir ini.

Baca juga: Cerpen Inspiratif Ibu

Yang paling ia tunggu-tunggu ialah pukul 6 sore. Di mana ia sudah bisa keluar dari penatnya kantor dan menikmati jalan pulang. Ada beberapa hal di mana ia merasa enggan bercengkrama dengan teman-temannya di kantor, padahal dulu, ia paling senang pergi makan malam bersama teman-temannya sebelum pulang ke rumah. Tidak lain tidak bukan ialah situasi kantor yang berubah. Teman-temannya yang dulu se tim dan saling kenal, satu persatu resign dan digantikan dengan orang baru. Jadi, pilihan terbaik bagi Angga hanyalah menghindari orang-orang kantor.

Ketika di dalam bus kota, ia bertemu dengan Pak Tono, mantan seniornya yang kini sudah resign dari perusahaan tempatnya bekerja. Ia resign bukan karena pindah tempat kerja, tetapi mengajukan pensiun dini karena ingin mengurus cucunya. Tentu saja, Angga sangat senang bisa bertemu kembali dengan Pak Tono. Ia menjabat tangan Pak Tono dengan keras dan memberikan senyum ramahnya.

Setelah saling mempertanyakan kabar, Pak Tono pun mempertanyakan kehidupan Angga di perusahaan tersebut. Karena menurut Angga tidak ada orang lagi yang bisa menampung keluh kesahnya, ia pun bercerita kepada Pak Tono.

“Kamu kangen timmu yang dulu ya?” tebak Pak Tono, lalu Angga pun mengangguk perlahan.

“Coba liat dulu sisi baiknya rekan kerja barumu. Apakah mereka toxic atau sering ngeganggu kamu? Kalau enggak, yaa kamu bisa coba bertahan dulu, pikirin baik buruknya kalau kamu mau pindah divisi atau pindah perusahaan. Jangan ngambil langkah gegabah hanya karena kamu bosen dan kangen karena sesuatu”

Wejangan dari Pak Tono itu membuat Angga terpaku. Ia hampir tak sadar bahwa Pak Tono mau turun dari bus. Saat pintu bus kota terbuka, Pak Tono pun pergi dari samping tempat duduk Angga sambil menepuk pundaknya. Ucapan Pak Tono membuat Angga tersadar, kalau ia hanya bosan dan monoton terhadap apa yang ia punya sekarang.

My Internship My Adventure

Menjadi anak magang yang dibayangkan orang-orang mungkin memfotocopy atau membeli makanan. Tapi tidak dengan Shasha. Ia mendapatkan kesempatan magang di salah satu startup bergengsi dan ia merasa berbunga-bunga bak mendapatkan kabar baik yang telah ditunggu begitu lama. Sehari-hari ia membantu perkembangan bisnis perusahaan melalui channel social media.

Selama satu bulan ia bekerja, ia seperti anak magang lainnya yang berbuat salah. Suatu waktu, ia diberikan tugas untuk mengelola akun Instagram, tetapi ternyata Shasha lupa mengonfirmasi ke atasan apakah konten tersebut sudah disetujui atau belum. Alhasil atasan Shasha pun menegurnya secara langsung.

“Lain kali, tanya aku dulu ya, kalau aku kelupaan terus tanya aku aja. Jangan sampe udah di upload dan ternyata kontennya salah kayak gini,”

“Iya, Kak…” dengan lunglai dan bersedih Shasha merespon atasannya.

Setelah itu, ia langsung mengurung diri di kamar mandi kantor. Menyesali perbuatannya dan merasa kalau ia nggak bisa diandalkan.

Keesekokan harinya, ia datang ke kantor dengan mata yang bengkak. Hanya satu kesalahan kecil saja, Shasha merasa hidupnya hancur. Atasannya yang peka terhadap Shasha pun mengajak Shasha makan siang bersama.

Awalnya Shasha malu-malu dan ingin menolak, tapi akhirnya ia pun menyetujuinya. Makan siang itu hanya berisi percakapan biasa saja, tapi kemudian atasannya pun meminta maaf kalau kemarin menyinggung perasaan Shasha dan membuatnya kepikiran. Shasha pun meminta maaf kalau ia masih bersikap keanak-anakan.

“Tenang aja, Sha. Wajar kok kalo magang banyak salah. Jadiin pengalaman dai perjalanan kehidupan aja. Semangat terus yaa!” ucapan semangat dari atasannya itu pun membuat Shasha bergairah kembali. Ia tak henti-hentinya berterima kasih dan tersenyum kepada atasannya, atas kebaikannya, traktiran makan siangnya, dan menegurnya jika salah.

Baca juga: 10 Cerita Inspiratif Kehidupan Nyata

 Manager Sales

manager sales
Sumber foto: Aymanajed dari Pixabay

Menjalani proyek sales memang sudah jadi bagian dalam hidupku. Gimana nggak, sudah lebih dari 6 tahun aku berada di divisi yang sama. Dan baru tahun inilah aku naik jabatan menjadi manager sales di perusahaan produksi makanan.

Banyak hal-hal yang sebenernya sangat sulit kulakukan. Apalagi kalau penjualan lagi menurun. Banyak orang-orang yang menyalahkanku jika itu gagal, dan sedikit orang yang mengapresiasi usahaku jika aku berhasil meraih omset. Suatu ketika penjualan produk menurun drastis. Ridwan teman kerjaku sempat menggosipkan tentang aku di kantor.

“Tau nggak sih, kenapa penjualan kita turun? Karena Falih dipilih jadi manager. Harusnya kalo dia nggak kompeten nggak perlu dilantik jadi manager kan?”

Di balik tembok aku tersenyum mendengar ocehannya. Lalu aku berjalan ke arahnya dan dua orang lainnya.

“Sepertinya aku sudah menjelaskan secara rinci alasan mengapa sales turun dan gimana penanganannya di meeting tadi. Oh atau kalian nggak dengerin meeting ya?”

Mereka langsung terdiam, kikuk dan tak tahu harus ngapain lagi. Aku puas mengalahkan mereka sehingga mereka diam seribu bahasa.

Seminggu kemudian aku membuktikan kerja kersaku tak sia-sia. Penjualan naik sampai 100%. Orang-orang pun mengucapkan selamat kepadaku. Begitu pula Ridwan dan teman-temannya yang membicarakanku. Ia pun meminta maaf karena ucapannya yang lancing. Dengan hati terbuka aku pun memaafkannya.

Jangan Takut Kerja Sama!

Warni pusing sendiri ketika melihat to-do-list yang harus ia kerjakan hari ini. Salah satu yang harus ia selesaikan adalah membuat planning untuk marketing perusahaan selama satu bulan ke depan. Tetapi ia bingung harus mulai dari mana.

Ia pun melihat teman sekantornya yang lain. Masing-masing sedang sibuk dengan laptopnya. Akhirnya ia pun menjadi enggan untuk bertanya. Hingga waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, ia masih belum bisa menyusun planning marketing. Tiba-tiba, bos pun menghampiri Warni.

“Ni, gimana planning udah beres?”

Warni seolah kehilangan kata-kata. Raut wajahnya panik dan bingung menyusun kata untuk menjawab pertanyaan si Bos.

“Belum, Pak” jawab Warni pelan.

“Coba kamu brainstorming dan kerja sama bareng seluruh tim marketing. Ajak mereka. Sore ini minimal udah ada draft nya ya.”

Warni mengangguk paham. Seharusnya ia melakukan itu sejak tadi. Dan benar saja, ternyata dengan bekerja sama menyusun tugas dengan seluruh tim bisa memperingan pekerjaannya. Tim pun tidak keberatan jika harus bekerja sama. Alhasil, draft planning tersebut pun berhasil dikerjakan Warni.

Dari kejadian yang dialaminya hari ini, Warni sadar. Kalau pemecahan masalah jauh lebih baik jika dikerjakan secara bersama dibandingkan sendirian.

Kerja Kala Pandemi

Kerja Kala Pandemi
Sumber foto: MaximeUtopix dari Pixabay

Namanya Indah, Indah Lestari. Sejak kecil ia sudah belajar mandiri, dan kini pun menjalani kehidupan dengan bekerja di ibukota. Setiap hari ia mengendarai transportasi umum menuju ke kantor, namun semua itu berubah sejak ada pandemik dan pemerintah menerapkan pembatasan social. Apalagi, kantornya harus tetap bekerja di kantor. Alhasil, mau tak mau ia harus menggunakan ojek online atau pun taxi online supaya ia tetap bisa bekerja di kantor.

Tentunya, hal itu menguras dompet Indah. Uang transportasi bertambah menjadi tiga kali lipat. Belum lagi bahan makanan yang juga ikut melambung tinggi. Indah pun terpaksa harus mengambil tabungannya di celengan.

Suatu pagi, Indah ingin memesan taxi online dari kontrakan ke kantor. Tetapi, orderannya di cancel berkali-kali. Indah mulai panik, ia melihat jam di pergelangan tangan kirinya, takut kalau ia nggak keburu ke kantor. 15 menit berselang ia akhirnya mendapatkan supir ojek dengan harga yang cukup melambung tinggi karena di jam-jam sibuk.

Sesampainya di kantor, Indah dikejutkan dengan permintaan atasannya yang mendadak. Ia diminta untuk pergi ke kantor cabang siang ini. Jaraknya cukup jauh dari kantor utama. Tanpa persiapan, Indah pun menyetujuinya.

Setelah kesialan yang ia rasakan, ternyata, ia mendapatkan pesan dari atasannya.

“Thank’s ya Indah. Bonus kamu udah cair, baru aja di-transfer”

Indah pun bernapas lega. Untungnya Tuhan memberkahi setiap langkahnya dengan memberikan rezeki yang berlimpah. Kini, ia bisa pulang ke rumah dengan hati yang cukup tenang.

Baca juga: 10 Contoh Cerita Fabel yang Akan Menginspirasimu

Kesalahan Besar

‘Mulailah bisnis, walau dari nol’

Slogan itu sangat membuat aku muak. Karena hanya berisi harapan palsu bagi para pemimpi yang berharap seperti Chairil Tanjung, Steve Jobs, dan pengusaha-pengusaha sukses lainnya. Termasuk aku yang dahulu hanya menelan mentah-mentah kalimat tersebut.

Dulu, aku sangat berambisi untuk menjadi pengusaha boneka. Dengan modal yang nggak seberapa, aku nekat memulai usaha. Target pasarku ialah anak-anak kecil dan kujual ke ibu-ibu komplek. Tapi usahaku hanya berjalan lancar kurang lebih satu bulan. Aku terpaksa harus gulung tikar karena tak mampu lagi membayar biaya produksi yang harganya lumayan besar.

Aku pun tidak tamat kuliah karena terlalu berambisi jadi pengusaha. Kini, usahaku hancur dan aku pun tak punya gelar sarjana. Setelah kumerenungi nasibku, kini aku mengerti.

Bisnis tidak dimulai dari nol. Karena perlu ada modal yang besar, business plan, perencanaan yang matang, strategi marketing, networking, dan lain sebagainya. Aku pun menghadiri seminar-seminar bisnis dan belajar banyak dengan orang-orang lalu mempraktikannya.

Dalam dua tahun, usahaku membuahkan hasil. Produk boneka yang dahulu sempat padam, kini sudah mempunyai pabrik sendiri dan memproduksi ribuan boneka setiap harinya. Tak lagi aku menawarkan dari pintu ke pintu, tetapi pelanggan sendirilah yang mencari boneka buatanku.

Memang benar, kalimat ‘mulailah bisnis walau dari nol’ adalah kesalahan yang besar.

Rumah Sakit

Rumah Sakit
Sumber foto: StockSnap dari Pixabay

Sebagai lulusan keperawatan, Akia selalu ingin langsung bekerja. Ratusan lamaran telah ia kirim, tetapi hanya menyangkut sampai tahap interview saja. Sampai suatu hari ia lolos tahap administrasi di rumah sakit swasta. Ia bertekad untuk berusaha semaksimal mungkin di tahap interview supaya bisa lolos kali ini.

Hari interview pun tiba. Saat itu hari Senin dan ia datang di rumah sakit swasta tersebut. Saat ia memasuki rumah sakit tersebut ia merasakan nuansa nyaman dan mewah, walaupun banyak orang-orang berlalu lalang. Saat kali pertama, ia pun merasa jatuh cinta pada rumah sakit tersebut.

Akia pun diarahkan untuk menuju ruangan menejerial di lantai lima. Saat ia sampai di ruang tunggu, sudah ada 3  kandidat lain.  Ia pun duduk di sofa ruang tunggu.

Tiba-tiba datang office boy yang hendak mengepel. Dengan membawa seember penuh air dan pel di tangan kanannya, ia terlihat kerepotan. Lalu saat mendekati para kandidat di sofa ruang tunggu, office boy tersebut pun tersandung kakin sofa. Otomatis ember yang dipeganya terlempar dan tumpah mengenai baju para kandidat, apalagi baju Akia.

Sontak, tiga orang kandidat lain pun berdiri. Tak terima baju mereka terciprat, mereka pun meluapkan amarah ke office boy tersebut. Sementara Akia hanya terdiam kaku karena masih kaget. Hampir Sebagian bajunya basah, karena ia duduk di pinggir.

“Gimana sih Pak, kerja yang bener dong.”

“Tau nih, saya mau interview, kalau dicap jelek gimana”

“Dasar office boy nggak guna!” satu orang dari mereka sampai mendorong office boy tersebut.

Akia pun tersadar. Ia langsung membantu office boy tersebut untuk berdiri. Office boy pun berkali-kai meminta maaf, tetapi ketiga kandidat tersebut malah semakin murka. Kecuali, Akia. Ia dengan tenang segera pergi ke toilet membersihkan diri. Sampai ketika ia datang kembali ke ruang tunggu. Ia didatangi oleh pria berjas putih rapi selayaknya dokter spesialis. Orang itu menjabat tangan Akia dengan mengucapkan selamat.

“Selamat ya Akia Putri, kamu berhasil menjadi bagian dari rumah sakit ini”

Setelah diliat kembali, ternyata dokter tersebut ialah office boy yang tadi ia temui. Betapa kagetnya ia ketika ketiga kandidat lainnya langsung disuruh pulang karena gagal dalam uji kepribadian. Dokter tersebut ialah pemilik rumah sakit yang sengaja memberikan uji kepribadian untuk melihat seberapa serius dan sabar menjadi perawat di rumah sakit ini.

Prasangka

Seminar para investor pada hari ini lebih ramai dari tahun lalu. Sebagai CEO di sebuah perusahaan start up, aku seringkali menghadiri seminar untuk unjuk gigi agar perusahaanku dilirik para investor. Aku mulai dengan presentasi mengenai perusahaanku, menjelaskan outcome yang akan diterima investor dan lain sebagainya. Hingga sore tiba, belum ada yang tertarik dengan perusahaanku.

Aku merasa badanku lemas, kantukku semakin kuat karena sudah berhari-hari aku kurang tidur untuk mempersiapkan presentasi ini. Hingga akhirnya pun aku terlelap di sofa belakang panggung.

Saat aku tersadar, ternyata aku tertidur 30 menit. Aku pun segera bangun dari sofa dan mencari tim ku, ternyata mereka sudah pulang. Lalu aku tak sengaja melihat Khansa, sepupuku yang juga mengikuti seminar ini. Khansa adalah anak omku yang terlahir kaya raya, berbeda dengan ibuku yang sangat sederhana. Dengan wajah sumringah Khansa menjabat seorang lelaki yang merupakan investor. Investor itu adalah investor yang kuidam-idamkan. Setelah Khansa sendiri, aku pun menghampirinya.

“Rupanya ada yang dapet investor, pasti dapet kenalan dari bapak ya?” ujarku menyindir.

“Jangan jadikan koneksi sebagai alasan buat berprasangka ke orang. Kamu sendiri, kemana ketika pasca persentasi habis? Malah tidur kan? Sementara aku terus cari cara biar investor mau membantuku,” balasnya dengan tajam dan kuakui itu cukup menohok hatiku.

“Cobalah kamu belajar dari keberhasilan seseorang,” lanjutnya lagi, lantas pergi meninggalkanku.

Entah mengapa saat itu rasanya campur aduk. Badanku tak bisa lagi menopang tubuhku dan tak terasa air mata menetes di pipiku. Kuakui, aku bersifat arogan dan tak tahu malu.

Bekerja di Negeri Sakura

Bekerja di Negeri Sakura
Sumber foto: sofi5t dari Pixabay

Matanya membulat, hatinya berdegup kencang, melihat surat email yang ia terima dari sebuah perusahaan besar di Jepang. Dalam email tersebut, tertulis dengan jelas namanya, ‘indira Cantika’ diterima bekerja di sana dengan gaji dan benefit yang luar biasa.

Indira sangat antusias dengan pemberitahuan tersebut. Hari selanjutnya ia meminta izin untuk mempersiapkan keberangkatannya ke keluarga. Ia harus meninggalkan kedua adik kembarnya bernama Rana dan Rani yang kini berusia 16 tahun. Ia juga harus merelakan pergi dari ibunya yang selama ini selalu berjuang sendiri sebagai single parents. Indira janji bahwa pekerjaannya di Jepang akan membantu ekonomi keluarganya.

Seminggu berselang Indira pun sampai di Jepang. Sebagai lulusan S2 teknologi pangan,ia diarahkan untuk menjalankan training cuma 2 minggu. Berbeda dengan pegawai baru lainnya yang menghabiskan waktu sekitar sebulan. Hari pertama di kantor, ia merasa shock karena perbedaan lingkungan kerja yang berbeda 180 derajat dengan di Indonesia.

Jika di Indonesia ada karyawan baru pasti disambut dengan ramah. Tapi di perusahaannya kali ini, hanya sebatas sapa dan langsung diarahkan untuk bekerja. Tentu saja ada yang lebih parah, sifat individualis masyarakatnya sangatlah tinggi. Terkadang membuat Indira geleng-geleng kepala melihat rekan kerjanya.

Sampai suatu hari, Indira menangis diam-diam di toilet kantor. Project yang sedang dijalaninya cukup sulit dan ia kehabisan cara untuk menyelesaikan masalahnya. Sementara tuntutan terus menerus ia terima. Lalu bayangan tentang keluarganya pun muncul satu persatu. Rana dan Rani yang ingin kuliah dan Ibu yang ingin buka toko kue. Ia pun menghentikan isaknya.

“Nggak, nggak. Aku gak boleh cengeng. Aku kuat lebih dari yang aku duga” ujarnya pada diri sendiri.

Ia pun memeluk dirinya sesaat dengan menyilangkan tangannya di pundak. Mengatur napas agar tenang, lalu keluar dari toilet. Hari itu, ia jalani dengan semangat kembali. Tak peduli rintangan apalagi yang akan ia hadapi.

Passion

Arya menjalani hari-hari sebagai pegawai korporat di perusahaan otomotif. Masuk jam tujuh pagi dan pulang pukul 5 sore. Sebuah rutinitas yang selalu berulang, bertahun-tahun. Kini usianya hampir menginjak angka 30 tahun. Di umur seperti itu, ia mulai bosan dengan apa yang ia jalani. Tetapi, ia tidak serta merta untuk langsung mengajukan resign.

Untuk mengisi kekosongan dan kebosanannya ia menyempatkan diri untuk memperdalami fotografi. Ia membeli kamera dari jerih payahnya dan seringkali belajar untuk mengumpulkan portofolio fotografi. Ia rela menghabiskan waktu istirahatnya untuk belajar dan hunting foto.

Akhirnya, Arya pun menemukan passion terbaru yang bisa menyelamatkannya dari rutinitas yang membosankan itu. Ia seringkali mendapatkan klien dengan project-project besar. Seperti fotografi artis, pernikahan, dan acara-acara besar lainnya. Sampai ketika ia sudah bisa menghasilkan banyak uang dari aktivitas favoritnya itu, Arya pun memutuskan untuk resign.

“Kenapa Mas Arya ingin resign? Padahal bakal ada promosi bulan depan,” tanya HRD kepadanya.

“Saya ingin menyelamatkan jiwa saya dengan melakukan hal yang ingin saya lakukan, Mba. Saya juga sudah memikirkan matang dari 8 bulan yang lalu. Saya tidak serta merta resign tanpa rencana. Saya ingin mengembangkan bisnis fotografi saya,” ujar Arya tegas. HRD tersebut pun mau tak mau menyetujuinya.

Baca juga: 10 Contoh Cerita Fantasi

Arya yakin, itu adalah keputusan yang tepat. Yang terpenting ialah ia tahu apa yang harus ia lakukan setelah resign; ada passion yang harus ia kejar dengan berpegang pada pekerjaan yang ingin ia lakukan.

Gimana? Udah baca semua belum nih? Ada yang cocok dengan yang kamu alami nggak? Semoga 10 cerita pendek inspiratif tentang bekerja ini bisa bikin kamu  nambah semangat dalam bekerja dan juga bisa menginspirasimu.

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Suka apapun tentang dunia tulis menulis dan buku. Menamatkan kuliah di Sastra Indonesia UNJ dan kini menjadi content writer.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *